43% Nasabah Indonesia Siap Pindah Bank yang Danai Batu Bara

Tekanan publik terhadap sektor perbankan untuk menghentikan pembiayaan proyek beremisi tinggi kini semakin menguat. Berdasarkan survei terbaru, masyarakat Indonesia secara luas menilai bahwa dukungan finansial bank terhadap tambang serta pembangkit listrik tenaga batu bara merupakan kontribusi nyata terhadap memburuknya perubahan iklim.

Advertisements

Survei bertajuk ‘Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore’ ini merupakan kolaborasi antara firma analisis data YouGov dan organisasi lingkungan global, Market Forces. Penelitian ini melibatkan 4.000 responden yang terdiri dari 2.000 masyarakat Indonesia, 1.000 warga Malaysia, dan 1.000 warga Singapura.

Data menunjukkan bahwa sebanyak 60 persen responden di Indonesia meyakini bahwa perbankan yang mendanai proyek batu bara berperan signifikan dalam mempercepat krisis iklim. Sementara itu, 26 persen responden bersikap netral dan 13 persen lainnya menyatakan tidak setuju. Secara lebih spesifik, 71 persen responden di Indonesia menegaskan bahwa bank seharusnya tidak membiayai perusahaan atau proyek yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam skala besar. Tren pandangan serupa juga terlihat konsisten di antara responden asal Malaysia dan Singapura.

Direktur Asia Energy Finance Market Forces, Bernadette Maheandiran, menyatakan bahwa kekhawatiran masyarakat di ketiga negara tersebut sangat beralasan. Dampak nyata dari krisis iklim, seperti gelombang panas ekstrem, banjir, badai, hingga tanah longsor yang kian sering terjadi, telah dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Advertisements

Ancaman Migrasi Nasabah ke Bank Lain

Salah satu temuan krusial dari survei ini adalah tingginya keinginan masyarakat untuk berpindah bank. Sebanyak 43 persen responden di Indonesia mengaku mempertimbangkan untuk beralih ke bank lain jika institusi keuangan mereka saat ini tidak segera menghentikan pendanaan ke sektor batu bara.

Kepercayaan nasabah dinilai baru akan pulih apabila perbankan berani menghentikan total pendanaan, baik untuk proyek langsung maupun kepada perusahaan pengembang pembangkit listrik batu bara. Lebih dari separuh responden pun menuntut agar komitmen tersebut mencakup seluruh jenis proyek, termasuk pembangkit listrik captive—pembangkit mandiri yang tidak terhubung dengan jaringan PLN—yang banyak digunakan pada fasilitas industri nikel dan aluminium.

Menariknya, mayoritas responden tidak menganggap nikel sebagai komoditas yang ramah lingkungan atau ‘hijau’ selama proses produksinya masih sangat bergantung pada bahan bakar batu bara.

“Bank di Indonesia, Malaysia, dan Singapura harus menyadari bahwa membiayai proyek batu bara menimbulkan risiko serius bagi iklim, stabilitas ekonomi, dan kepercayaan nasabah mereka,” ujar Maheandiran.

Data dari lembaga riset independen Earthwise memperkuat temuan ini, yang mencatat bahwa 94 persen kebutuhan listrik untuk industri nikel dan 77 persen untuk industri aluminium di Indonesia masih dipasok oleh pembangkit listrik batu bara captive. Hingga kini, bank-bank di Indonesia masih mendominasi pendanaan bagi fasilitas peleburan atau smelter logam tersebut.

Menanggapi hasil survei ini, Juru Kampanye Market Forces di Indonesia, Ginanjar Ariyasuta, menegaskan bahwa temuan ini adalah alarm bagi sektor perbankan dan industri mineral kritis. Menurutnya, langkah ini harus menjadi pertimbangan serius bagi bank dalam menyusun strategi alokasi dana mereka di masa depan agar tetap relevan dengan tuntutan keberlanjutan.

Ringkasan

Survei kolaborasi YouGov dan Market Forces menunjukkan bahwa 60 persen responden Indonesia meyakini pendanaan bank terhadap proyek batu bara mempercepat krisis iklim. Sebanyak 71 persen responden menegaskan bahwa perbankan seharusnya tidak lagi membiayai perusahaan atau proyek yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam skala besar.

Temuan krusial survei ini mengungkapkan bahwa 43 persen nasabah di Indonesia siap berpindah ke bank lain jika institusi keuangan mereka tetap mendanai sektor batu bara. Masyarakat menuntut penghentian total pendanaan tersebut, termasuk pada pembangkit listrik mandiri yang banyak digunakan dalam industri nikel dan aluminium agar bank tetap relevan dengan tuntutan keberlanjutan.

Advertisements