Prabowo Dorong Rekonsiliasi Thailand-Kamboja di KTT ASEAN Terkait Batas Negara

Dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 yang berlangsung di Filipina, Presiden Prabowo Subianto menyoroti urgensi penyelesaian sengketa batas wilayah yang tengah memanas antara Thailand dan Kamboja. Hal ini disampaikan dalam sesi Retreat tertutup oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, yang mendampingi Presiden dalam perhelatan tersebut.

Advertisements

Sepanjang tahun 2025, eskalasi sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja meningkat tajam hingga memicu dua kali bentrokan bersenjata di area perbatasan. Konflik tersebut sempat melibatkan pengerahan senjata berat, artileri, roket, hingga pesawat militer. Situasi baru mereda setelah kedua negara akhirnya menyepakati perjanjian gencatan senjata pada 27 Desember 2025.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Prabowo menekankan bahwa hampir seluruh negara di kawasan Asia Tenggara memiliki tantangan serupa terkait delimitasi batas wilayah. Menurutnya, alih-alih mempertajam perbedaan, negara-negara yang bersengketa sebaiknya mengedepankan dialog konstruktif.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, alih-alih mempertajam perbedaan, biarkan urusan legal tetap berjalan, namun di saat yang bersamaan, kita harus mencari jalan positif untuk bekerja sama,” ujar Sugiono saat memberikan keterangan di Cebu, Filipina, Sabtu (9/5).

Advertisements

Bagi Prabowo, orientasi utama dalam penyelesaian sengketa perbatasan adalah memberikan dampak nyata dan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat di masing-masing negara. Ia mendorong agar setiap permasalahan diselesaikan melalui mekanisme dialog, negosiasi, dan semangat kolaborasi.

Baca juga:

  • Prabowo Hadiri Acara Puncak KTT ASEAN ke 48 di Filipina, Bahas Ketahanan Energi
  • ASEAN Sepakat Saling Bantu Jika Ada Negara Alami Kelangkaan Bahan Bakar
  • Prabowo Minta ASEAN Kebut Pengembangan Energi Bersih

Upaya Pemulihan Hubungan Bilateral

Langkah diplomatik pun mulai menunjukkan titik terang. Perdana Menteri Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menempuh proses pemulihan hubungan bilateral secara bertahap. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan trilateral yang melibatkan Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr. sebagai penengah di sela-sela KTT ASEAN di Cebu.

Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Thailand, Sabtu (9/5), kedua pemimpin negara menugaskan Menteri Luar Negeri masing-masing untuk menyusun langkah konkret guna membangun kembali kepercayaan (trust building) dan memulihkan hubungan antarnegara secara gradual.

Pertemuan strategis tersebut dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet. Pihak Thailand secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Filipina selaku ketua ASEAN 2026 atas inisiatif dan dukungan dalam memfasilitasi dialog damai ini.

Ke depannya, pihak-pihak terkait menyambut baik komitmen bersama untuk memperkuat gencatan senjata. Langkah ini diharapkan menjadi landasan kuat untuk terus mendorong dialog konstruktif dan penyelesaian damai yang mengedepankan semangat bertetangga yang baik di kawasan ASEAN.

Ringkasan

Presiden Prabowo Subianto mendesak Thailand dan Kamboja untuk mengedepankan dialog konstruktif dalam menyelesaikan sengketa batas wilayah yang sempat memicu konflik bersenjata sepanjang tahun 2025. Melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, Presiden menekankan pentingnya mencari solusi kolaboratif yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dibandingkan mempertajam perbedaan legal yang ada.

Langkah diplomatik tersebut membuahkan hasil dengan disepakatinya komitmen pemulihan hubungan bilateral secara bertahap antara kedua negara melalui penengah dari Filipina. Para pemimpin Thailand dan Kamboja kini telah menugaskan menteri luar negeri masing-masing untuk menyusun langkah konkret dalam membangun kembali kepercayaan serta memperkuat gencatan senjata demi perdamaian di kawasan ASEAN.

Advertisements