Kronologi Kecelakaan KA Bekasi Timur: Menhub Ungkap Kereta Berangkat Terlambat

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memaparkan kronologi lengkap terkait insiden kecelakaan kereta api di Bekasi Timur yang melibatkan KRL relasi Jakarta-Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Kamis (21/5), ia mengungkapkan bahwa penumpukan massa di sekitar rel menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kereta terhenti sebelum tabrakan maut tersebut terjadi.

Advertisements

Dudy menyampaikan bahwa insiden nahas itu berlangsung pada 27 April 2026, tepatnya pukul 20.52 WIB, di emplasemen Stasiun Bekasi Timur. Berdasarkan data terbaru, kecelakaan tersebut mengakibatkan 124 orang menjadi korban. Sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal dunia, lima orang masih dalam perawatan intensif, sementara 103 korban lainnya telah diperbolehkan pulang.

Menjelaskan alur kejadian, Dudy memaparkan bahwa gangguan perjalanan bermula saat KA Komuter Line 5568A tiba di Stasiun Bekasi pada pukul 20.34 WIB. Tak berselang lama, KA 116D Sawunggalih tiba pada pukul 20.35 WIB untuk melayani naik-turun penumpang dan diberangkatkan kembali pada pukul 20.37 WIB. KA Sawunggalih tersebut tercatat melintasi Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.39 WIB.

Situasi memburuk ketika sebuah taksi dilaporkan mogok tepat di tengah rel. Pada pukul 20.48 WIB, KA 5181B relasi Cikarang-Jakarta melintas dan menabrak kendaraan tersebut. Insiden temperan ini memicu kerumunan warga yang berdatangan ke lokasi untuk melihat keadaan, yang kemudian berdampak pada operasional kereta di jalur tersebut.

Advertisements

Di tengah kondisi tersebut, KRL Jakarta-Cikarang 5568A, yang sebelumnya mengalami keterlambatan delapan menit, diberangkatkan dari Stasiun Bekasi pada pukul 20.45 WIB dan tiba di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.49 WIB. “Kereta tersebut sempat berangkat, namun terhenti karena adanya kerumunan warga di depan lintasan yang ingin melihat kejadian temperan sebelumnya,” jelas Dudy.

Dalam posisi terhenti itulah, KA Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.51 WIB dengan kecepatan 108 kilometer per jam. Kereta ini tercatat melintas tiga menit lebih awal dari jadwal yang seharusnya, hingga akhirnya tabrakan tidak dapat dihindarkan pada pukul 20.52 WIB.

Terkait langkah selanjutnya, Dudy menegaskan bahwa Kementerian Perhubungan sepenuhnya menghormati proses investigasi yang tengah dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Pihaknya berkomitmen untuk mendukung penuh proses investigasi yang independen, profesional, dan transparan.

“Kementerian Perhubungan memprioritaskan percepatan penanganan korban dan pemulihan operasional perjalanan kereta api agar pelayanan kepada masyarakat dapat segera kembali berjalan dengan aman dan lancar,” tegas Dudy. Selain itu, ia memastikan bahwa evaluasi menyeluruh serta peningkatan aspek keselamatan transportasi menjadi fokus utama pemerintah pascakecelakaan tersebut.

Ringkasan

Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 terjadi akibat keterlambatan operasional KRL yang terhenti karena kerumunan warga di sekitar lintasan. Kerumunan tersebut muncul setelah adanya insiden temperan antara KA 5181B dengan sebuah taksi yang mogok. Dalam situasi terhenti tersebut, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas lebih awal dari jadwal menabrak rangkaian KRL tersebut pada pukul 20.52 WIB.

Insiden nahas ini menyebabkan 124 orang menjadi korban, dengan rincian 16 orang meninggal dunia, lima orang dalam perawatan intensif, dan 103 lainnya diperbolehkan pulang. Saat ini, Kementerian Perhubungan mendukung penuh investigasi independen oleh KNKT serta memprioritaskan penanganan korban dan evaluasi menyeluruh untuk meningkatkan aspek keselamatan transportasi ke depannya.

Advertisements