IHSG ditutup turun ke 6.858, saham BREN, BYAN dan ASII di zona merah
IHSG turun 0,87% ke 6.858,89 pada 12 Mei 2026, dipicu koreksi saham BREN, BYAN, dan ASII. Kapitalisasi pasar mencapai Rp12.171 triliun.
IHSG turun 0,87% ke 6.858,89 pada 12 Mei 2026, dipicu koreksi saham BREN, BYAN, dan ASII. Kapitalisasi pasar mencapai Rp12.171 triliun.
Rencana kenaikan tarif royalti logam oleh Kementerian ESDM berdampak pada volatilitas pasar saham, terutama emiten timah dan emas, mulai Juni 2026.
IHSG turun 0,99% ke 7.026,78 dan kapitalisasi pasar turun 1,69% jadi Rp12.305 triliun.
IHSG turun 5,91% ke 7.137,21 pada 9-13 Maret 2026, kapitalisasi pasar BEI turun 6,96% menjadi Rp12.678 triliun. Transaksi harian juga menurun signifikan.
IHSG turun 13,95% sejak awal tahun, terburuk di Asia Tenggara. Ini bisa jadi peluang beli saham berfundamental kuat saat valuasi menarik.
IHSG menjadi indeks dengan kinerja terburuk di regional, dengan peluang akumulasi bertahap untuk saham berfundamental baik terbuka lebar.
SOTS hingga MSKY masuk daftar top losers sepekan, IHSG turun 0,44% dengan peningkatan transaksi harian 25,35% pada periode 23-27 Februari 2026.
IHSG turun 0,64% ke 8,212 jelang libur Imlek, dipengaruhi saham BBCA, TLKM, dan BREN. Pasar Asia melemah, investor berhati-hati, Rupiah juga melemah.
BEI menghentikan sementara perdagangan saham setelah IHSG turun 8% akibat sentimen MSCI. MSCI menyoroti masalah investasi dan potensi distorsi harga.
Indeks Bisnis-27 naik 0,33% didorong saham ADMR, MYOR, INCO, dan BUMI, meski IHSG turun 0,46% pada 23 Januari 2026.