
JP Morgan resmi menetapkan peringkat underweight bagi saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), perusahaan petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu. Dalam riset terbarunya, lembaga investasi asal Amerika Serikat tersebut mematok target harga saham TPIA di level Rp 1.090 per lembar.
Analisis JP Morgan menyoroti posisi TPIA sebagai produsen pengolah naphtha yang kini tengah menghadapi tantangan berat. Mereka memprediksi selisih harga polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) akan terus tertahan di level siklus bawah, dipicu oleh kondisi ekonomi global yang masih melemah serta masalah kelebihan kapasitas dalam industri petrokimia global.
Lebih lanjut, JP Morgan mengkritisi valuasi TPIA yang dianggap terlalu tinggi. Saat ini, saham TPIA diperdagangkan di atas 10x price-to-book (P/B), angka yang jauh lebih mahal dibandingkan rata-rata pabrik naphtha cracker di kawasan Asia yang rata-rata berada di bawah 1x P/B. Menurut lembaga tersebut, kesenjangan valuasi ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang dan menjadi sinyal potensi pelemahan tren harga saham ke depannya.
Target harga Rp 1.090 per Juni 2026 yang ditetapkan JP Morgan didasarkan pada asumsi valuasi 2,5x P/B. Angka ini setara dengan valuasi saat Thai Oil mengakuisisi 15% saham TPIA pada akhir 2021, meskipun profil return on equity (ROE) perseroan saat ini hanya berada di kisaran satu digit rendah hingga menengah.
Sebagai produsen naphtha cracker terbesar di Indonesia, TPIA memang memegang pangsa pasar lebih dari 30% untuk produk PE dan PP domestik di tengah ketergantungan impor yang masih mencapai 50%. Meski merekomendasikan underweight, JP Morgan mengakui adanya sejumlah faktor yang bisa mengubah prospek kinerja perusahaan. Hal ini meliputi potensi masuknya investor strategis baru yang mampu menekan biaya bahan baku, pemulihan margin harga produk PE/PP, hingga kemungkinan pembentukan acuan valuasi baru yang lebih tinggi jika terjadi penjualan sebagian saham milik Siam Cement Group sebesar 10,57% di TPIA.
Dari sisi operasional, TPIA sempat mencatat kerugian pada kuartal IV 2025 dengan penurunan pendapatan sebesar 12% secara kuartalan (q/q), yang diduga imbas dari gangguan operasional atau force majeure pada Aster Chemicals akhir Agustus lalu. Kerugian EBITDA pun melebar menjadi US$ 202 juta, terutama disebabkan oleh lonjakan biaya umum dan administrasi (G&A) hingga US$ 177 juta akibat beban jasa profesional dan pajak karbon baru.
Kondisi neraca keuangan juga menjadi perhatian, di mana total utang perseroan mencapai US$ 5,5 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) meningkat menjadi 1,2x dari 0,8x pada kuartal ketiga 2025, yang mendorong perusahaan merevisi batas DER dalam perjanjian obligasi menjadi 1,5x setelah Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada kuartal IV 2025.
Tekanan terhadap saham TPIA sendiri terlihat jelas di pasar. Pada perdagangan Kamis (21/5), saham TPIA sempat anjlok hingga terkena auto reject bawah (ARB) sebesar 14,66% ke level Rp 2.270. Dalam sepekan, saham ini tercatat sudah tergerus 47,21% dan semakin menjauhi level tertinggi sepanjang masa (ATH) di harga Rp 10.625 yang sempat dicapai pada 14 Agustus 2024. Penurunan tajam ini santer dikaitkan dengan kabar adanya margin call pada sejumlah sekuritas.
Menanggapi gejolak tersebut, manajemen PT Barito Pacific Tbk (BRPT) selaku induk usaha menyatakan bahwa seluruh fasilitas pembiayaan dan pengaturan jaminan saham yang dilakukan perseroan telah dikelola secara hati-hati. Pihak BRPT menegaskan bahwa pengaturan tersebut telah dilengkapi dengan langkah mitigasi yang terukur untuk mengantisipasi volatilitas pasar yang terjadi saat ini.
Ringkasan
JP Morgan menetapkan peringkat underweight untuk saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan target harga Rp1.090 per lembar untuk Juni 2026. Analisis tersebut didasarkan pada valuasi perusahaan yang dinilai terlalu tinggi dibandingkan rata-rata industri di Asia, serta tantangan operasional akibat melemahnya ekonomi global dan kelebihan kapasitas industri petrokimia. Selain itu, kinerja keuangan perusahaan turut tertekan oleh beban biaya yang membengkak serta peningkatan rasio utang terhadap ekuitas.
Meskipun memiliki pangsa pasar dominan di Indonesia, TPIA menghadapi tekanan pasar yang signifikan, termasuk penurunan harga saham yang tajam baru-baru ini. JP Morgan mencatat bahwa prospek perusahaan ke depan masih bergantung pada pemulihan margin produk dan potensi masuknya investor strategis baru. Menanggapi volatilitas pasar, manajemen induk usaha, Barito Pacific, menegaskan bahwa mereka telah menerapkan langkah mitigasi terukur untuk mengelola risiko pembiayaan dan jaminan saham.