
JAKARTA — Kinerja PT Indosat Tbk. (ISAT) dinilai tetap prospektif di tengah sengitnya kompetisi industri telekomunikasi tanah air. Analis melihat adanya potensi penguatan kinerja keuangan dan valuasi saham yang masih terbuka lebar, didorong oleh pertumbuhan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU), ekspansi bisnis kecerdasan buatan (AI), serta iklim persaingan tarif data yang mulai stabil.
Emiten telekomunikasi ini mengawali tahun 2026 dengan catatan positif. ISAT berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal I/2026. Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), meskipun mengalami penurunan 22,4% jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/qoq).
Analis CGS International, Bob Setiadi, menyatakan bahwa capaian tersebut secara umum sejalan dengan ekspektasi pasar. Pertumbuhan laba didukung oleh peningkatan pendapatan serta kualitas pelanggan yang semakin baik melalui kenaikan ARPU.
Baca Juga: Indosat Ungkap 89% Perusahaan Belum Siap Hadapi Serangan Siber
“Meski realisasi laba bersih sedikit di bawah proyeksi kami, yakni 22% dari estimasi setahun penuh 2026, hasil ini tetap sejalan dengan konsensus Bloomberg,” ujar Bob dalam risetnya, Selasa (19/5/2026).
Sepanjang kuartal I/2026, total pendapatan ISAT menyentuh Rp15,2 triliun, tumbuh 12,1% secara tahunan. Pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan ARPU gabungan menjadi Rp45.200, atau melonjak 15,3% yoy dan 2,7% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Indosat (ISAT) Gandeng Lintasarta Masuk Bisnis Dark Fiber
Dari sisi basis pengguna, jumlah pelanggan ISAT tercatat stabil di angka 94 juta. Namun, antusiasme konsumsi data pelanggan terus meningkat, ditandai dengan trafik data yang menembus 4.906 petabyte (PB), tumbuh signifikan sebesar 25,1% secara tahunan.
Efisiensi operasional juga terjaga dengan catatan EBITDA sebesar Rp7,2 triliun, tumbuh 13% yoy. Manajemen berhasil mengimbangi tekanan kenaikan biaya tenaga kerja melalui optimalisasi pendapatan. Kendati demikian, perusahaan tetap mencermati beban bunga yang meningkat ke level Rp1,2 triliun atau naik 20,3% secara kuartalan, serta pengeluaran lainnya sebesar Rp109 miliar.
Baca Juga: Pertumbuhan Data Indosat Region Jawa Timur 15,4% pada Kuartal I/2026
Sektor baru yang mulai menjanjikan adalah kecerdasan buatan (AI). ISAT mencatatkan pendapatan AI Neocloud sebesar US$16 juta pada kuartal I/2026. Ini merupakan langkah awal yang krusial menuju target pendapatan AI sebesar US$50 juta hingga US$60 juta sepanjang tahun 2026.
Manajemen ISAT optimistis tren kenaikan ARPU akan berlanjut, didorong oleh tingginya konsumsi data dan persaingan industri yang lebih sehat. Integrasi layanan dengan Gemini AI milik Google diharapkan menjadi strategi jitu untuk meningkatkan loyalitas pelanggan sekaligus menekan tingkat churn.
Dalam pemaparan kepada analis, ISAT mempertahankan target pertumbuhan pendapatan dan EBITDA di kisaran mid to high single digit. Namun, dengan tren bisnis yang semakin positif pada April 2026, manajemen menyatakan akan meninjau kembali proyeksi tersebut setelah semester I/2026 berakhir.
Terkait ekspansi jaringan, belanja modal (capex) ISAT melonjak 60% yoy menjadi Rp4,2 triliun pada kuartal I/2026. Peningkatan ini dilakukan lebih dini guna memperkuat kualitas jaringan sepanjang tahun. Walaupun capex awal tahun meningkat tajam, perusahaan tetap mematok target total belanja modal 2026 di angka Rp13 triliun, di luar kebutuhan tambahan spektrum 5G.
ISAT juga menyambut positif kebijakan spektrum terbaru pemerintah. Dengan harga dasar spektrum 60%-70% lebih murah dibandingkan sebelumnya, hal ini diharapkan dapat menekan potensi perang harga antaroperator saat proses tender berlangsung.
“Kami mempertahankan rekomendasi add untuk saham ISAT dengan target harga Rp2.540 per saham. Valuasi ISAT saat ini masih menarik karena diperdagangkan pada EV/EBITDA 3,9 kali, di bawah rata-rata historis lima tahunnya,” tambah Bob.
Meskipun memiliki prospek cerah, investor tetap disarankan untuk memantau sejumlah risiko, seperti kenaikan biaya pemasaran, belanja modal tambahan untuk lelang spektrum 5G, serta eskalasi biaya pengembangan AI. Di sisi lain, meredanya perang tarif data seluler dan perbaikan daya beli pelanggan diproyeksikan menjadi katalis positif yang mendukung kenaikan harga saham ISAT di masa depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada kuartal I/2026 dengan laba bersih mencapai Rp1,5 triliun, tumbuh 13,7% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar Rp15,2 triliun, peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) menjadi Rp45.200, serta lonjakan trafik data sebesar 25,1%. Selain itu, efisiensi operasional yang terjaga dan ekspansi ke sektor kecerdasan buatan (AI) melalui layanan Neocloud menjadi faktor kunci dalam mendukung stabilitas bisnis perusahaan di tengah kompetisi industri telekomunikasi.
Analis menilai prospek saham ISAT tetap menarik dengan target harga Rp2.540 per saham dan valuasi yang masih berada di bawah rata-rata historis. Optimisme ini didukung oleh iklim persaingan tarif data yang semakin sehat serta kebijakan harga spektrum yang lebih kompetitif dari pemerintah. Meskipun terdapat potensi risiko dari peningkatan belanja modal untuk jaringan 5G dan pengembangan AI, investor tetap melihat katalis positif dari perbaikan daya beli pelanggan dan strategi integrasi layanan digital yang dilakukan perusahaan.