
Babaumma – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam kembali menorehkan sejarah baru, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Selasa, 13 Januari 2026. Pencapaian ini menandai periode yang sangat dinamis bagi pasar emas Antam.
Berdasarkan data resmi Logam Mulia pada Selasa (13/1/2026), harga buyback emas Antam mengalami kenaikan signifikan sebesar Rp19.000, mencapai level Rp2.503.000 per gram. Angka fantastis ini tidak hanya memecahkan rekor sebelumnya, tetapi juga menjadi rekor ATH kedua yang tercatat dalam periode Januari 2026, menunjukkan tren penguatan yang konsisten.
Sebelumnya, harga buyback emas Antam juga sempat menembus rekor tertinggi di angka Rp2.484.000 pada hari Senin, 12 Januari 2026. Lonjakan harga yang berurutan ini tentu menjadi perhatian utama para investor dan pemilik logam mulia.
Sebagai informasi, harga buyback emas Antam adalah patokan harga pembelian kembali emas oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) untuk setiap gramnya. Transaksi buyback emas sendiri merujuk pada aktivitas menjual kembali emas yang dapat berupa logam mulia batangan, koin, maupun perhiasan.
Meskipun harga buyback biasanya sedikit lebih rendah dari harga jual saat itu, transaksi ini tetap berpotensi mendatangkan keuntungan. Potensi profitabilitas muncul jika terdapat selisih yang cukup besar antara harga jual awal dan harga buyback saat ini.
Penting untuk diketahui bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 34/PMK.10/2017, setiap penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal di atas Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Besarannya adalah 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen bagi non-NPWP. PPh 22 ini akan langsung dipotong dari total nilai buyback.
Fluktuasi harga buyback emas Antam sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga logam mulia di pasar global. Salah satu pandangan yang menarik datang dari BlackRock, raksasa investasi global, yang baru-baru ini menyatakan optimisme kuat terhadap prospek harga emas ke depan.
Dalam laporan Bloomberg pada Rabu (7/1/2026), Evy Hambro, Kepala Investasi Global Tematik BlackRock, membagikan pandangannya. Evy memprediksi bahwa harga emas akan terus menguat, didorong oleh melemahnya daya beli mata uang kertas secara global.
“Depresiasi mata uang diperkirakan akan berlanjut dengan laju yang semakin cepat dalam beberapa tahun mendatang,” ungkap Evy. Ia menambahkan, “Tren ini, bersama dengan meningkatnya risiko geopolitik, akan menjadi faktor pendukung utama kenaikan harga emas dan logam mulia lainnya.”
Lebih lanjut, BlackRock menilai bahwa emas saat ini sedang dalam proses mengejar ketertinggalan daya belinya menuju level yang seharusnya. Hal ini mengindikasikan bahwa harga logam mulia diprediksi masih memiliki ruang untuk meningkat lebih tinggi dari posisi saat ini.
“Saham perusahaan pertambangan belum sepenuhnya mencerminkan reli cepat pada harga logam, termasuk emas, perak, dan tembaga, sehingga menciptakan peluang investasi yang sangat menarik bagi investor ekuitas seperti BlackRock,” pungkas Evy, menyoroti peluang strategis di sektor pertambangan.