Fit and proper test deputi gubernur BI, Solikin tawarkan kebijakan semangka

Jakarta, IDN Times – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M Juhro, tampil memukau saat memaparkan strategi bertajuk “Semangka” dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR pada Jumat, 23 Januari 2026. Strategi komprehensif ini dirancang sebagai satu paket kebijakan yang terintegrasi, siap mendukung program Asta Cita Pemerintah.

Advertisements

“Saya mengusulkan delapan strategi kebijakan yang terintegrasi dalam satu kerangka besar yang disingkat Semangka,” tegas Solikin dalam presentasinya yang mengesankan.

Solikin Juhro Bahas Ini saat Fit-Proper Test Calon Deputi Gubernur BI

1. Mengurai Makna Strategi Semangka

Advertisements

Solikin menjelaskan bahwa “Semangka” merupakan akronim dari delapan langkah kebijakan moneter yang berfokus ganda: menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan, serta memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global yang tak menentu. Setiap huruf memiliki makna mendalam:

  • Huruf ‘S’ melambangkan Stabilitas Makroekonomi dan Keuangan, berfungsi sebagai jangkar utama ketahanan ekonomi nasional. Pilar ini mencakup nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi yang terkendali, dan sistem keuangan yang sehat. Untuk mewujudkan hal ini, Bank Indonesia secara konsisten menerapkan bauran strategi kebijakan yang terintegrasi, mengorkestrasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam satu kesatuan arah demi mendukung ekonomi berkelanjutan.
  • Huruf ‘E’ mewakili Ekonomi Syariah dan Pesantren, diakui sebagai modal sosial yang signifikan untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
  • Huruf ‘M’ merujuk pada Makroprudensial Inovatif, instrumen kunci yang vital untuk mendorong intermediasi pembiayaan yang optimal, seimbang, dan inklusif, terutama di tengah keterbatasan instrumen kebijakan lainnya.
  • Huruf ‘A’ pertama adalah Akselerasi Reformasi Struktural, syarat utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mengantar Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi. Dalam konteks ini, BI memegang peran strategis sebagai fasilitator reformasi struktural dengan menjaga stabilitas makroekonomi, serta mengarahkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung pembiayaan di sektor produktif dan prioritas.
  • Huruf ‘N’ adalah Navigasi Stabilitas Harga Pangan, diarahkan untuk mewujudkan pangan sejahtera sebagai pilar stabilitas makroekonomi, pertumbuhan inklusif, sekaligus menopang ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.
  • Huruf ‘G’ menggambarkan Gerak UMKM dan Ekonomi Kreatif, diwujudkan melalui pendampingan komprehensif kepada pelaku ekonomi kreatif. Pendampingan ini mencakup literasi keuangan dan digital, dukungan pembiayaan, perluasan akses pasar, transformasi digital, hingga pemetaan UMKM agar lebih terarah dan efektif.
  • Huruf ‘K’ menyoroti Keandalan Digitalisasi Sistem Pembayaran. Transformasi sistem pembayaran ini dipercepat secara konsisten, sejalan dengan visi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Digitalisasi dipandang sebagai instrumen strategis yang esensial untuk menurunkan biaya transaksi, memperluas inklusi keuangan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi digital nasional.
  • Huruf ‘A’ kedua melambangkan Aksi Bersama, Sinergi, dan Kolaborasi. Dengan tingkat ketidakpastian dan kompleksitas yang kian tinggi, BI menyadari bahwa tidak dapat bekerja sendiri. Oleh karena itu, sinergi antara otoritas, industri, serta masyarakat menjadi kunci fundamental dalam mendorong transformasi struktural ekonomi nasional menuju pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

2. Semangka: Bukan Sekadar Buah, Namun Simbol Filosofis Kebijakan Ekonomi

Solikin menjelaskan alasan mendalam di balik pemilihan “Semangka” sebagai simbol strategi kebijakan ekonomi yang akan diterapkan. Bagi Solikin, Semangka memiliki relevansi kuat dan makna filosofis yang selaras dengan tujuan kebijakan yang diusung.

“Semangka ini bukan hanya sekadar buah yang lazim kita temui. Hampir setiap pertemuan, kita selalu melihat semangka, baik yang utuh, dipotong-potong, maupun yang disajikan menggunakan lidi. Semangka ini memiliki warna hijau di luar, merah di dalam, dan biji yang melambangkan sumber keberlanjutan,” ujarnya penuh makna.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa kulit hijau semangka yang halus merepresentasikan tata kelola yang tertib dan teratur, sebuah fondasi penting bagi stabilitas. Sementara itu, daging merahnya yang segar menggambarkan kesejahteraan rakyat yang menjadi inti dan tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi yang dirancang. Bahkan, warna kuning pada semangka, jika ada, juga merepresentasikan aspirasi yang sama terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Biji semangka ini menjadi sumber keberlanjutan yang krusial bagi generasi mendatang. Semua unsur dalam semangka ini kami rancang sebagai satu paket kebijakan yang terorkestrasi, untuk menopang sekaligus mendukung program Asta Cita Pemerintah,” tambahnya, menekankan kesatuan visi dari strateginya.

Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI Dipastikan Fair dan Terbuka

3. Tiga Pilar Utama yang Mendasari Strategi Semangka

Menurut Solikin, strategi “Semangka” tidak hanya sekadar simbol visual yang menarik, tetapi juga secara tegas menggambarkan tiga pilar utama yang fundamental dalam kebijakan ekonomi yang diajukannya. Pilar-pilar tersebut adalah stabilitas, pertumbuhan, dan inklusivitas.

Ketiga unsur krusial ini dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, implementasinya harus dijalankan secara terintegrasi dan harmonis untuk mencapai dampak maksimal bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Advertisements