
Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat pagi (22/5). Tekanan ini terjadi seiring dengan tren penguatan dolar AS yang konsisten bertahan di level tertinggi dalam enam minggu terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,7% atau 14 poin ke level Rp 17.677 per dolar AS. Tren pelemahan berlanjut hingga pukul 09.10 WIB, di mana rupiah terdepresiasi sebesar 0,16% atau 28 poin ke posisi Rp 17.695 per dolar AS. Sebagai perbandingan, pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di angka Rp 17.667 per dolar AS, turun 0,07% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.654 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini tengah bersikap hati-hati (wait and see) dalam menanti rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal I. Data tersebut diprediksi menjadi indikator krusial yang menentukan arah pergerakan mata uang Garuda dalam jangka pendek.
“Rupiah diperkirakan masih berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor saat ini tengah menanti rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Jumat (22/5). Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati respons Iran terhadap proposal terbaru Amerika Serikat terkait penyelesaian konflik geopolitik di Timur Tengah, serta fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sangat sensitif terhadap dinamika hubungan kedua negara tersebut. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.750 per dolar AS sepanjang hari ini.
Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam minggunya pada Jumat (22/5). Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik temu mengenai persediaan uranium Teheran serta kendali atas Selat Hormuz. Saat ini, indeks dolar AS berada di angka 99,24, tidak jauh dari puncak tertingginya sejak 7 April di level 99,515.
Penguatan mata uang Paman Sam juga didukung oleh data ekonomi yang solid, termasuk penurunan klaim pengangguran mingguan AS dan kenaikan aktivitas manufaktur ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada bulan Mei. Rangkaian data ini mempertegas ketahanan ekonomi Amerika Serikat di tengah tantangan global.
Rupiah Melemah, Fundamental Ekonomi Disorot
Dominasi dolar AS dan tingginya harga minyak dunia telah memberikan tekanan berat bagi mata uang Asia, termasuk rupiah dan yen Jepang. Yen tercatat turun 0,1% menjadi 159,09 per dolar AS. Meskipun otoritas Jepang sempat melakukan intervensi beberapa waktu lalu untuk menopang mata uangnya, para pedagang tetap waspada akan langkah lanjutan dari Tokyo.
“Yen telah kehilangan lebih dari setengah keuntungan pasca-intervensi. Risiko intervensi valuta asing lebih lanjut dipastikan meningkat, terutama karena para pejabat telah mengindikasikan tidak adanya batasan terkait frekuensi intervensi demi melindungi mata uang,” ujar Kepala Strategi Pasar di Ebury, Matthew Ryan, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, mata uang negara berkembang di Asia kini berada di bawah tekanan besar akibat guncangan harga minyak global. Hal ini memaksa para pembuat kebijakan untuk mengambil langkah darurat. Indonesia, misalnya, baru saja mengumumkan pengetatan kendali atas sumber daya alam. Mulai 1 Juni, seluruh eksportir diwajibkan menyimpan 100% pendapatan ekspor mereka di bank milik negara sebagai upaya untuk menstabilkan rupiah.
Menurut Kepala Pendapatan Tetap Asia di First Sentier Investors, Nigel Foo, langkah ini merupakan bentuk intervensi langsung untuk meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri. Namun, ia juga memberikan catatan kritis. “Nilai mata uang merupakan representasi dari fundamental suatu negara, dan fundamental Indonesia saat ini terlihat jelas sedang memburuk,” pungkas Nigel.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (22/5), dibuka di level Rp 17.677 dan terus terdepresiasi hingga mencapai Rp 17.695 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh tren penguatan dolar AS yang bertahan di level tertinggi enam minggu terakhir akibat data ekonomi Amerika yang solid dan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Pelaku pasar saat ini bersikap hati-hati sambil menanti rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia serta mencermati fluktuasi harga minyak dunia. Untuk menstabilkan mata uang, pemerintah Indonesia mewajibkan eksportir menyimpan pendapatan ekspor di bank dalam negeri, namun para analis menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan berat.