Pemerintah Indonesia menunjuk tiga provinsi sebagai motor penggerak utama realisasi investasi sepanjang tahun ini. Ketiga daerah tersebut, yakni Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah, diproyeksikan akan menjadi tujuan aliran dana segar yang signifikan, khususnya di sektor pertambangan dan hilirisasi.
Menteri Investasi, Rosan P. Roeslani, mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat siap menyambut tiga proyek hilirisasi bauksit menjadi aluminium dengan total nilai sekitar US$ 2,8 miliar. Salah satu dari proyek strategis ini merupakan milik pemerintah dan masuk dalam daftar enam proyek hilirisasi nasional senilai US$ 6 miliar yang direncanakan tahun ini. Menurut Rosan, langkah ini akan mendongkrak realisasi investasi di Pulau Kalimantan secara signifikan, khususnya di wilayah barat karena proyek hilirisasi bauksit tersebut. Pernyataan ini disampaikan Rosan dalam sebuah kesempatan di kantornya di Jakarta, Kamis (15/1).
Lebih lanjut, prospek investasi di Pulau Kalimantan pada tahun 2025 juga tampak cerah, didorong oleh realisasi dari Kalimantan Timur yang diperkirakan mencapai Rp 70,9 triliun. Angka fantastis ini setara dengan hampir 7% dari total realisasi investor lokal yang diproyeksikan pada tahun yang sama.
Rosan P. Roeslani juga menyoroti bagaimana program hilirisasi mampu memacu perekonomian daerah di sekitarnya. Sebagai contoh nyata, Maluku Utara berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi luar biasa hingga 39,1% secara tahunan pada kuartal ketiga tahun lalu. Provinsi ini, seperti diketahui, telah bertransformasi menjadi pusat industri pertambangan nikel di Tanah Air, dengan PT Aneka Tambang Tbk melalui anak usahanya, PT Sumberdaya Arindo di Buli, Maluku Utara, sebagai salah satu pemain kunci di sektor tersebut.
Pada tahun sebelumnya, Maluku Utara telah menjadi destinasi favorit bagi investor. Rosan memaparkan bahwa provinsi ini membukukan realisasi investasi sebesar US$ 5,2 miliar, yang merepresentasikan 9,2% dari total realisasi investor asing secara keseluruhan. Dengan potensi yang terus berkembang, Rosan optimis bahwa Maluku Utara akan terus menjadi pendorong utama realisasi investasi pada tahun ini. Menurutnya, percepatan pertumbuhan investasi di Bumi Rempah-Rempah ini akan semakin kuat dengan pengembangan kawasan industri yang terus bertumbuh untuk menyerap lebih banyak investasi.
Selain kedua provinsi tersebut, Rosan juga memproyeksikan pertumbuhan investasi di Sulawesi Tengah yang berkelanjutan pada tahun ini. Realisasi investasi di provinsi ini pada tahun lalu mencapai Rp 127,2 triliun, menyumbang 6,6% dari total investasi nasional. Angka investasi yang tinggi ini didukung oleh kontribusi investasi asing senilai US$ 7,4 miliar, atau sekitar 13,2% dari total investasi asing nasional 2025. Prestasi ini menjadikan Sulawesi Tengah sebagai provinsi terfavorit kedua sebagai lokasi investasi pada tahun lalu.
Secara keseluruhan, komitmen investasi dalam program hilirisasi pada tahun 2025 diperkirakan mencapai Rp 584,1 triliun, atau sepertiga dari total investasi nasional. Angka ini juga menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 43,3% dari capaian tahun 2024 yang berada di angka Rp 407,8 triliun.
Dominasi hilirisasi mineral dalam program ini sangat terlihat, dengan penanaman modal mencapai Rp 373,1 triliun, mengalami kenaikan 52,16% secara tahunan. Di antara berbagai mineral, hilirisasi nikel menjadi sektor yang paling banyak menyerap investasi program hilirisasi, dengan nilai mencapai Rp 185,2 triliun.