Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan penurunan signifikan pada kinerja ekspor batu bara Indonesia tahun 2025. Dibandingkan tahun sebelumnya, volume ekspor diperkirakan menyusut 20 hingga 30 juta ton, menjadikan total prediksi ekspor batu bara hanya mencapai 500 juta ton untuk tahun depan.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Ditjen Minerba ESDM, Surya Herjuna, menjelaskan bahwa proyeksi penurunan ekspor batu bara ini bukanlah indikasi berkurangnya daya saing komoditas Indonesia di pasar global. Sebaliknya, kondisi ekonomi global yang melesu menjadi faktor utama, khususnya di negara-negara importir besar seperti Cina dan India. “Situasi ekonomi dunia sedang melemah, dan ini berdampak pada permintaan, terutama dari pasar utama kita. Jadi, ini bukan karena produk kita tidak diminati,” tegas Surya dalam acara Coalindo Coal Conference 2025 pada Rabu (5/11).
Surya menambahkan, peningkatan produksi batu bara di Cina saat ini turut berkontribusi pada menurunnya kebutuhan impor negara tersebut. Namun, di tengah tantangan tersebut, Indonesia berhasil menemukan titik terang dengan pertumbuhan pasar ekspor batu bara yang stabil di Filipina, menandai adanya diversifikasi tujuan ekspor.
Data menunjukkan bahwa permintaan dari Filipina mengalami kenaikan signifikan, bahkan menempatkannya sebagai ‘tulang punggung’ baru bagi ekspor batu bara Indonesia, melengkapi posisi Cina dan India. Potensi besar ini didorong oleh kebutuhan Filipina akan sumber energi untuk pembangkit listrik, mengingat statusnya sebagai negara kepulauan yang memerlukan suplai listrik tersebar di banyak pulau.
Meskipun proyeksi ekspor batu bara menunjukkan penurunan, Surya Herjuna menggarisbawahi stabilitas harga batu bara di pasar global. Fluktuasi harga tercatat minim, hanya berkisar US$1 hingga US$2 per ton. Sementara itu, produksi batu bara nasional per September 2025 telah mencapai 585 juta ton, meskipun angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7,47% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.
Baca juga:
- ESDM Sebut Dominasi Batu Bara RI di Pasar Asia Hanyalah Semu
- Harga Batu Bara Acuan Periode Pertama November 2025 Turun ke US$ 103,75 per Ton
- ESDM Bidik Tambang Batu Bara BUMN untuk Pasok Proyek DME di Kutai Timur
Ringkasan
Kementerian ESDM memproyeksikan penurunan ekspor batu bara Indonesia tahun 2025 sebesar 20-30 juta ton, menjadi sekitar 500 juta ton. Penurunan ini disebabkan oleh lesunya ekonomi global, khususnya di negara importir besar seperti Cina dan India, bukan karena kurangnya daya saing batu bara Indonesia.
Meskipun ekspor ke Cina menurun akibat peningkatan produksi batu bara domestik mereka, ekspor batu bara Indonesia ke Filipina justru mengalami pertumbuhan yang signifikan dan menjadi pasar ekspor baru yang penting. Harga batu bara global relatif stabil, dan produksi batu bara nasional hingga September 2025 mencapai 585 juta ton.