Gerak Harga Saham Komoditas CPO hingga Nikel Bervariasi jelang Long Week End

Fluktuasi mewarnai pergerakan harga komoditas global pada perdagangan hari Kamis (15/1), menjelang libur panjang akhir pekan. Di tengah dinamika tersebut, sektor pertambangan menunjukkan kekuatan dengan harga nikel, emas, dan batu bara yang kompak menguat. Namun, tren berbeda terlihat pada komoditas perkebunan, di mana harga minyak sawit mentah (CPO) justru terpantau melemah.

Advertisements

Penurunan harga CPO ini terjadi bersamaan dengan pengumuman penting dari pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kebijakan mandatori biodiesel tahun ini akan konsisten menerapkan campuran B40, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Keputusan ini menunda sementara rencana penerapan B50 yang masih memerlukan kajian mendalam.

Airlangga menambahkan, peninjauan implementasi B50 membutuhkan studi komprehensif. Faktor-faktor seperti disparitas harga fuel oil, Bahan Bakar Minyak (BBM), serta perbandingan harga kelapa sawit domestik dan internasional menjadi pertimbangan utama. Dengan demikian, program B40 dipastikan akan terus berjalan sepanjang tahun ini, sementara evaluasi B50 terus dilanjutkan. “Jadi tahun ini, arahan Pak Presiden (Prabowo Subianto) tetap B40. Untuk B50, kajian harus dilakukan terus-menerus,” kutip Airlangga dari Antara pada Kamis (15/1).

Selain kebijakan biodiesel, sektor kelapa sawit juga akan menghadapi perubahan signifikan lainnya. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah mengumumkan rencana kenaikan pungutan ekspor CPO. Mulai Maret 2026, tarif pungutan akan naik dari 10% menjadi 12,5%, diikuti dengan peningkatan sebesar 2,5 poin persentase untuk produk turunan kelapa sawit lainnya.

Advertisements

Di pasar saham, respons emiten sektor usaha sawit terhadap beragam kabar ini belum menunjukkan tren yang seragam. Perdagangan intraday hingga pukul 15.00 WIB memperlihatkan pergerakan yang bervariasi. Beberapa saham unggulan tercatat melemah, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang turun 0,64% (50 poin) ke level 7.725, serta PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang terkoreksi 0,34% (5 poin) ke 1.445. Namun, tidak sedikit pula yang menguat, misalnya PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang naik 1,27% (15 poin) menjadi 1.195, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang menguat tipis 0,34% (5 poin) ke 1.475, dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang terapresiasi 0,33% (5 poin) ke level 1.535.

Menanggapi kebijakan ini, Stockbit Sekuritas dalam risetnya menilai bahwa keputusan pemerintah untuk mempertahankan tingkat pencampuran B40 adalah langkah yang realistis. Mereka menjelaskan, melebarnya disparitas antara harga CPO dan harga minyak mentah berpotensi menekan dana subsidi biodiesel. Dengan harga minyak mentah global yang relatif rendah, sekitar US$ 60 per barel, pemerintah justru lebih diuntungkan untuk mengimpor crude oil.

Bagi sektor kelapa sawit, kebijakan mempertahankan B40 memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia berpotensi menahan laju pertumbuhan permintaan biodiesel. Namun di sisi lain, rencana kenaikan pungutan ekspor justru dapat menjadi pilar penting yang memperkuat keberlanjutan pendanaan program biodiesel ke depan.

Selain fokus pada dinamika kebijakan dan permintaan, investor juga disarankan untuk memantau cermat perkembangan suplai kelapa sawit. Faktor-faktor seperti fluktuasi stok di Malaysia dan potensi penambahan lahan sawit sitaan akan turut mempengaruhi prospek harga dan kinerja pasar sawit.

Beralih ke komoditas tambang lainnya, harga emas global justru menunjukkan tren berlawanan dengan kenaikan di awal. Harga komoditas logam mulia ini terpantau terkoreksi 0,63%, mencapai level US$ 4.598 per ons. Penurunan ini secara langsung memicu koreksi pada harga saham sektor emas di pasar modal Indonesia.

Beberapa emiten emas mengalami tekanan, termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang turun 1,22% (50 poin) ke level 4.040, PT Bumi Resources Tbk (BRMS) yang terkoreksi 2% (25 poin) ke 1.225, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang anjlok paling dalam sebesar 3,45% (200 poin) ke level 5.600.

Berbeda dengan emas, nikel justru melanjutkan performa positifnya. Harga nikel dunia melesat signifikan sebesar 6,29%, mencapai US$ 18.742 per ton, yang secara langsung mengerek harga saham emiten sektor nikel.

Kenaikan ini membawa angin segar bagi beberapa perusahaan, seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang naik 1,42% (20 poin) ke level 1.430, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang menguat 2,60% (20 poin) ke 790, dan PT Centra Omega Resources Tbk (DKFT) yang terapresiasi 2,72% (25 poin) ke level 945.

Advertisements