Kapasitas produksi diproyeksi 21 juta ton, berapa target harga saham TPIA?

Emiten konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), menargetkan peningkatan kapasitas produksi total mereka secara signifikan hingga mencapai 21 juta ton pada tahun 2027.

Advertisements

Proyeksi ambisius ini didorong oleh pembangunan pabrik chlor alkali and ethylene dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi, mengungkapkan bahwa progres konstruksi pabrik ini telah mencapai 56% dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp 15 triliun.

Pabrik CA-EDC ini menjadi tonggak penting dalam strategi ekspansi Chandra Asri. Suryandi menjelaskan bahwa penambahan kapasitas dari ekspansi yang sudah ada akan mendongkrak total kapasitas produksi dari 17,6 juta ton pada 2025 menjadi 21 juta ton pada tahun 2027. Pernyataan ini disampaikan Suryandi dalam diskusi bertajuk “Menakar Transformasi Chandra Asri Group di Tengah Dinamika Dunia Industri” di Jakarta, Selasa (24/2).

Direktur Legal dan Hubungan Eksternal TPIA, Edi Riva’i, menambahkan bahwa pertumbuhan kapasitas produksi TPIA mengalami peningkatan pesat dalam dua tahun terakhir. Salah satu pendorong utamanya adalah akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte Ltd di Singapura. Fasilitas refinery milik Aster ini turut memperkuat kemampuan Chandra Asri Group dalam memproduksi beragam produk petrokimia.

Advertisements

Secara spesifik, Edi menyebutkan bahwa pabrik CA-EDC yang dioperasikan melalui Chandra Asri Alkali (CAA) dirancang sebagai fasilitas berskala dunia. Keberadaannya sangat strategis untuk mendukung hilirisasi rantai nilai nikel, khususnya bagi kebutuhan industri kendaraan listrik. Pabrik ini nantinya akan memproduksi lebih dari 400 KTA (ribu ton per tahun) soda kaustik kering dan 500 KTA ethylene dichloride (EDC), yang bertujuan memenuhi kebutuhan pasar regional yang masih mengalami kekurangan pasokan.

Selain melayani pasar domestik, Edi menggarisbawahi bahwa fasilitas ini juga membuka peluang ekspor EDC, dengan Thailand sebagai salah satu target potensial. Pada fase awal operasionalnya, kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 827.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun.

Dalam jangka panjang, Suryandi memproyeksikan bahwa produksi soda kaustik ini mampu menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun, setara dengan sekitar US$ 293 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun. Sementara itu, seluruh produksi EDC akan dialokasikan untuk ekspor, dengan potensi devisa mencapai sekitar US$ 300 juta atau setara Rp 5 triliun per tahun.

Dengan rampungnya pembangunan pabrik CA-EDC, Edi optimistis bahwa kebutuhan nasional akan chlor-alkali serta permintaan pasar Asia Tenggara untuk EDC akan terpenuhi sepenuhnya pada tahun 2027.

Target Harga Saham TPIA

Seiring dengan prospek bisnis yang semakin cerah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kinerja TPIA kian positif dan sahamnya memasuki fase bullish. Ia merekomendasikan kepada investor untuk melakukan akumulasi beli saham TPIA, dengan target harga jangka pendek di Rp 7.400 dan jangka panjang di Rp 8.700. Sementara itu, level support TPIA berada pada Rp 6.950 dan Rp 6.600.

Salah satu katalis positif yang disoroti Nafan adalah pembangunan pabrik CA-EDC di Cilegon yang terus berjalan dan ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal pertama tahun 2027.

Menurutnya, proyek ini akan mendiversifikasi produk TPIA ke sektor hilir, seperti bahan baku alumina dan nikel, yang dikenal memiliki margin keuntungan yang lebih baik.

Nafan juga melihat TPIA tengah melakukan transformasi bisnis melalui serangkaian akuisisi strategis. Ini termasuk akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte Ltd yang sebelumnya dimiliki Shell Energy and Chemicals Park Singapore, serta jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura.

Selain itu, kepemilikan perseroan di sektor pelabuhan, energi, dan air memberikan pendapatan berulang (recurring income) yang signifikan, menopang kondisi keuangan perusahaan. Kinerja TPIA sendiri dilaporkan mulai pulih pada kuartal ketiga 2025 setelah periode sebelumnya sempat mencatat kerugian.

Perseroan juga telah mengumumkan program buyback saham hingga Rp 2 triliun yang akan berlangsung dari 6 Februari 2026 hingga 5 Mei 2026, serta memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo untuk obligasi berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun. Namun, Nafan mencatat bahwa tantangan utama yang dihadapi TPIA adalah margin keuntungan yang masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dan produk kimia global.

Di sisi lain, industri petrokimia global masih menghadapi kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang signifikan dari Tiongkok, yang turut menekan harga jual produk-produk Chandra Asri.

Secara fundamental, Nafan menyatakan bahwa TPIA kini jauh lebih kuat dibandingkan satu atau dua tahun lalu berkat penambahan aset di Singapura. Meski demikian, karena lonjakan laba lebih banyak didorong oleh faktor nonoperasional, investor perlu mencermati apakah perseroan mampu menjaga profitabilitas operasional secara konsisten pada tahun 2026.

Dari aspek teknikal, pergerakan saham TPIA juga sering kali dipengaruhi oleh aliran dana institusi besar serta sentimen dari berbagai aksi korporasi, seperti akuisisi maupun rencana IPO anak usaha, yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada tahun 2025 lalu.

Oleh karena itu, Nafan menyimpulkan bahwa saham TPIA sangat cocok bagi investor dengan profil risiko moderat-agresif yang memiliki keyakinan kuat terhadap katalis ekspansi jangka panjang Grup Barito.

Advertisements