AS Tetap Beroperasi di Selat Hormuz Meski Operasi Epic Fury Berakhir

Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menyatakan berakhirnya operasi militer bertajuk Operation Epic Fury terhadap Iran. Meskipun Washington mengklaim bahwa misi tersebut telah mencapai tujuan strategisnya, target utama untuk mengamankan cadangan uranium yang telah diperkaya milik Teheran belum sepenuhnya terpenuhi.

Advertisements

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam laporannya yang dikutip oleh Reuters pada Rabu (6/5), menegaskan bahwa operasi yang dimulai sejak akhir Februari 2026 tersebut telah memenuhi target Washington. Rubio menekankan bahwa pemerintah kini lebih memilih jalur damai. “Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut. Kami tidak menginginkan situasi tambahan terjadi. Kami lebih memilih jalur damai. Apa yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan,” ungkap Rubio.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan politik yang kuat dari Kongres terhadap Presiden Donald Trump terkait kepatuhan terhadap War Powers Act. Undang-undang tersebut membatasi wewenang presiden dalam menjalankan operasi militer tanpa persetujuan Kongres. Konflik ini bermula ketika Israel dan AS melancarkan serangan udara pada 28 Februari 2026. Laporan Trump kepada Kongres 48 jam setelahnya memicu tenggat waktu 60 hari yang berakhir pada pekan lalu, memaksa pemerintah untuk segera menghentikan operasi atau mencari perpanjangan mandat dari Kongres.

Kendati Operation Epic Fury telah ditutup, ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir. Washington tetap mempertahankan kehadiran militer di kawasan tersebut, namun dengan fokus yang berbeda. Pemerintah AS kini mengalihkan perhatian pada misi baru bernama Project Freedom. Misi ini diklaim bersifat terbatas dan defensif, dengan fokus utama menjaga kelancaran distribusi minyak serta mengamankan jalur pelayaran global di Selat Hormuz.

Advertisements

Rubio menjelaskan bahwa transisi ke misi Project Freedom juga bertujuan untuk merespons krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung. Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 23 ribu orang dari 87 negara yang masih terjebak di dalam kapal-kapal di kawasan Teluk. Ketegangan ini juga telah menelan korban jiwa, dengan setidaknya 10 pelaut sipil dilaporkan tewas di tengah jalur perdagangan energi vital tersebut.

Menanggapi kekhawatiran terkait potensi eskalasi, Rubio menegaskan bahwa Project Freedom memiliki skala yang jauh lebih terbatas dibandingkan operasi sebelumnya. Fokus utama misi ini adalah pengamanan jalur pelayaran, bukan keterlibatan dalam pertempuran terbuka. “Kami tidak akan bertindak secara militer kecuali diserang,” tegasnya.

Meskipun operasi militer telah bergeser, tantangan besar masih membayangi upaya diplomasi AS. Salah satu target utama pemerintahan Trump untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir masih menghadapi kendala, mengingat Iran hingga saat ini belum menyerahkan lebih dari 900 pon atau sekitar 408 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi.

Ringkasan

Pemerintah Amerika Serikat secara resmi telah mengakhiri Operation Epic Fury terhadap Iran setelah mencapai tujuan strategis tertentu, meskipun misi untuk mengamankan cadangan uranium Iran belum sepenuhnya terpenuhi. Penghentian operasi ini dipicu oleh tekanan politik dari Kongres terkait kepatuhan terhadap War Powers Act serta keinginan pemerintah untuk menempuh jalur diplomasi dan kesepakatan damai.

Meskipun operasi militer tersebut berakhir, AS tetap mempertahankan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah melalui misi baru bernama Project Freedom. Misi defensif ini berfokus pada pengamanan jalur pelayaran global di Selat Hormuz, menjaga distribusi minyak, serta merespons krisis kemanusiaan yang melibatkan ribuan orang di kawasan tersebut.

Advertisements