Pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (24/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan penurunan sebesar 0,26%, mengakhiri sesi di level 8.374. Pergerakan ini didominasi oleh sentimen negatif, tercermin dari 417 saham yang terkoreksi, berbanding 237 saham yang menguat, dan 162 saham yang tetap stabil.
Mengiringi performa IHSG, data perdagangan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada siang hari ini mencatat aktivitas yang signifikan. Nilai transaksi saham mencapai Rp 12,70 triliun, dengan total volume 28,83 miliar saham diperdagangkan dalam 1,86 juta kali frekuensi. Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG terpantau sebesar Rp 15.110 triliun.
Di tengah gejolak pasar, sektor ritel modern menjadi sorotan utama. Saham-saham dari jaringan minimarket terkemuka seperti PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) terpantau mengalami koreksi. Saham MIDI turun 3,73% menjadi Rp 310, diikuti oleh AMRT yang terkoreksi 0,56% ke Rp 1.790, dan DNET yang tergelincir 2,22% ke level Rp 8.825.
Penurunan saham-saham ritel ini tidak lepas dari kebijakan terbaru pemerintah. Kementerian Koperasi tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel di wilayah pedesaan, yang berujung pada imbauan kepada jaringan ritel modern—termasuk pengelola Alfamart dan Indomaret—untuk tidak lagi membuka gerai baru di desa-desa. Imbauan ini juga berlaku untuk seluruh jaringan ritel modern lainnya.
Langkah strategis ini dijelaskan oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebagai bagian integral dari upaya memperkuat Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Tujuannya adalah menjadikan koperasi sebagai pusat aktivitas ekonomi utama masyarakat desa, sekaligus menegaskan peran sentral koperasi dalam distribusi kebutuhan pokok sehari-hari di tingkat lokal. Ferry bahkan secara tegas menyampaikan, “Stop bikin retail modern di desa, biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan retail barang-barangnya,” sebagaimana dikutip dari kanal YouTube IDN Times.
Meluasnya sentimen negatif tidak hanya menargetkan sektor ritel. Secara keseluruhan, dari sebelas sektor yang terdaftar di BEI, tujuh di antaranya terpantau berada di zona merah. Sektor dengan penurunan paling signifikan adalah konsumer siklikal, yang tergelincir 1,51%. Salah satu saham yang berkontribusi pada penurunan ini adalah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), yang anjlok 2,71% menjadi Rp 1.435.
Sementara itu, kondisi bursa saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Shanghai Composite berhasil menguat 1,10% dan Nikkei tumbuh 0,94%. Namun, sentimen negatif terlihat di beberapa pasar lain, dengan Straits Times tergelincir 0,69% dan Hang Seng terkoreksi cukup dalam sebesar 2,18%.
Berikut adalah daftar saham top gainers pada perdagangan hari ini:
- PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menguat 2,59% ke Rp 1.585
- PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melonjak 6,15% ke Rp 138
- PT Timah Tbk (TINS) naik 5,29% ke Rp 4.380
Adapun daftar saham top losers meliputi:
- PT Indospring Tbk (INDS) merosot tajam 14,90% ke Rp 1.770
- PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) terkoreksi 9,20% ke Rp 790
- PT Petrosea Tbk (PTRO) melemah 5,26% ke Rp 6.750