Pasar saham bergerak hati-hati, BI rate jadi penentu arah IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Dalam sepekan terakhir, indeks berhasil menguat 3,49 persen, memberikan angin segar di tengah derasnya sentimen global dan setelah guncangan isu MSCI serta tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Advertisements

Namun, ketenangan pasar masih rapuh. Lembaga pemeringkat Moody’s baru-baru ini memangkas outlook beberapa saham big caps, termasuk empat bank besar nasional, menambah daftar kekhawatiran investor. Ditambah lagi, FTSE Russell menunda perubahan komposisi indeks Indonesia, sembari menunggu hasil reformasi pasar yang sedang berjalan. Penundaan ini, tegasnya, berbeda dengan kasus MSCI yang terkait country classification.

Di tengah dinamika global tersebut, arus dana asing masih menunjukkan tren outflow di pasar domestik. Tercatat, dalam sepekan terakhir, IHSG mengalami outflow sebesar Rp 6,1 triliun. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang paling terdampak, terkoreksi 6,19 persen dengan outflow mencapai Rp 3,8 triliun. Untungnya, penguatan signifikan dari saham-saham konglomerasi berhasil menahan tekanan pasar agar tidak terpuruk lebih dalam.

Menurut Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), pasar saat ini berada dalam fase selektif. “Ketakutan investor terhadap dampak negatif AI juga berpotensi membuat volatilitas Wall Street tetap tinggi, meskipun bias pergerakan cenderung konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas pertumbuhan,” jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).

Advertisements

Menyoroti masa depan jangka pendek, fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) pada 19 Februari. Arah kebijakan BI Rate akan menjadi penentu sentimen krusial, terutama bagi sektor perbankan dan properti. Bagi investor ritel, stabilitas atau perubahan suku bunga akan sangat memengaruhi keputusan mereka dalam menempatkan dana di saham, deposito, atau instrumen investasi lainnya.

Di sisi lain, optimisme juga muncul dari data pertumbuhan kredit yang tetap ekspansif, mengindikasikan bahwa permintaan usaha dan konsumsi di sektor riil belum meredup. Selain itu, laporan keuangan kuartal IV/2025 mulai menjadi pijakan baru bagi investor untuk menilai kesehatan emiten secara fundamental.

Secara teknikal, pergerakan IHSG masih tertahan di area krusial 8.300, yang menjadi level resistance belum berhasil ditembus. Level support terdekat berada di kisaran 8.120. Selama level 8.300 belum terlewati secara meyakinkan, pergerakan indeks cenderung mendatar dengan volatilitas terbatas.

Untuk periode 18–20 Februari, pasca libur Imlek, IPOT memberikan beberapa rekomendasi saham menarik. Pertama, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan area beli 1.365, target 1.555, dan batas rugi 1.280. Kedua, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) direkomendasikan di 1.895 dengan target 1.945 dan stop loss 1.855. Ketiga, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dengan area beli 1.140, target 1.285, dan stop loss 1.090. Selain itu, Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) juga dinilai prospektif karena berisikan saham-saham berdividen tinggi, yang sangat relevan di tengah musim pembagian dividen interim saat ini.

Hari Rachmansyah menekankan pentingnya kehati-hatian. “Dalam kondisi pasar seperti ini, investor disarankan untuk lebih selektif, dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan memiliki dukungan kinerja yang jelas,” pungkasnya.

Advertisements