
Babaumma – JAKARTA — Transformasi penting sedang berlangsung dalam pengelolaan perusahaan-perusahaan pelat merah. Pengalihan sebagian kepemilikan saham dari Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia kepada Badan Pengaturan (BP) BUMN dipandang sebagai katalisator positif yang signifikan bagi prospek emiten BUMN di pasar modal Indonesia.
Langkah strategis ini diyakini mampu memperbaiki fondasi tata kelola perusahaan sekaligus mengerek tingkat kepercayaan investor terhadap BUMN di masa mendatang. Sebuah perubahan yang diharapkan membawa era baru profesionalisme dan akuntabilitas di lingkungan Badan Usaha Milik Negara.
Abida Massi Armand, seorang analis terkemuka dari BRI Danareksa Sekuritas, menggarisbawahi bahwa struktur baru ini berhasil menciptakan batasan peran yang jauh lebih jelas dan tegas antara fungsi regulator dan operator. Penataan ini, menurutnya, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025, yang bertujuan untuk optimalisasi kinerja BUMN secara menyeluruh.
Dalam skema yang direformasi ini, BP BUMN kini mengemban mandat krusial untuk berfokus penuh pada pengawasan kinerja dan tata kelola perusahaan. Sementara itu, Danantara akan berfungsi sebagai pengelola investasi yang lebih lincah, fleksibel, dan senantiasa berorientasi pada dinamika pasar yang cepat berubah. Pembagian tugas yang terang benderang ini menjanjikan efisiensi dan responsivitas yang lebih baik dalam operasional BUMN.
“Kehadiran struktur baru ini mengirimkan sentimen positif yang kuat bagi para investor. Hal ini tidak hanya meningkatkan profesionalisme manajemen perusahaan, tetapi juga memberikan perlindungan hukum yang lebih kokoh bagi jajaran direksi melalui prinsip business judgment rule, yang kini telah dipertegas dalam regulasi terbaru,” terang Abida dalam keterangannya baru-baru ini.
Berlandaskan pada penguatan fundamental dan reformasi tata kelola yang progresif ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham BUMN sebagai pilihan investasi utama di tahun 2026. Analisis mendalam mereka menunjukkan potensi pertumbuhan yang menarik dari sektor-sektor kunci yang dikelola oleh negara.
Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi favorit dengan target harga ambisius Rp5.500 per saham. Rekomendasi ini didukung oleh dominasinya yang tak terbantahkan di segmen korporasi. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dipatok pada target harga Rp4.700, berkat valuasinya yang sangat atraktif dan kebijakan dividen yang kompetitif, menjadikannya menarik bagi para pemodal.
Bergerak ke sektor infrastruktur dan telekomunikasi, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) turut masuk dalam daftar pilihan investasi dengan target harga Rp4.750. Proyeksi positif ini didukung oleh optimalisasi berkelanjutan ruas-ruas tol baru serta efisiensi beban bunga yang berhasil dicapai. Di sisi lain, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) diproyeksikan mencapai level Rp4.000 per saham. Pertumbuhan TLKM diyakini akan ditopang oleh ekspansi masif di bisnis pusat data atau data center, seiring dengan pengembangan unit infrastruktur digital atau InfraCo yang semakin matang dan menjanjikan prospek cerah.
—
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.