Survei KIC: Anak Muda Kini Lebih Pilih Kerja Swasta daripada PNS

Survei terbaru dari Katadata Insight Center (KIC) mengungkapkan fenomena menarik di kalangan generasi muda Indonesia. Saat ini, minat anak muda untuk berkarier di sektor swasta jauh lebih tinggi dibandingkan menjadi pegawai negeri atau bekerja untuk instansi pemerintah. Tren ini muncul di tengah sorotan publik terhadap kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, serta mantan konsultan kementerian, Ibrahim Arief (Ibam).

Advertisements

Berdasarkan survei bertajuk Pandangan Kaum Muda terhadap Kasus Nadiem dan Ibam, sebanyak 88,3 persen responden menyatakan lebih memilih bekerja di sektor swasta meskipun ditawarkan pendapatan yang setara dengan posisi ASN. Selain itu, 89,1 persen responden yang saat ini sudah berkarier di perusahaan swasta secara tegas menolak ajakan untuk menjadi tenaga ahli atau konsultan bagi pemerintah.

Pihak KIC mencatat bahwa responden lebih memilih kenyamanan dan keamanan karier di perusahaan swasta daripada terlibat dalam proyek pemerintah. “Sebagian besar responden memilih tetap bertahan di perusahaan saat ini, meskipun ditawarkan gaji dan insentif yang lebih tinggi untuk menjadi tenaga ahli atau konsultan bagi pemerintah,” tulis KIC dalam laporannya pada Senin (18/5).

Survei ini melibatkan 256 responden dengan mayoritas berlatar belakang pendidikan sarjana. Secara demografis, responden didominasi oleh generasi milenial (30-45 tahun) sebesar 78,5 persen, sisanya berasal dari Gen Z. Sebagian besar responden berdomisili di Pulau Jawa, terutama DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dari sisi literasi informasi, 80 persen responden mengaku mengikuti perkembangan kasus yang menjerat Nadiem dan Ibam secara aktif.

Advertisements

Baca juga:

  • Survei KIC: Mayoritas Anak Muda Anggap Nadiem dan Ibam Alami Kriminalisasi
  • Survei KIC: Kasus Nadiem dan Ibam Buat Anak Muda Takut Bekerja dengan Pemerintah

Pengambilan data dilakukan secara daring pada 15-17 Mei 2026. Survei ini dilaksanakan pasca-putusan Pengadilan Tipikor Jakarta yang memvonis Ibrahim Arief dengan hukuman empat tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Sementara itu, Kejaksaan Agung menuntut Nadiem Makarim dengan hukuman 18 tahun penjara, denda Rp 1 miliar, serta kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp 5,6 triliun.

Menanggapi kasus tersebut, Ibrahim Arief menilai bahwa perkara yang menimpanya telah menjadi preseden buruk bagi ekosistem kerja sama antara tenaga profesional dan pemerintah. Sebagai tersangka kasus pengadaan laptop sejak Juli 2025, Ibam menuntut transparansi. Dalam peluncuran bukunya berjudul Kriminalisasi Kebijakan pada 28 April lalu, ia menyebut ada sekitar 15 juta konsultan di tanah air yang kini merasa gelisah. Menurut Ibam, banyak pihak merasa takut bahwa masukan profesional mereka nantinya akan dianggap sebagai tindakan kriminal.

Di sisi lain, Nadiem Makarim mengungkapkan kekecewaan mendalam atas tuntutan pidana yang totalnya mencapai 27,5 tahun. Ia menganggap tuntutan tersebut tidak proporsional dan menegaskan bahwa berdasarkan fakta persidangan, tidak ditemukan unsur korupsi dalam proses pengadaan Chromebook periode 2020-2022. “Yang lebih menyakiti hati saya adalah nilai uang pengganti setelah saya mengabdikan diri selama 9-10 tahun kepada negara,” ujar Nadiem selepas persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/5).

Nadiem menilai tuntutan hukum terhadap dirinya merupakan respons atas upayanya membuka kebenaran di meja hijau. Ia juga memandang hal ini sebagai bentuk perlawanan terhadap semangat anak muda yang ingin membawa transparansi melalui pemanfaatan teknologi di pemerintahan. Karena itu, Nadiem mengajak generasi muda untuk terus mengawal proses hukum ini agar ketidakadilan dalam sistem pemberantasan korupsi dapat terbuka dan teratasi dengan jujur.

Ringkasan

Survei Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan bahwa mayoritas anak muda Indonesia saat ini lebih memilih berkarier di sektor swasta dibandingkan menjadi pegawai negeri atau tenaga ahli pemerintah. Sebanyak 88,3 persen responden menyatakan tetap memilih sektor swasta meskipun ditawarkan pendapatan yang setara dengan posisi ASN. Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran generasi muda terhadap risiko hukum dan persepsi negatif terkait kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan pejabat pemerintah.

Kajian ini dilakukan di tengah sorotan publik terhadap kasus pengadaan laptop Chromebook yang menjerat mantan Menteri Nadiem Makarim dan konsultan Ibrahim Arief. Kasus tersebut dianggap menciptakan preseden buruk yang membuat para profesional merasa takut terlibat dalam proyek pemerintah karena risiko kriminalisasi kebijakan. Hasil survei juga menegaskan bahwa anak muda lebih mengutamakan kenyamanan dan keamanan karier di perusahaan swasta daripada terlibat dalam instansi pemerintah.

Advertisements