Magang nasional masih menumpuk di Jawa, Menaker targetkan 38 provinsi pada 2026

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dengan tegas menargetkan Program Pemagangan Nasional, yang dikenal sebagai MagangHub, untuk dapat menjangkau seluruh provinsi di Indonesia pada tahun 2026. Ini adalah langkah strategis pemerintah untuk mengakhiri konsentrasi program magang yang selama ini menumpuk di Pulau Jawa, demi membuka lebih banyak kesempatan kerja yang merata bagi para lulusan muda di berbagai daerah.

Advertisements

“Data MagangHub menunjukkan adanya penumpukan peserta magang di Pulau Jawa. Kami bertekad untuk menyebarkan kesempatan ini ke setiap provinsi,” ungkap Yassierli saat memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pemagangan nasional di PT Ecogreen Oleochemicals, Batam, Kepulauan Riau, pada Selasa (24/2), dalam keterangan tertulisnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mendistribusikan manfaat program secara adil.

Untuk mewujudkan pemerataan magang ini, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menyiapkan strategi penguatan ekosistem magang di daerah. Pendekatan ini dimulai dengan melakukan pemetaan target yang cermat untuk setiap provinsi, didasarkan pada sektor-sektor unggulan dan kapasitas industri lokal. Selain itu, upaya juga difokuskan pada perluasan jaringan mitra penyelenggara pemagangan, baik dari kalangan perusahaan swasta maupun instansi pemerintah.

“Kami menetapkan peta target per provinsi yang realistis, berlandaskan sektor unggulan dan kapasitas industri daerah, bukan sekadar mengejar angka pemerataan semata,” jelas Yassierli, menekankan pendekatan yang lebih terukur dan relevan dengan potensi masing-masing wilayah. Ini memastikan bahwa program magang yang diselenggarakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja lokal.

Advertisements

Baca juga:

  • Kemnaker Denda 12 Perusahaan Pelanggar TKA Rp4,48 Miliar, Ini Daftarnya
  • Pemerintah Optimis 30% Peserta Program Magang Nasional Jadi Karyawan Tetap
  • Pendaftar Magang Nasional Membludak, tapi 25 Ribu Lowongan Tidak Terisi

Lebih lanjut, setiap daerah didorong untuk aktif memiliki jumlah mitra yang memadai, mentor yang siap sedia membimbing, serta rencana pembelajaran yang terstruktur. Ini krusial untuk memastikan bahwa kualitas program magang tetap terjaga dan relevan, meskipun cakupannya diperluas secara signifikan di seluruh nusantara.

Menteri Ketenagakerjaan juga menyoroti pentingnya proses pemilihan tempat magang melalui MagangHub yang lebih adil bagi semua daerah. Meskipun peserta tetap diberikan kebebasan penuh untuk memilih perusahaan tujuan mereka, pemerintah akan mengambil langkah proaktif untuk membuat perusahaan-perusahaan di luar Jawa lebih mudah ditemukan di platform dan tampil lebih menarik, khususnya bagi yang telah terbukti memiliki standar pembinaan yang berkualitas tinggi.

“Peserta magang memilih sendiri perusahaan tujuan mereka. Hal ini sekaligus menjadi tantangan menarik bagi perusahaan: bagaimana agar mereka bisa menjadi pilihan utama para peserta magang? Ini menciptakan kompetisi sehat, tidak hanya di antara peserta, tetapi juga di antara perusahaan penyedia program,” terang Yassierli, menggambarkan dinamika positif yang diharapkan muncul.

Menurut Yassierli, perusahaan yang ingin menarik minat lulusan muda berbakat harus menunjukkan komitmen nyata. Ini mencakup penyediaan program pembelajaran yang terstruktur dan relevan, serta dukungan fasilitas yang memadai untuk menunjang pengalaman magang yang optimal. Komitmen ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik dan efektivitas program secara keseluruhan.

Dalam kunjungan kerjanya ke PT Ecogreen Oleochemicals, Yassierli menyampaikan apresiasi mendalam atas standar pembinaan yang diterapkan oleh perusahaan tersebut. Ia memuji PT Ecogreen tidak hanya sebagai entitas industri, tetapi juga sebagai “jembatan transisi” yang efektif bagi lulusan baru menuju dunia kerja profesional, bahkan dengan menyediakan fasilitas vital seperti makan dan tempat tinggal bagi para peserta.

“Kami sangat mengapresiasi PT Ecogreen Oleochemicals yang telah menetapkan standar tinggi dalam pemagangan. Ini adalah contoh konkret kolaborasi sinergis antara pemerintah dan industri untuk mempersiapkan fresh graduate menghadapi realitas dunia kerja yang sesungguhnya,” ujarnya, menyoroti pentingnya kemitraan strategis ini.

Salah satu peserta magang yang merasakan langsung manfaat program, Radja Ghiffary Al Hakim, seorang lulusan Teknik Mesin Universitas Syiah Kuala, mengungkapkan bahwa ia mendapatkan peningkatan signifikan pada kemampuan teknis maupun keterampilan non-teknis selama mengikuti program. Pengalamannya menjadi bukti nyata efektivitas MagangHub dalam mengasah potensi.

“Saya merasa sangat beruntung bisa bergabung dalam program magang nasional ini. Keterampilan saya benar-benar terasah dan kini saya merasa siap untuk terjun ke dunia kerja profesional,” kata Radja, merefleksikan transformasinya melalui program tersebut.

Pada hari yang sama, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor juga melakukan peninjauan program MagangHub di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Plant 1, Karawang, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa sektor industri harus bertransformasi menjadi “laboratorium pencetak ahli” untuk menjembatani kesenjangan yang kerap terjadi antara teori pendidikan formal dan kebutuhan nyata di lingkungan pabrik.

“Industri tidak seharusnya hanya menjadi konsumen tenaga kerja, melainkan harus berperan sebagai laboratorium pencetak ahli. Kontribusi TMMIN dalam MagangHub ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi efektif dapat memangkas jurang pemisah antara kurikulum sekolah dan kebutuhan riil di pabrik,” ujar Afriansyah, menyoroti peran krusial industri.

TMMIN dinilai memiliki ekosistem pengembangan sumber daya manusia yang sangat matang, mencakup berbagai inisiatif mulai dari Vocation Program, Internship Program, hingga Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang menjangkau sekitar 250 orang setiap tahunnya. Untuk program MagangHub tahun ini, sebanyak 21 peserta telah mengikuti pelatihan intensif di Plant 1, menunjukkan komitmen kuat TMMIN.

“Dengan infrastruktur pelatihan yang sudah demikian matang ini, TMMIN layak dijadikan role model bagi perusahaan manufaktur lainnya. Kami berharap standar pelatihan berkualitas tinggi yang diterapkan di sini dapat ditiru oleh industri lain, demi mewujudkan kompetensi tenaga kerja yang merata secara nasional,” tegasnya, menggarisbawahi pentingnya replikasi praktik terbaik untuk peningkatan kualitas SDM.

Advertisements