
Jakarta – Pemerintah baru saja mengumumkan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus untuk ekspor komoditas strategis, PT Danantara Sumber Daya Indonesia. Kebijakan ini sempat memicu reaksi di pasar modal, yang tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Merespons hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pasar bereaksi karena belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang dari kebijakan tersebut.
Purbaya menilai, penurunan IHSG pada Rabu (20/5) merupakan bentuk ketidakpastian investor. Namun, ia optimistis tren pasar akan berbalik positif seiring dengan meningkatnya pemahaman pelaku pasar mengenai manfaat kebijakan ini bagi kinerja emiten di masa depan.
“Mungkin investor belum menangkap dampak sebenarnya. Biasanya jika ada ketidakpastian, pasar cenderung melakukan aksi jual. Namun, ketika mereka memahami manfaatnya, harga saham justru berpotensi menguat,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5).
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa kehadiran badan ekspor baru ini dirancang untuk meminimalisir praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari sebenarnya. Selama ini, terdapat celah di mana sebagian keuntungan perusahaan berpotensi tidak tercatat secara transparan dalam laporan keuangan domestik karena dialihkan melalui entitas di luar negeri.
“Dengan adanya badan ekspor ini, praktik under-invoicing akan tertutup. Keuntungan yang selama ini mungkin tidak masuk ke kas perusahaan, kini harus tercermin secara murni dalam laporan penjualan,” ungkapnya.
Purbaya menekankan bahwa transparansi dalam transaksi dan nilai penjualan akan berdampak positif pada profitabilitas resmi perusahaan. Hal ini, pada gilirannya, akan meningkatkan valuasi emiten di pasar modal. Menurutnya, perbaikan tata kelola ini akan menciptakan sentimen positif jangka menengah hingga panjang karena kredibilitas dan profitabilitas perusahaan di sektor sumber daya alam akan jauh lebih terukur.
“Perusahaan akan lebih diuntungkan karena laporan keuangan yang lebih transparan akan meningkatkan nilai mereka di bursa. Secara bertahap, valuasi perusahaan-perusahaan yang terdaftar akan naik secara signifikan,” tegasnya.
Sebagai informasi, data RTI Business mencatat bahwa IHSG sempat melemah 2,25 persen ke level 6.227,41 pada Rabu (20/5) tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia. Sebelum pidato tersebut, IHSG sempat menguat lebih dari 1 persen ke level 6.459,55.
Hingga penutupan perdagangan saat itu, tercatat 135 saham menguat, 548 saham melemah, dan 127 saham stagnan. Secara akumulatif sepanjang 2026, IHSG telah mencatatkan koreksi sebesar 27,64 persen.
Ringkasan
Pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia sebagai BUMN khusus ekspor memicu reaksi negatif di pasar modal yang menyebabkan IHSG anjlok sebesar 2,25 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan tersebut terjadi karena investor belum memahami dampak jangka panjang kebijakan ini dan cenderung bereaksi negatif terhadap ketidakpastian.
Purbaya menegaskan bahwa badan ekspor baru ini bertujuan menutup celah praktik under-invoicing guna meningkatkan transparansi dan profitabilitas emiten. Kebijakan ini diharapkan mampu memperbaiki tata kelola perusahaan sektor sumber daya alam, yang pada akhirnya akan meningkatkan valuasi emiten serta menciptakan sentimen positif di pasar modal dalam jangka panjang.