GOTO: Dampak Hans Patuwo Jadi Nakhoda Baru ke Harga Saham?

Babaumma – , JAKARTA – Perdagangan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) pada penutupan Senin (24/11/2025) menunjukkan penguatan signifikan, melonjak 1,56% ke level Rp65. Kenaikan harga saham GOTO ini terjadi seiring dengan pengumuman penting mengenai rencana pergantian pucuk pimpinan perseroan, di mana Direktur Utama (Dirut) Patrick Walujo akan digantikan oleh Hans Patuwo.

Advertisements

Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia, memandang perubahan direksi ini sebagai sinyal positif yang menjanjikan bagi prospek pertumbuhan saham GOTO di masa mendatang. Menurut Sarkia, pergantian “nakhoda” ini menegaskan kembali arah strategis perusahaan dan komitmennya terhadap konsistensi target menuju profitabilitas berkelanjutan.

Namun, di tengah optimisme tersebut, Sarkia juga mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh maraknya spekulasi di pasar bahwa restrukturisasi manajemen GOTO ini membuka jalan bagi konsolidasi yang lebih besar, termasuk potensi percepatan pembahasan merger dengan Grab. Spekulasi ini tentu menjadi sorotan utama di kalangan investor.

: GOTO Rombak Manajemen, Spekulasi Rumor Merger Kian Panas

Advertisements

Merger antara Grab dan GoTo, menurut Sarkia, memang akan bertindak sebagai katalis positif yang kuat. Akan tetapi, implementasi dan skema dari integrasi kedua platform raksasa ini dapat memicu ketidakpastian dalam jangka pendek terkait keberlanjutan dan regulasi yang mengikat. Perubahan Direktur Utama perseroan ini juga diinterpretasikan sebagai indikasi kuat akan terealisasinya merger kedua perusahaan transportasi daring terbesar di Indonesia tersebut. Restrukturisasi manajemen ini dapat dibaca sebagai langkah penyelarasan tata kelola dan visi bisnis GOTO menjelang konsolidasi industri, yang mencakup potensi merger besar dengan Grab.

: : Efek Domino Patrick Walujo dan Nasib GOTO di Tangan Hans Patuwo

“Jika merger ini benar-benar terjadi, skenario yang paling mungkin adalah integrasi layanan transportasi dan fintech. Tujuannya jelas: untuk mereduksi duplikasi biaya dan memperkuat monetisasi, yang pada akhirnya berpotensi mengurangi persaingan diskon yang intens,” jelas Sarkia.

Selain isu merger, perkembangan bisnis GOTO juga diiringi oleh isu ketenagakerjaan. Transformasi status driver dari kemitraan menjadi karyawan telah lama menjadi topik diskusi hangat di kalangan pemerintah dan publik.

: : Menilik Sepak Terjang Patrick Walujo dalam Dua Tahun Nakhodai GOTO

Sarkia Adelia menganalisis bahwa perubahan status driver menjadi karyawan akan membawa dampak dua arah. Jika diterapkan, langkah ini diproyeksikan akan meningkatkan operational expenditure (opex) perseroan dalam jangka pendek. Namun, jika berhasil dikelola dengan cermat, tekanan biaya dalam jangka panjang dapat lebih terkendali, sehingga menciptakan stabilitas operasional. “Namun menurut kami, jika fokus GOTO masih sejalan dengan tujuan profitabilitas, seharusnya skema ini belum diterapkan untuk pengendalian cost yang lebih optimal,” imbuhnya.

Yang pasti, pergantian Direktur Utama GOTO dipandang Sarkia sebagai sinyal penajaman strategi bisnis perseroan ke depan. Dengan pengalaman Hans Patuwo yang hampir delapan tahun menduduki berbagai posisi strategis di Gojek, GoPay, dan GoTo, ia dinilai memiliki pemahaman menyeluruh mengenai operasional di lapangan, tata kelola organisasi yang efektif, serta strategi monetisasi lintas ekosistem yang kompleks. Penunjukan ini diharapkan membawa angin segar dan inovasi bagi perusahaan.

Berbicara mengenai kinerja GOTO, Sarkia juga mengakui kontribusi besar dari Patrick Walujo. Selama dua tahun masa kepemimpinannya sebagai Direktur Utama, Patrick sukses mengarahkan perseroan untuk memperkecil kerugian yang dialaminya secara signifikan. Perjalanan kinerja GOTO di bawah kepemimpinan Patrick Walujo terlihat jelas dari data periode ke periode.

Pada tahun pertamanya, Patrick berhasil membawa perseroan mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar Rp14,78 triliun pada tahun 2023, meningkat dari Rp11,35 triliun sepanjang tahun 2022. Meskipun demikian, rugi bersih GOTO sempat membengkak menjadi Rp90,39 triliun, dari Rp39,57 triliun pada periode 2022. Namun, setahun kemudian, pada tahun 2024, pendapatan bersih GOTO kembali meningkat menjadi Rp15,89 triliun, dan kali ini diikuti dengan penyusutan rugi bersih perseroan secara drastis menjadi sebesar Rp5,15 triliun. Ini menunjukkan upaya efisiensi yang membuahkan hasil.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis perseroan, pendapatan GOTO dalam rentang Januari-September 2025 mencapai Rp13,29 triliun, melampaui Rp11,66 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Lebih menggembirakan lagi, rugi bersih GOTO mampu ditekan secara signifikan menjadi Rp775,55 miliar, dibandingkan rugi bersih sebesar Rp4,31 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Pencapaian ini mengindikasikan perbaikan fundamental yang solid.

“Patrick, selama masa kepemimpinannya, telah berhasil mengarahkan GOTO menuju perbaikan fundamental yang sangat signifikan dalam dua tahun terakhir. Meskipun harga saham belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan tersebut, pondasi perusahaan telah diperkuat,” pungkas Sarkia.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Saham GOTO mengalami kenaikan sebesar 1,56% menjadi Rp65 setelah pengumuman pergantian Direktur Utama dari Patrick Walujo ke Hans Patuwo. Analis Panin Sekuritas melihat perubahan ini sebagai sinyal positif, namun mengingatkan adanya potensi ketidakpastian jangka pendek akibat spekulasi merger dengan Grab. Merger ini dinilai sebagai katalis positif, tetapi implementasi dan regulasi terkait dapat memicu ketidakpastian.

Pergantian Direktur Utama dipandang sebagai langkah penajaman strategi bisnis GOTO, mengingat pengalaman Hans Patuwo di Gojek dan GoTo. Patrick Walujo dinilai berhasil memperkecil kerugian GOTO selama masa kepemimpinannya, dengan data menunjukkan peningkatan pendapatan bersih dan penurunan rugi bersih secara signifikan pada tahun 2024 dan periode Januari-September 2025.

Advertisements