
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memasuki 2026 dengan beban ekspektasi baru. Hampir setahun sejak berdiri pada 24 Februari 2025, Danantara kini memasuki tahun eksekusi dengan memacu proyek hilirisasi bernilai miliaran dolar dan merampungkan restrukturisasi BUMN.
Ujian paling konkret bagi Danantara akan datang pada Februari 2026. Danantara dijadwalkan memulai peletakan batu pertama sejumlah proyek hilirisasi strategis. Presiden Prabowo Subianto pun memasang target tinggi.
Saat berpidato dalam peresmian Refinery Development Master Plan di Balikpapan pada Senin (12/1) Prabowo menargetkan Danantara bisa memulai minimal enam proyek hilirisasi pada Februari 2026. Target itu dikebut seiring ekspektasi masuknya investasi asing berskala besar.
“Kita harapkan minimal enam proyek hilirisasi, mungkin bisa sampai 11. Nilainya kurang lebih US$ 6 miliar,” ujar Prabowo.
Prabowo berkeyakinan dimulainya proyek hilirisasi akan dibarengi dengan masuknya investasi besar-besaran dari luar negeri. Atas dasar itu, ia menyatakan pemerintah menaruh perhatian besar pada kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola proyek.
“Untuk itu harus benar-benar siapkan awak, siapkan manajemen, siapkan manajer-manajer muda yang bisa menjaga dan mengelola proyek-proyek ini,” ujar Prabowo lagi.
Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan kehadiran lembaga ini bukan sekadar konsolidator BUMN, melainkan mesin investasi pemerintah yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia menyebut sebagai sovereign wealth fund (SWF), Danantara menjadi lengan pemerintah untuk mengelola investasi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Dividen BUMN yang sebelumnya disetorkan ke Kementerian Keuangan kini dapat dikelola secara prudens oleh Danantara untuk diinvestasikan kembali demi keberlanjutan jangka panjang BUMN dan masa depan ekonomi nasional,” ujar Rosan dalam pemaparan outlook awal tahun, Rabu (14/1).
Dengan konsolidasi lebih dari 1.000 entitas BUMN dan anak usaha di bawah satu payung, Danantara memosisikan diri sebagai katalis investasi. Rosan menungkapkan peran terbesar lembaga ini terletak pada investasi, yang selama ini menyumbang sekitar 28–29% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kontribusi terbesar PDB memang konsumsi sekitar 53–54%. Tapi ruang yang bisa kita dorong adalah investasi. Di sinilah Danantara hadir, menumbuhkan kepercayaan investor dalam dan luar negeri,” katanya.
Indikasi awal mulai terlihat. Menurut Rosan, laporan riset JP Morgan dan UBS akhir 2025 menempatkan Danantara sebagai faktor peningkat keyakinan investor terhadap prospek Indonesia. Ia mengatakan salah satu cermin kepercayaan itu tampak pada kinerja pasar modal yang menguat signifikan sepanjang tahun lalu yang membangkitkan optimisme pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Target pertumbuhan ekonomi (danantara)
Namun, fokus Danantara bukan sekadar mengejar angka investasi. Kualitas investasi menjadi prioritas utama, terutama di sektor energi bersih. Ambisi itu didukung oleh realisasi investasi nasional yang terus meningkat.
Pada 2025, target investasi pemerintah sebesar Rp 1.905 triliun terlampaui dengan realisasi Rp 1.937 triliun dan menyerap 2,7 juta tenaga kerja. Menurut Rosan, Danantara ingin mengambil peran lebih besar dalam siklus ini melalui kombinasi investasi padat modal dan padat karya mulai dari sektor mineral hingga proyek kelapa senilai US$500 juta yang menyerap sekitar 10 ribu pekerja.
Rosan menyebut proyek-proyek yang kini tengah disiapkan Danantara berskala jumbo. Targetnya tak hanya untung besar, tapi juga memberi dampak pertumbuhan untuk sektor lainnya.
“Itu ada bauksit, aluminium di Balikpapan, kemudian ada bioavtur, kemudian ada refinery juga. Kemudian ada (budidaya) unggas di lima tempat,” ujar Rosan.
Rosan menjelaskan proyek hilirisasi terbaru itu meliputi pengembangan industri smelter aluminium dari alumina dan fasilitas smelter grade alumina (SGA) dari Bauksit, di Mempawah, Kalimantan Barat. Selain itu, juga ada fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, yang saat ini telah beroperasi.
Selain itu, Danantara juga membuka peluang memulai proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) pada periode yang sama. Namun berbeda dengan proyek lain, DME masih akan melalui kajian teknologi mendalam sebelum benar-benar masuk tahap konstruksi.
Langkah agresif ini sejalan dengan arahan bisnis baru yang telah ditetapkan. Bagi Danantara, proyek-proyek ini lebih dari sekadar pembangunan fisik. Hilirisasi diposisikan sebagai jangkar investasi jangka menengah untuk mendorong industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Agenda investasi Danantara juga menyentuh sektor energi berbasis lingkungan seperti waste to energy (WtE). Program yang sempat tersendat sejak 2018 kini dihidupkan kembali dengan skema baru yang lebih transparan. Danantara menargetkan pembangunan fasilitas WtE di 33 kota dengan harga acuan listrik US$ 20 sen per kWh, tanpa proses negosiasi berlarut.
“Dulu satu proyek bisa negosiasi 3–4 tahun. Sekarang semuanya kita buka secara transparan dan terstandar,” kata Rosan.
Dalam Economic Outlook 2026, Danantara menilai pemulihan ekonomi Indonesia pada 2026 akan semakin solid, ditopang transmisi pelonggaran moneter 125 basis poin sepanjang 2025 serta pergeseran kebijakan fiskal ke arah pro-pertumbuhan. Namun laporan tersebut juga mengingatkan bahwa pemulihan berbasis konsumsi dan belanja negara memiliki batas.
Danantara menargetkan investasi yang bersifat produktif dan berorientasi nilai tambah dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Masalahnya, sepanjang 2025 investasi menunjukkan gejala menyempit.
Data tim riset Danantara menunjukkan, penanaman modal asing melemah akibat ketidakpastian global, sementara investasi domestik masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu seperti pertambangan, logistik, dan kesehatan. Proyek hilirisasi Danantara diharapkan menjadi pemicu perluasan basis investasi sekaligus sinyal bahwa Indonesia siap memasuki fase industrialisasi lanjutan.
Di tengah upaya memacu target, Danantara mengakui risiko eksekusi juga besar. Proyek bernilai miliaran dolar berpotensi memicu tekanan inflasi, kebutuhan pembiayaan besar, serta tantangan tata kelola. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia, manajemen proyek, dan disiplin pengambilan keputusan menjadi faktor penentu apakah hilirisasi akan menjadi katalis pertumbuhan atau justru sumber tekanan baru.
Ujian Baru Restrukturisasi BUMN
Jika investasi adalah mesin pertumbuhan, maka 2026 akan menjadi fase eksekusi penuh restrukturisasi BUMN. Total aset BUMN yang mencapai lebih dari separuh PDB nominal Indonesia menjadikan agenda ini bersifat sistemik.
Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target ambisius untuk memangkas jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 200. Danantara menegaskan reformasi perusahaan-perusahaan pelat merah besar akan menjadi agenda utama mulai 2026.
Sesuai dengan semangat awal, Danantara dibentuk untuk mengakhiri pola lama pengelolaan BUMN yang terfragmentasi. Sebelum 2025, kepemilikan, pengawasan, dan aliran dividen tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.
Melalui sentralisasi di Danantara Asset Management (DAM), pemerintah berharap tercipta tata kelola yang lebih konsisten. Rosan menyebut reformasi tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penerapan standar kepatuhan kelas dunia sebagai prioritas.
“Kita ingin melakukan transformasi menyeluruh dari corporate governance, transparansi, hingga implementasi rencana bisnis. Responsnya sudah terlihat, misalnya di Telkom, Garuda, dan Krakatau Steel,” ujarnya.
Sepanjang 2025, fokus restrukturisasi lebih banyak diarahkan pada identifikasi masalah dan pembenahan awal neraca. Pemulihan BUMN sakit seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Timah Tbk (TINS) menjadi laboratorium awal pemulihan melalui reset operasional dan neraca dengan syarat yang ketat.
Target utama restrukturisasi adalah menjadikan BUMN sebagai entitas yang lebih tangguh menghadapi siklus ekonomi makro, termasuk fluktuasi harga komoditas dan volatilitas pasar keuangan global yang dapat mengganggu keputusan pembiayaan.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai siap memberikan nilai tambah bagi pemegang saham melalui pemanfaatan aset yang lebih optimal. Langkah perampingan anak usaha dan fokus pada bisnis inti menjadi bagian dari strategi tersebut.
Menurut Rosan, restrukturisasi Telkom merupakan salah satu bentuk baik transformasi yang dijalankan. Dalam enam bulan terakhir, nilai saham perusahaan telekomunikasi pelat merah itu melonjak 81%, dengan peningkatan valuasi sekitar Rp 112–115 triliun.
Danantara juga menyebut telah memperoleh kredibilitas pasar dari pemulihan awal terhadap GIAA, KRAS dan TINS. Respons positif pasar tercermin dari kenaikan harga saham emiten-emiten tersebut.
“Artinya transformasi yang dilakukan mulai diapresiasi pasar,” kata Rosan.
Kinerja restrukturisasi BUMN (Danantara)
Di sisi lain, sektor konstruksi BUMN menghadapi ujian berbeda. Restrukturisasi tujuh perusahaan karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT PP Properti (PPRO) diarahkan untuk merampingkan jumlah entitas dan memperketat tata kelola.
Danantara menilai keberhasilan restrukturisasi sektor konstruksi dan infrastruktur ini di 2026 akan ditentukan oleh kemampuan memperbaiki seleksi proyek dan membatasi leverage. BUMN Karya disiapkan untuk kembali ke pasar modal dengan struktur pendanaan yang kredibel dan tidak sekadar mengandalkan penjadwalan ulang utang.
Di saat yang sama Danantara menyebut bank-bank milik negara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berada di posisi yang tepat untuk pemulihan pendapatan. Penurunan biaya dana dan perbaikan pertumbuhan kredit dinilai akan menopang kinerja mereka pada 2026.
Untuk sektor perbankan Himbara, Danantara akan menekankan penguatan teknologi, transparansi, dan kolaborasi lintas ekosistem. BRI akan tetap difokuskan pada UMKM dan ritel, Mandiri pada korporasi, serta BNI pada layanan internasional.
Febriany Eddy. (Katadata)
Managing Director Business Danantara Febriany Eddy mengatakan restrukturisasi yang dijalankan Danantara tidak boleh bersifat kosmetik. Menurutnya, pembenahan BUMN harus dimulai dari akar persoalan, bukan sekadar memperbaiki neraca keuangan. Pergantian direksi pun akan terus dilakukan untuk mendapatkan formasi ideal.
Menurut Feby selama ini banyak proses restrukturisasi hanya berfokus pada aspek finansial seperti penjadwalan ulang utang atau suntikan modal tanpa menyentuh faktor yang lebih mendasar seperti kepemimpinan, model bisnis, dan disiplin operasional. Danantara, kata dia, ingin memastikan setiap transformasi dilakukan secara komprehensif mulai dari fundamental business review, pembenahan tata kelola, hingga perubahan budaya kerja agar hasilnya berkelanjutan.
“Kalau kita mau transformasi atau restrukturisasi, itu harus fundamental. Tidak bisa icing on the cake saja. Banyak yang dulu restrukturnya hanya fokus di finansial, padahal financial is only the beginning. Pemimpinnya harus direstruktur juga, karena pemimpin menentukan arah,” ujar Febriany.
Pendekatan serupa juga diterapkan dalam proses perampingan jumlah entitas BUMN dari lebih 1.000 menjadi sekitar 200 perusahaan. Febriany menjelaskan, keputusan merger, likuidasi, atau penjualan anak usaha akan didasarkan pada analisis yang sangat pragmatis. Anak perusahaan yang tidak lagi relevan secara bisnis, hanya melayani induk, atau justru saling bersaing dengan sesama BUMN akan menjadi kandidat utama untuk digabung atau ditutup.
Sementara itu, ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan fokus hilirisasi dan restrukturisasi yang dilakukan Danantara harus dilakukan dengan tidak hanya berorientasi pada uang. Transformasi menurut dia perlu dijalankan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, dan negara.
Menurut Wijayanto, restrukturisasi BUMN sakit perlu menjadi prioritas dan dijalankan dengan tuntas, dengan tidak asal menyelamatkan saja tetapi juga harus membuat BUMN sakit kembali produktif.
“Danantara perlu tegas, jika memang harus ada penutupan BUMN atau langkah efisiensi PHK. Lakukan saja, asal dengan proses yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Wijayanto.
Sementara itu ekonomi dan pemerhati BUMN Toto Pranoto menyatakan pada 2026 Danantara diharapkan lebih fokus pada eksekusi setelah fokus pada pembenahan internal selama 2025.
“Sebaiknya tahun ini lebih banyak pada corporate action sehingga kontribusi BUMN bisa semakin meningkat. Publik butuh diyakinkan bahwa pengelolaan BUMN di bawah Danantara bisa lebih baik dibanding periode sebelumnya,” ujar Toto.
Valuasi Murah dan Disiplin Reformasi
Sementara proyek hilirisasi bersiap dimulai, pasar modal telah lebih dulu memberi sinyal meski dengan nada yang terbelah. Sepanjang 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak sekitar 20% dan sempat mencetak rekor di level 8.710, menjadi salah satu kinerja terbaik dalam lebih dari satu dekade.
Namun reli tersebut tidak dinikmati merata. Indeks LQ45, yang didominasi saham-saham blue chip termasuk BUMN besar, kembali tertinggal dibandingkan indeks negara berkembang lain. Danantara menilai ketertinggalan ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko struktural, bukan semata lemahnya fundamental emiten.
Valuasi saham-saham likuid Indonesia berada pada level yang oleh Danantara disebut “crisis-like”. IDX30 diperdagangkan sekitar 1,1 standar deviasi di bawah rata-rata historisnya, bahkan lebih murah dibandingkan pasar regional. Kondisi ini menciptakan ruang re-rating besar yang menuntut kredibilitas reformasi dan transformasi BUMN.
Pasar mulai memberi penghargaan ketika restrukturisasi mulai terlihat arahnya. Saham KRAS melonjak lebih dari tiga kali lipat sepanjang 2025 setelah langkah-langkah pengurangan beban bunga dan perbaikan arus kas mulai terlihat. TINS mengalami re-rating seiring pengetatan penegakan hukum terhadap penambangan ilegal yang menekan kebocoran produksi.
Sementara saham TLKM mencatatkan penguatan lebih dari 30% setelah melakukan perampingan anak usaha dan meningkatkan fokus pada utilisasi aset. Saham Telkom bahkan mencatat arus masuk asing di tengah tren jual bersih investor global terhadap pasar Indonesia.
Respons ini menjadi sinyal penting. Investor bersedia memberi kepercayaan, tetapi hanya pada restrukturisasi yang disertai perubahan nyata. Dalam Economic Outlook 2026, Danantara menegaskan bahwa agenda ini bukan siklus bailout, melainkan reset operasional dan neraca dengan syarat yang ketat.
Secara agregat, konsensus memperkirakan laba bersih BUMN tumbuh sekitar 10% pada 2026. Sejumlah saham BUMN juga menawarkan imbal hasil dividen di atas 8% yang membuka peluang di tengah penurunan imbal hasil obligasi dan meningkatnya daya tarik ekuitas.
Dampak Berganda Pengumuman Jajaran Direksi Danantara (Katadata/Fauza Syahputra)
Tak hanya meluaskan sayap bisnis, di tahun eksekusi ini Danantara diharapkan bisa membawa BUMN lebih bernilai guna. Toto mengatakan, agar pengembalian investasi bisa lebih optimal Danantara perlu memikirkan penempatan investasi dalam portofolio investasi blue chips yang menjanjikan return tinggi. Investasi tak hanya dilakukan di pasar domestik tapi juga di pasar global.
“Penempatan dalam direct investment yang mampu menarik investor global seperti untuk chip sehingga return proyek diharapkan cukup baik, di samping juga bisa sediakan lapangan kerja dan multiplier efek yang signifikan,” ujar Toto.
Untuk meningkatkan return investasi, Danantara menurut Toto perlu memperhatikan empat hal yaitu investasi berorientasi jangka panjang untuk 5-10 tahun. Keberlanjutan ini yang menurut Toto membuat lembaga investasi negara lain seperti Temasek, Khazanah dan GIC sukses.
Syarat kedua adalah mengurangi terjadinya politisasi kebijakan Danantara yang membutuhkan kemauan politik dari Pemerintah. Selanjutnya mengurangi penugasan yang di luar kapasitas dan kapabilitas BUMN. Serta keempat adalah memastikan BOC dan BOD yang memimpin BUMN dan anak perusahaannya dipilih secara profesional.
“Jadi, sebaiknya Danantara tidak terlalu fokus mengejar target jangka pendek seperti keuntungan atau dividen tahun 2026 tetapi perlu lebih mengejar target strategis jangka menengah-panjang,” ujar Toto.
Sementara itu, Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah mengatakan dalam masa eksekusi ini Danantara perlu membangun kembali industri yang berbasis kerakyatan. Ia mendukung program pemerintah yang memberi dampak berganda seperti proyek Waste to Energy yang tidak hanya menghasilkan energi tetapi juga menyelesaikan persoalan persampahan.
“BUMN kita seharusnya bisa menjadi tulang tumpu, menjadi bagian dari solusi dan tidak menjadi bagian dari masalah,” ujar Piter.
Dia berharap restrukturisasi yang kini dijalankan bisa membuat BUMN tidak hanya memanfaatkan berbagai fasilitas tetapi bisa mendorong pertumbuhan. Selain pembenahan lewat, Danantara juga perlu memberikan nilai hasil maksimal dari proyek investasi yang berjalan.
“Kalau dana investasi di Danantara, mereka harus benar-benar berhitung secara cermat, kalkulasi, analisis yang tepat, agar mereka bisa mendapatkan tingkat return yang tinggi dengan ukuran risiko tertentu,” ujar Piter lagi.
Untuk bisa memaksimalkan investasi, Piter mengingatkan Danantara untuk menempatkan portofolio investasi dalam instrumen beragam tidak hanya di pasar modal tetapi juga di sektor riil dan investasi lain. Selain berpotensi mendapatkan imbal hasil maksimal diversifikasi juga diperlukan untuk meminimalisir risiko.