
Babaumma JAKARTA — Setelah penantian hampir satu dekade, Kevin Warsh, kandidat kuat untuk memimpin bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akhirnya mendapatkan nominasi dari Presiden AS Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell. Namun, momentum bersejarah ini segera diiringi tantangan besar pertama Warsh dalam jabatan krusial tersebut.
Dilansir dari Bloomberg pada Sabtu (31/1/2026), Warsh telah mengisyaratkan akan membawa perubahan signifikan dalam kebijakan moneter The Fed. Ia berjanji akan merampingkan neraca keuangan The Fed yang membengkak serta berargumen bahwa lonjakan produktivitas akibat revolusi kecerdasan buatan (AI) akan menjadi penopang utama untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada level rendah.
Meskipun pandangan optimis Warsh berhasil menarik perhatian Presiden Trump, tantangan sejatinya kini adalah meyakinkan para pembuat kebijakan di The Fed serta para investor. Pasar sedang mencermati setiap langkah Warsh, terutama setelah The Fed memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada akhir tahun sebelumnya.
Namun, kebijakan pelonggaran tersebut terhenti pada Januari lalu. Penghentian ini dipicu oleh inflasi yang masih persisten, sinyal kekuatan di pasar tenaga kerja, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih solid sepanjang tahun 2026. Oleh karena itu, para pelaku pasar kini tidak memperkirakan adanya pemotongan suku bunga lanjutan setidaknya hingga Juni.
Tuntutan Presiden Trump akan biaya pinjaman yang lebih rendah, atau suku bunga yang lebih murah, menciptakan ketegangan yang signifikan. Namun, ketegangan ini mungkin mereda jika pasar tenaga kerja mulai melemah atau laju inflasi menunjukkan penurunan yang konsisten.
Kondisi ekonomi seperti itu akan membuka jalan bagi Warsh untuk mendorong pemotongan suku bunga lebih lanjut. Jika skenario ini terwujud, kemungkinan besar ia akan mendapatkan dukungan luas dari para pembuat kebijakan di The Fed, memuluskan langkahnya dalam menetapkan arah kebijakan moneter yang baru.
Namun, ekonom Dario Perkins dari TS Lombard memperingatkan bahwa jika kondisi ekonomi yang disebutkan tidak terwujud, janji-janji Warsh akan sangat sulit dipenuhi. Perkins secara tajam mengamati, “Hal terakhir yang dibutuhkan seorang ekonom adalah diberi kesempatan untuk menguji teorinya. Reputasinya akan dipertaruhkan, semacam kutukan pemenang.” Ini menyiratkan bahwa tantangan Warsh bukan hanya tentang kebijakan, melainkan juga tentang integritas dan kredibilitas profesionalnya di mata dunia.
Meskipun Kevin Warsh tidak dianggap memiliki kedekatan pribadi dengan Trump seperti Kevin Hassett, pandangan-pandangannya memicu kekhawatiran serius. Ada spekulasi bahwa Warsh mungkin akan cenderung mengikuti desakan Gedung Putih untuk memangkas suku bunga secara signifikan, bahkan jika tekanan inflasi masih tinggi. Kritik kerasnya terhadap kebijakan The Fed sebelumnya dan pujiannya yang konsisten terhadap Trump semakin memperkuat dugaan tersebut, terutama saat Gedung Putih gencar menuntut penurunan suku bunga yang lebih cepat.
Kekhawatiran ini semakin dalam dengan adanya penyelidikan oleh Departemen Kehakiman, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, terkait dugaan pemborosan anggaran untuk renovasi markas besar The Fed. Insiden ini secara efektif memperkuat persepsi bahwa Presiden Trump berupaya melakukan perombakan besar-besaran terhadap bank sentral Amerika Serikat, yang bisa mengikis independensi institusi tersebut.
Para analis telah mengeluarkan peringatan keras: penurunan suku bunga yang drastis di tengah inflasi yang terus-menerus dan lonjakan utang negara dapat berakibat fatal. Langkah semacam itu berpotensi menggoyahkan kepercayaan investor secara fundamental, memicu kenaikan imbal hasil obligasi, dan pada gilirannya, meningkatkan suku bunga pinjaman riil bagi konsumen dan bisnis. Hal ini dapat menimbulkan efek domino yang merugikan stabilitas ekonomi AS.
Donald Kohn, yang pernah menjabat sebagai wakil ketua Federal Reserve selama krisis keuangan 2008 dan bekerja bersama Warsh saat ia menjabat sebagai gubernur, menawarkan perspektif yang menyeimbangkan. Ia menyatakan, “Dia tahu dia perlu menggunakan keterampilan yang dimilikinya untuk mengumpulkan bukti dan analisis guna mendukung arah kebijakan yang ingin dia ambil.” Ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.
Senada dengan itu, Michael Faulkender, mantan wakil Menteri Keuangan Scott Bessent, berpendapat bahwa terlepas dari retorika politik selama masa pencalonan, seorang pemimpin The Fed pada akhirnya akan didorong untuk bertindak demi kepentingan terbaik ekonomi. Faulkender menegaskan, “Terlepas dari apa yang dikatakan seseorang saat menjadi calon untuk posisi tersebut, seorang Ketua Federal Reserve tahu bahwa tanggung jawabnya adalah menjaga inflasi tetap rendah.” Pernyataan ini menggarisbawahi independensi mandat The Fed, yaitu menjaga stabilitas harga.
Meskipun demikian, sejak Presiden Trump kembali menjabat pada Januari 2025, Kevin Warsh telah secara konsisten menyerukan penurunan suku bunga. Bahkan, menurut pengakuan Presiden Trump sendiri, Warsh telah menyatakan dukungannya untuk pemotongan suku bunga lebih lanjut pada Desember lalu. Hal ini menempatkan Warsh di persimpangan jalan, di mana ia harus menavigasi antara komitmen ideologisnya, ekspektasi politik, dan realitas ekonomi yang terus berubah demi menjaga stabilitas moneter dan ekonomi AS.