Prabowo Soroti Ketergantungan Impor Pangan Meski Rakyat Desa Tak Pakai Dolar

Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan berbagai komoditas strategis, mulai dari liquefied petroleum gas (LPG), kedelai, bawang putih, hingga gandum. Tingginya ketergantungan ini membuat stabilitas ekonomi domestik menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Advertisements

Menanggapi kekhawatiran publik, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa masyarakat di pedesaan tidak perlu cemas terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, aktivitas ekonomi warga desa tidak bersinggungan langsung dengan mata uang dolar AS.

“Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu pun, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” ujar Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).

Meskipun Presiden berusaha menenangkan publik, realitanya banyak komoditas yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat desa masih sangat bergantung pada impor. Akibatnya, pelemahan nilai tukar rupiah justru memberikan tekanan nyata terhadap sistem pangan nasional dan daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.

Advertisements

Baca juga:

  • BI: Cadangan Devisa RI Masih Kuat untuk Jaga Stabilitas Rupiah
  • Dolar AS Tembus Rp 17.700, Rupiah Kian Jeblok ke Level Terburuk Sepanjang Masa
  • Manufaktur RI Terancam Terpuruk Imbas Rupiah Melemah, 70% Bahan Baku Masih Impor

Ketika rupiah melemah, biaya impor untuk bahan pangan dan kebutuhan produksi akan melonjak. Kondisi ini pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen akhir. Dosen Sosioekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, menekankan bahwa kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi mengguncang ketahanan pangan nasional.

Hani menjelaskan bahwa dampak depresiasi rupiah terhadap harga pangan sangat dipengaruhi oleh kecukupan pasokan domestik. Komoditas dengan stok yang melimpah cenderung lebih stabil, sementara komoditas dengan pasokan terbatas sangat sensitif terhadap perubahan kurs.

“Komoditas yang paling rentan antara lain daging, telur, dan susu. Kebutuhan ini sulit digantikan, sehingga lebih sensitif terhadap dampak depresiasi rupiah,” kata Hani, Selasa (19/5).

Masalah ini berakar pada struktur pangan nasional yang masih belum mandiri. Saat produksi dalam negeri belum mampu mencukupi permintaan pasar, impor menjadi satu-satunya jalan keluar untuk menjaga ketersediaan pasokan. Namun, pelemahan rupiah membuat biaya impor menjadi jauh lebih mahal karena transaksi internasional dilakukan dengan dolar AS. Sebagai ilustrasi, importir harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk volume barang yang sama saat nilai tukar rupiah melemah, yang kemudian memicu inflasi harga barang di dalam negeri.

Daftar Komoditas Utama yang Bergantung pada Impor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang tahun 2025, ketergantungan impor pangan berbasis dolar AS masih cukup tinggi:

1. Gandum
Gandum menjadi komoditas dengan tingkat ketergantungan tertinggi. Indonesia belum memiliki produksi domestik, sehingga seluruh kebutuhan sebesar 11,6 miliar kilogram harus dipenuhi melalui impor. Total nilai impor komoditas gandum dan serealia mencapai US$ 3,28 miliar atau setara Rp58,1 triliun dengan kurs Rp17.730 per dolar AS.

2. Bawang Putih
Sebanyak 93% kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi dari impor. Dari total kebutuhan 565,8 juta kilogram, hanya 39,4 juta kilogram yang mampu diproduksi secara lokal. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan swasembada bawang putih dapat tercapai dalam empat hingga lima tahun ke depan.

3. Kedelai
Kedelai, sebagai bahan baku utama tahu dan tempe, juga masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Sebanyak 79,2% atau sekitar 2,5 miliar kilogram dari total kebutuhan 3,2 miliar kilogram harus diimpor dengan nilai mencapai US$ 1,18 miliar atau Rp20,92 triliun.

4. Garam
Produksi garam domestik belum mampu menutupi seluruh kebutuhan industri dan konsumsi. Dari total kebutuhan 3,7 juta ton, sebanyak 2,67 juta ton atau 72,1% masih harus didatangkan dari impor dengan nilai mencapai Rp2,07 triliun.

5. Daging Merah
Pemenuhan kebutuhan daging merah nasional belum optimal. Sekitar 45% atau 408,6 juta kilogram dari total kebutuhan 907,7 juta kilogram masih dipenuhi melalui jalur impor.

6. LPG
Selain pangan, ketergantungan impor terjadi pada sektor energi, yakni LPG. Indonesia masih mengimpor 79,6% kebutuhan LPG atau sekitar 7,49 juta ton dari total kebutuhan 9,41 juta ton. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa keterbatasan bahan baku menjadi kendala utama dalam mengurangi beban impor energi rumah tangga ini.

Ringkasan

Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi strategis, seperti gandum, kedelai, bawang putih, garam, daging, hingga LPG. Tingginya ketergantungan ini menyebabkan ekonomi nasional rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah, karena transaksi impor internasional dilakukan menggunakan dolar AS.

Meskipun Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa masyarakat pedesaan tidak perlu khawatir terhadap pelemahan rupiah karena aktivitas ekonomi mereka tidak bersinggungan langsung dengan dolar, para pakar memperingatkan adanya risiko inflasi. Kenaikan biaya impor akibat depresiasi rupiah berpotensi memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen akhir, yang dapat mengguncang stabilitas ketahanan pangan nasional jika produksi domestik tetap rendah.

Advertisements