
Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, membagikan detail pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (22/5). Dalam pertemuan tersebut, ia memberikan pandangan mengenai kondisi ekonomi terkini dengan merujuk pada pengalamannya saat menangani lonjakan inflasi dan tekanan ekonomi pada tahun 2005.
Burhanuddin menegaskan bahwa diskusi tersebut tidak difokuskan secara spesifik pada pelemahan nilai tukar rupiah, melainkan sebagai upaya berbagi pelajaran masa lalu untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Menurutnya, pengalaman penanganan krisis di masa lampau dapat menjadi referensi strategis bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan hari ini.
Diskusi Strategis dan Koordinasi Kebijakan
Selain Burhanuddin, pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani. Hadir pula mantan Wakil Menteri Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo dan ekonom Paskah Suzetta.
Burhanuddin menyoroti kesamaan tantangan antara kondisi tahun 2005 dan saat ini, terutama terkait pengaruh faktor eksternal. Pada 2005, Indonesia menghadapi dampak inflasi akibat kenaikan harga BBM sebesar 126 persen. Ia menekankan bahwa meskipun penyebab dasarnya berbeda—dulu dipicu kebijakan domestik terkait subsidi dan kini lebih didorong faktor global—prinsip penanganannya perlu disesuaikan dengan konteks terkini.
Presiden Prabowo, menurut Burhanuddin, juga memaparkan langkah-langkah kebijakan pemerintah agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat maupun pelaku pasar. Fokus utama pertemuan ini diarahkan pada penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.
Langkah Antisipasi Ekonomi dan Suku Bunga
Dalam kesempatan tersebut, Burhanuddin menyampaikan sejumlah usulan kepada Presiden Prabowo yang kemudian ditindaklanjuti dengan instruksi kepada Menteri Keuangan untuk melakukan kajian lebih mendalam. Meskipun tidak memerinci usulan tersebut, Burhanuddin menyinggung efektivitas kebijakan suku bunga tinggi yang pernah mencapai 12,5 persen pada tahun 2005. Ia menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga suku bunga acuan di level 5,25 persen saat ini sudah tepat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dan nilai tukar.
Terkait fluktuasi rupiah di kisaran Rp 17.700 per dolar AS, Burhanuddin memberikan perspektif bahwa depresiasi saat ini sebenarnya masih relatif kecil. “Depresiasi saat ini sebesar 5 persen, jauh lebih kecil dibandingkan masa krisis yang mencapai 42 persen,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kuat. Namun, ia menyadari adanya tekanan dari sisi persepsi publik terhadap kondisi ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah berencana untuk memperbaiki strategi komunikasi terkait capaian-capaian ekonomi kepada masyarakat.

Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah kini fokus memonitor regulasi untuk memperkuat ketahanan finansial. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penguatan permodalan perbankan nasional guna menjaga prinsip kehati-hatian atau prudensial di tengah dinamika ekonomi global yang menantang.
Ringkasan
Mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan pandangan mengenai strategi menghadapi tantangan ekonomi nasional saat ini. Pertemuan yang juga dihadiri sejumlah menteri dan ekonom tersebut membahas pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta berbagi pengalaman penanganan krisis ekonomi di masa lalu sebagai referensi kebijakan pemerintah. Burhanuddin menekankan bahwa fundamental ekonomi saat ini relatif stabil dengan tingkat depresiasi rupiah yang masih dalam batas wajar jika dibandingkan dengan masa krisis sebelumnya.
Sebagai respons atas masukan tersebut, pemerintah berencana memperbaiki strategi komunikasi untuk menjaga persepsi publik serta memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi. Fokus utama pemerintah saat ini mencakup pemantauan regulasi dan penguatan permodalan perbankan nasional untuk memastikan ketahanan finansial di tengah dinamika ekonomi global. Langkah-langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan fiskal.