Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis, 15 Januari, menjelang periode libur panjang. Optimisme ini didukung oleh rekomendasi saham-saham unggulan dari sektor perbankan seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), hingga PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dari para analis.
Menurut analisis teknikal dari Phintraco Sekuritas, IHSG telah mencatatkan fenomena Golden Cross dengan indikator MACD yang menunjukkan pelebaran histogram positif. Kondisi ini membuka potensi bagi indeks untuk meneruskan penguatan, menguji level krusial di 9.070 atau 9.100 pada perdagangan hari ini. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi terjadinya aksi profit taking yang lazim terjadi menjelang libur panjang. Untuk hari ini, level support IHSG diperkirakan berada di angka 8.900, sementara level resistance berada di 9.100.
Sebagai informasi, support dalam analisis teknikal adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada suatu periode. Ketika harga menyentuh level ini, umumnya akan kembali naik karena peningkatan aktivitas pembelian. Sebaliknya, resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual yang cukup besar sehingga laju kenaikan harga cenderung tertahan. Sementara itu, MACD (Moving Average Convergence Divergence) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah tren harga saham. Garis MACD yang terus menanjak menandakan kelanjutan tren naik atau positive slope, serta menunjukkan momentum beli yang masih kuat.
Di tengah optimisme pasar saham, pergerakan nilai tukar rupiah patut dicermati. Rupiah kembali melemah hingga mencapai Rp 16.877 per dolar Amerika Serikat di pasar spot. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS dan tertekannya mayoritas mata uang di Asia, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong permintaan dolar sebagai aset aman (safe haven).
Dari sisi kebijakan pemerintah, terdapat sentimen positif yang dapat memengaruhi pasar. Pemerintah telah memastikan bahwa mandatori biodiesel B40 yang berbasis minyak sawit akan direalisasikan pada tahun ini. Program ini mewajibkan pencampuran 40% biodiesel ke dalam solar. Sementara itu, implementasi B50 masih dalam tahap kajian dan ditargetkan siap pada semester II tahun 2026. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga mendukung pengembangan energi bersih menuju target net zero emission. Sentimen ini dinilai sangat positif bagi saham-saham dari sektor perkebunan dan crude palm oil (CPO).
Melihat dinamika pasar ini, sejumlah analis telah mengeluarkan rekomendasi saham untuk dicermati. Phintraco Sekuritas merekomendasikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Di sisi lain, CGS Sekuritas memberikan rekomendasi terhadap beberapa saham, antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).