Harga CPO Terbang? Analis Ungkap Dampak Mandatori B50 ke US$ 1.300

Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global diproyeksikan akan mempertahankan tren kenaikannya, bahkan melampaui US$1.000 per ton pada tahun depan. Prediksi ini muncul di tengah pertumbuhan konsumsi yang diperkirakan akan jauh melampaui kapasitas produksi. Proyeksi yang lebih ambisius bahkan menyebutkan harga CPO berpotensi menyentuh angka US$1.300 per ton pada paruh kedua tahun 2026, terutama jika pemerintah Indonesia serius mengimplementasikan program mandatori B50.

Advertisements

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, rata-rata harga CPO global dari Januari hingga Oktober 2025 telah mencapai US$1.217 per ton. Meskipun angka ini mungkin sedikit terkoreksi menjelang akhir tahun seiring peningkatan produksi domestik, Gapki tetap optimis. “Walau demikian, kami memproyeksikan harga CPO akan tetap tinggi hingga kuartal pertama tahun depan, berkisar antara US$1.050 sampai US$1.125 per ton,” ujar Ketua Bidang Luar Negeri Gapki, M. Fadhil Hasan, dalam acara Indonesia Palm Oil Conference 2025.

Fadhil, yang juga dikenal sebagai pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menjelaskan bahwa dinamika harga CPO akan sangat dipengaruhi oleh enam faktor krusial yang berasal dari sisi pasokan dan permintaan.

Dari sisi permintaan global, terdapat empat faktor utama yang berpotensi menahan laju konsumsi CPO. Faktor-faktor tersebut meliputi perjanjian perdagangan resiprokal dengan Amerika Serikat, implementasi Undang-Undang Deforestasi Uni Eropa (EUDR) yang ketat, isu keberlanjutan yang semakin mengemuka di Tiongkok, serta kebijakan pajak impor yang diterapkan oleh India.

Advertisements

Sementara itu, dari aspek pasokan, dua faktor signifikan berpotensi mendisrupsi suplai CPO Indonesia ke pasar internasional. Pertama adalah program mandatori B50 yang dapat mengalihkan sebagian besar pasokan untuk kebutuhan domestik. Kedua, adalah penyitaan lahan kebun sawit eksisting oleh pemerintah, di mana Gapki mencatat total kebun yang telah disita mencapai 1,1 juta hektare.

Fadhil menyimpulkan bahwa kombinasi dari berbagai faktor tersebut menciptakan kondisi pasar CPO global yang semakin ketat. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan permintaan yang tidak mampu diimbangi secara proporsional oleh peningkatan produksi. “Kami memprediksi harga CPO hingga akhir paruh pertama tahun depan akan berada di rentang US$1.050 sampai US$1.150 per ton,” tambahnya.

Proyeksi Analis CPO Global

Menyajikan pandangan yang lebih optimistis, Direktur Godrej International Ltd, Dorab Mistry, memproyeksikan harga CPO global dapat mencapai RM 5.000 atau setara dengan US$1.200 per ton pada periode November–Desember 2025, dan diperkirakan akan bertahan hingga paruh pertama tahun berikutnya.

Menurut analisis Mistry, produksi CPO global pada tahun 2026 hanya akan menunjukkan kenaikan sekitar 4,2 juta ton. Angka yang relatif minim ini sangat dipengaruhi oleh lambatnya program peremajaan sawit rakyat di Indonesia yang vital untuk menjaga produktivitas.

Data Kementerian Pertanian memperkuat argumen tersebut, menunjukkan bahwa luas kebun sawit yang menjalani program peremajaan pada tahun 2025 hanya mencapai 23.271 hektare, jauh di bawah target 120.000 hektare. Secara kumulatif, realisasi peremajaan sepanjang 2017–2025 baru mencapai 399.996 hektare, atau hanya sekitar 32% dari target ambisius 1,26 juta hektare. Di sisi lain, permintaan global justru diperkirakan melonjak sebesar 6 juta ton, di mana 60% di antaranya berasal dari kebutuhan energi, termasuk serapan tambahan sekitar 2 juta ton CPO dari program B50. Mistry menegaskan, “Jika pemerintah Indonesia menerapkan mandatori B50 atau melanjutkan penyitaan lahan, harga CPO global pasti akan mencapai RM 5.500 atau sekitar US$1.300 per ton.”

Sementara itu, Direktur Eksekutif Oil World, Thomas Mielke, memberikan proyeksi harga yang bahkan lebih agresif. Ia memperkirakan harga CPO global berpotensi menyentuh US$1.260 per ton antara Desember 2025 hingga Mei 2026.

Mielke mengidentifikasi dua momentum utama yang akan menjadi pendorong signifikan bagi harga CPO. Pertama adalah pengumuman kebijakan biodiesel di Amerika Serikat, dan kedua adalah kepastian implementasi program B50 di Indonesia. Mielke juga mencatat bahwa harga CPO global cenderung bergerak sejalan dengan harga minyak kedelai di pasar ekspor. “Saya mengasumsikan program biodiesel di Amerika Serikat akan diumumkan dalam 3–4 pekan ke depan. Saya kira prediksi saya sangat mungkin terjadi,” ujarnya penuh keyakinan.

Momentum penting berikutnya adalah keputusan pemerintah Indonesia terkait mandatori B50, yang diperkirakan akan diumumkan pada pertengahan tahun depan. Selain faktor kebijakan, Mielke juga berpendapat bahwa harga CPO saat ini berada di bawah nilai intrinsiknya atau undervalued, sehingga memiliki potensi besar untuk memasuki tren bullish yang kuat pada tahun 2026. “Harga CPO di Indonesia akan menyentuh US$1.300 per ton dengan asumsi peningkatan campuran biodiesel di Indonesia diimplementasikan sebelum pertengahan 2026,” pungkas Mielke.

Ringkasan

Harga minyak sawit mentah (CPO) global diperkirakan akan terus meningkat, bahkan melampaui US$1.000 per ton pada tahun depan, dengan potensi mencapai US$1.300 per ton pada pertengahan 2026 jika Indonesia menerapkan mandatori B50. Pertumbuhan konsumsi yang melebihi kapasitas produksi menjadi faktor utama pendorong kenaikan ini. Gapki mencatat rata-rata harga CPO global dari Januari hingga Oktober 2025 telah mencapai US$1.217 per ton.

Beberapa analis memprediksi harga CPO global dapat mencapai US$1.200 per ton pada akhir 2025 dan bertahan hingga pertengahan tahun berikutnya. Implementasi mandatori B50, lambatnya peremajaan sawit rakyat, dan kebijakan biodiesel di Amerika Serikat menjadi faktor kunci yang mempengaruhi dinamika harga. Selain itu, potensi bullish juga didukung oleh pandangan bahwa harga CPO saat ini masih undervalued.

Advertisements