JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, bersama jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menggelar pertemuan strategis dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada Selasa (5/5/2026) malam. Pertemuan tersebut membahas kondisi ekonomi terkini, termasuk langkah konkret untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah.
Perry mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan restu sekaligus arahan untuk menerapkan tujuh langkah kebijakan krusial guna memperkuat dan menstabilkan nilai tukar rupiah di masa depan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kanal YouTube resmi Sekretariat Negara.
Langkah pertama yang akan ditempuh BI adalah intensifikasi intervensi pasar. Otoritas moneter akan melakukan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta di pasar offshore melalui non-deliverable forward (NDF). Aksi ini akan difokuskan di pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York. Perry menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia, yang tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS per akhir Maret 2026, masih sangat cukup untuk mendukung upaya stabilisasi ini.
Strategi kedua melibatkan penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara optimal. Langkah ini bertujuan menarik aliran modal asing (capital inflow) guna mengompensasi keluarnya modal (capital outflow) dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN), obligasi, dan saham. BI mencatat bahwa arus keluar masih terjadi pada SBN, sehingga SRBI menjadi andalan untuk menjaga stabilitas kurs.
Ketiga, BI akan melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder. Hingga saat ini, BI telah menyerap SBN senilai Rp 123,1 triliun secara year to date (ytd) sebagai wujud koordinasi erat antara otoritas fiskal dan moneter. Keempat, bekerja sama dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, BI memastikan likuiditas di pasar dan perbankan tetap melimpah, yang tercermin dari pertumbuhan uang primer yang konsisten berada di level double digit.
Kelima, BI memperketat kebijakan pembelian dolar AS di pasar domestik tanpa underlying. Setelah menurunkan batas dari 100.000 dolar AS menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan sejak April 2026, BI berencana akan memangkasnya kembali menjadi 25.000 dolar AS. Selain itu, BI terus memperkuat local currency transaction (LCT) menggunakan yuan China untuk mendiversifikasi kebutuhan valuta asing dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Keenam, BI memberikan fleksibilitas bagi perbankan domestik untuk turut menjual NDF di pasar offshore. Langkah ini dilakukan agar pasokan valas di luar negeri meningkat sehingga kendali terhadap stabilitas nilai tukar dapat lebih terjaga. Ketujuh, pengawasan ketat akan ditingkatkan terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar dalam volume tinggi. Koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilakukan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Rupiah Terus Melemah
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (5/5/2026) tercatat melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 17.423,5 per dolar AS menurut data Bloomberg. Level tersebut menjadi titik terlemah sepanjang sejarah. Perry memprediksi bahwa tekanan ini bersifat jangka pendek, yang dipicu oleh kombinasi faktor global dan musiman.
Faktor global yang menekan rupiah antara lain lonjakan harga minyak dunia serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat, dengan yield US Treasury 10 tahun yang kini mencapai 4,47 persen. Sementara dari sisi musiman, periode April hingga Juni biasanya mencatatkan permintaan dolar yang tinggi untuk kebutuhan repatriasi dividen, pembayaran utang, serta biaya keberangkatan jamaah haji.
Meski demikian, Perry menekankan bahwa rupiah saat ini masih berada dalam kondisi undervalue atau di bawah nilai fundamentalnya. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, inflasi terkendali, dan cadangan devisa yang kuat, ia meyakini rupiah memiliki potensi besar untuk kembali stabil dan menguat.
Konflik Selat Hormuz
Senada dengan hal tersebut, pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti ketegangan geopolitik di Selat Hormuz sebagai pemicu ketidakpastian pasar. Konflik antara AS dan Iran, yang melibatkan insiden serangan di jalur air strategis tersebut, telah memicu kekhawatiran global akan gangguan pasokan energi.
Ketegangan yang kembali memanas sejak Senin (4/5/2026) itu dinilai Ibrahim telah merusak sentimen pasar yang sudah rapuh. Laporan mengenai bentrokan militer antara pasukan AS dan Iran di Teluk menjadi perhatian utama pelaku pasar, yang pada akhirnya turut memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas pasar keuangan global, termasuk mata uang rupiah.
Ringkasan
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan tujuh langkah strategis kepada Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level terlemah di angka Rp17.423,5 per dolar AS. Langkah tersebut meliputi intensifikasi intervensi pasar di pasar domestik maupun global, optimalisasi instrumen SRBI, pembelian SBN, hingga memperketat aturan pembelian dolar AS tanpa underlying. Selain itu, otoritas memperkuat penggunaan mata uang lokal (LCT) dan meningkatkan pengawasan terhadap transaksi valas guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh faktor global seperti kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan konflik geopolitik di Selat Hormuz, serta kebutuhan musiman untuk repatriasi dividen. Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen dan cadangan devisa yang memadai. BI meyakini bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat jangka pendek dan nilai tukar memiliki potensi untuk kembali stabil.