Kementerian Investasi dengan bangga mengumumkan realisasi investasi sepanjang tahun 2025 yang mencapai angka fantastis Rp 1.931,2 triliun. Pencapaian ini tidak hanya melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 1.905 triliun, tetapi juga menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 12,7% dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang senilai Rp 1.714,2 triliun.
Gelontoran dana segar ini memberikan dampak positif yang langsung terasa pada sektor ketenagakerjaan. Tercatat, 2,71 juta lapangan kerja baru berhasil tercipta, sebuah kenaikan sebesar 10,4% dari realisasi tahun sebelumnya. Meskipun demikian, nilai investasi per tenaga kerja pada 2025 juga mengalami peningkatan 3,44%, mencapai Rp 712,48 juta per orang, menunjukkan pergeseran ke arah investasi yang lebih padat modal.
Sebuah tren menarik terungkap dalam sumber pendorong realisasi investasi. Pada tahun 2025, investor dalam negeri tampil sebagai tulang punggung utama, menyumbang 53,4% atau senilai Rp 1.030,3 triliun dari total investasi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun 2024, di mana investor asing mendominasi dengan kontribusi 52,5% atau senilai Rp 900,2 triliun, menandai penguatan peran modal domestik.
Dari perspektif geografis, investasi di luar Pulau Jawa masih konsisten menunjukkan angka yang lebih besar dibandingkan dengan investasi di Pulau Jawa. Walaupun demikian, daftar provinsi yang menjadi magnet utama bagi para investor pada tahun lalu tidak banyak berubah signifikan dari pola tahun 2024.
Secara berurutan, posisi pertama hingga ketiga dalam daftar provinsi penerima investasi terbesar tetap dipegang kokoh oleh Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Dinamika menarik terjadi pada posisi keempat dan kelima, yang menyaksikan pertukaran tempat antara Provinsi Banten dan Sulawesi Tengah.
Pergeseran peringkat ini dipicu oleh penurunan realisasi investasi di Sulawesi Tengah sebesar 9,08% secara tahunan, dari Rp 139,9 triliun pada 2024 menjadi Rp 127,2 triliun pada 2025. Di sisi lain, Provinsi Banten menunjukkan performa gemilang dengan kenaikan investasi sebesar 23,3%, mencapai Rp 130,2 triliun.
Lebih lanjut, jika fokus pada realisasi investasi yang bersumber dari dalam negeri, terdapat satu perbedaan mencolok pada posisi keempat. Pada tahun 2024, Provinsi Riau menempati peringkat keempat dengan sumbangan investasi domestik sebesar Rp 61,1 triliun. Namun, pada 2025, posisi “Bumi Lancang Kuning” tersebut telah digantikan oleh Banten, yang berhasil menggaet investasi domestik sebesar Rp 73,2 triliun.
Mengakhiri tinjauan ini, industri logam dasar masih menjadi sektor primadona yang paling menarik minat investor pada 2025, dengan realisasi mencapai Rp 262 triliun atau tumbuh 9,9% secara tahunan. Diikuti oleh sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp 211 triliun, sektor pertambangan senilai Rp 199,6 triliun, sektor jasa lainnya sebesar Rp 170,5 triliun, dan sektor perumahan dengan capaian Rp 140,4 triliun.