Bursa saham AS koreksi dua sesi beruntun, pasar harapkan gencatan senjata

Babaumma – , JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami koreksi selama dua hari beruntun meski Israel menyatakan akan membantu dalam proses pembukaan Selat Hormuz yang memberikan secercah harapan bagi para investor.

Advertisements

Dilansir dari Bloomberg, Indeks S&P 500 Index ditutup turun 0,3% pada Kamis (19/3/2026) waktu setempat, jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari—sebuah garis teknikal yang telah menopang pasar saham sejak Mei.

Sementara itu, Indeks berbasis teknologi Nasdaq 100 juga ditutup melemah 0,3%. Harga minyak mentah Brent turun ke sekitar US$108 dari level tertinggi sebelumnya pada hari yang sama.

: Perang Iran Guncang Bursa Asia, Nikkei dan Kospi Terkapar, IHSG Ikut Anjlok

Advertisements

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dalam konferensi pers bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium atau memproduksi rudal balistik.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa mereka mempercepat penjualan senjata hingga senilai US$16,5 miliar kepada sekutu di Timur Tengah. Departemen Keuangan AS juga mengizinkan pengiriman dan penjualan sebagian minyak mentah Rusia.

: : Konflik AS-Israel vs Iran Picu Kekhawatiran Inflasi, Bursa Asia Melemah

“Pengurangan kemampuan Iran dalam pengayaan uranium merupakan salah satu tujuan utama yang dinyatakan oleh pemerintahan Trump dan dipandang sebagai indikator penting kemajuan,” ujar Kepala Strategi Pasar JonesTrading Michael O’Rourke.

Sebelumnya pada hari yang sama, Iran dilaporkan terus menyerang aset energi di kawasan Timur Tengah, sementara Presiden Donald Trump menyerukan deeskalasi melalui unggahan media sosial semalam.

: : Dari Merdeka Gold (EMAS), Akulaku, hingga MNC, Emiten Asia Tenggara Listing ke Bursa Asing

Kerusakan yang meningkat pada infrastruktur minyak dan gas utama di kawasan tersebut telah mendorong lonjakan harga energi. Sementara itu, kapal tanker bahan bakar asing pertama mulai dijadwalkan untuk beroperasi antar pelabuhan AS setelah Trump mencabut mandat pelayaran yang telah berlaku selama satu abad guna menekan inflasi awal pekan ini.

“Pasar mencari jalan keluar, pasar mengharapkan gencatan senjata,” ujar Michael Hartnett, ahli strategi Bank of America, dalam wawancara dengan Bloomberg TV.

Dia menambahkan bahwa kondisi keuangan semakin mengetat, namun Federal Reserve menghadapi kesulitan untuk merespons tekanan tersebut jika harga minyak tetap tinggi.

Advertisements