BI: Indeks keyakinan konsumen tetap optimistis di level 123,5

Jakarta, IDN Times – Optimisme konsumen Indonesia terhadap kondisi ekonomi nasional, berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), berada di level 123,5 pada Desember 2025. Angka ini, meski masih mencerminkan suasana optimistis karena di atas 100, sedikit menurun dibandingkan dengan capaian bulan November 2025 yang tercatat 124.

Advertisements

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya pada Jumat (9/1/2026), menjelaskan bahwa kuatnya keyakinan konsumen ini bersumber dari persepsi mereka terhadap situasi ekonomi saat ini dan ekspektasi di masa depan yang tetap positif. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang mencapai 111,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang lebih tinggi lagi, yaitu 135,6.

Secara lebih rinci, peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 terutama didorong oleh kelompok pengeluaran menengah. Berdasarkan data, keyakinan konsumen meningkat signifikan pada kelompok pengeluaran antara Rp2,1 juta hingga Rp5 juta per bulan, dengan peningkatan tertinggi tercatat pada segmen Rp4,1 juta hingga Rp5 juta. Selain itu, peningkatan IKK juga spesifik terjadi pada kelompok usia 31–40 tahun, yang menunjukkan nilai optimisme sebesar 127,4.

Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, yang diukur melalui IKE di level 111,4, tetap solid berkat peningkatan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK). IKLK tercatat naik menjadi 106,5, melampaui angka bulan sebelumnya yang sebesar 103,7. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (durable goods) juga berkontribusi pada optimisme ini, dengan masing-masing mencapai 120,2 dan 107,6, menunjukkan daya beli dan stabilitas pendapatan yang positif.

Advertisements

Menariknya, di tengah optimisme yang terjaga, terjadi pergeseran perilaku finansial konsumen. Denny mengungkapkan bahwa rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi sedikit menurun menjadi 74,3 persen, demikian pula proporsi pembayaran cicilan atau utang (debt to income ratio) yang turun menjadi 10,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan atau saving to income ratio justru menunjukkan peningkatan, naik menjadi 14,9 persen.

Penurunan proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok dengan pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta. Fenomena ini diimbangi dengan peningkatan porsi pendapatan yang ditabung di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terlihat pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta, yang persentase tabungannya mencapai 15,5 persen, serta kelompok Rp4,1 juta hingga Rp5 juta dengan rasio tabungan sebesar 15,7 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen semakin cermat dalam mengelola keuangan mereka dengan meningkatkan alokasi untuk tabungan.

Advertisements