
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan ke zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5). Merujuk data Stockbit pukul 09.02 WIB, IHSG tercatat anjlok sebesar 2,02 persen atau terkoreksi 122 poin ke level 5.972.
Aktivitas perdagangan pada awal sesi mencatatkan volume sebesar 909,69 juta saham. Sementara itu, nilai transaksi menyentuh angka Rp 489,02 miliar dengan total frekuensi perdagangan mencapai 63,92 ribu kali.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menyoroti bahwa level psikologis di rentang 6.000 hingga 5.000 menjadi perhatian utama para pelaku pasar saat ini. Menurutnya, level 6.000 merupakan batas krusial yang cukup berat untuk dipertahankan di tengah berbagai sentimen yang beredar.
Teguh menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan menghadapi tantangan berat. Tekanan utamanya datang dari saham-saham sektor konglomerasi yang selama ini menjadi penggerak indeks namun kini sedang dalam tren pelemahan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa emiten konglomerasi seperti BREN, DSSA, dan TPIA masih berisiko mengalami tekanan jual lebih dalam setelah didepak dari indeks MSCI. Teguh menegaskan bahwa investor asing cenderung melakukan aksi jual masif pada saham-saham tersebut tanpa memedulikan posisi profit maupun rugi.
Meskipun harga saham-saham konglomerasi tersebut sudah terkoreksi cukup dalam, Teguh memperingatkan bahwa potensi penurunan lanjutan tetap terbuka. Hal ini dikarenakan kapitalisasi pasar (market cap) emiten tersebut masih tergolong besar. Kendati demikian, ia memproyeksikan area 5.800 hingga 5.900 akan menjadi batas bawah atau support yang cukup kuat bagi IHSG.
Di balik koreksi pasar, Teguh melihat adanya peluang bagi investor jangka panjang. Menurutnya, kondisi saat ini membuat valuasi saham-saham dengan fundamental yang kuat menjadi sangat menarik dan tergolong murah.

Selain itu, sektor perbankan dan komoditas diprediksi akan menjadi penopang utama pasar saham ke depannya. Hal ini sejalan dengan mulai meningkatnya harga komoditas global saat ini.
Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai bahwa volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global, termasuk depresiasi nilai tukar Rupiah yang menyentuh kisaran 17.600 serta kebijakan kenaikan BI rate yang agresif.
Faktor lain yang turut membebani pasar adalah efek penyeimbangan ulang atau rebalancing indeks global MSCI yang berlangsung di akhir Mei 2026. Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Nafan berpendapat bahwa IHSG saat ini berada di level undervalued, sehingga memberikan momentum yang tepat bagi investor untuk melakukan akumulasi beli secara bertahap.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan sebesar 2,02 persen ke level 5.972 pada perdagangan Jumat (22/5). Penurunan ini terutama dipicu oleh tekanan jual pada saham-saham sektor konglomerasi, seperti BREN, DSSA, dan TPIA, setelah didepak dari indeks MSCI. Aksi jual masif oleh investor asing terhadap emiten berkapitalisasi besar tersebut menjadi beban utama yang menekan pergerakan indeks di awal sesi.
Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi akibat sentimen depresiasi Rupiah, kebijakan suku bunga BI yang agresif, serta proses penyeimbangan ulang indeks global. Meskipun menghadapi tantangan berat, para analis menilai bahwa IHSG saat ini berada di level yang murah atau undervalued. Kondisi ini dinilai sebagai momentum bagi investor untuk mengakumulasi saham berfundamental kuat, terutama di sektor perbankan dan komoditas.