Jakarta, IDN Times – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa volatilitas nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini merupakan hasil dari kombinasi kompleks faktor global dan domestik. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (21/1/2026), Perry menjelaskan bahwa tekanan eksternal didominasi oleh ketidakpastian geopolitik yang memanas, kebijakan tarif yang diterapkan Amerika Serikat, serta lonjakan imbal hasil US Treasury untuk tenor dua dan tiga tahun. Situasi ini diperparah dengan kecilnya kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed), yang secara kolektif memperkuat dominasi dolar AS di pasar global.
Selain itu, Perry menyoroti derasnya aliran modal asing keluar atau net outflow yang turut menekan pergerakan rupiah. Hingga 19 Januari 2026, tercatat arus modal keluar bersih mencapai angka fantastis 1,6 miliar dolar AS. Fenomena ini sebagian besar didorong oleh kecenderungan investor untuk mengalihkan investasinya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih menarik. 
Dampak dari berbagai tekanan ini terlihat jelas di pasar spot. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah sempat melemah hingga Rp16.967 per dolar AS pada tengah hari, turun 0,07 persen dari penutupan hari sebelumnya di Rp16.956. Namun, berkat berbagai upaya dan dinamika pasar, rupiah berhasil menunjukkan pembalikan tren dan ditutup menguat di level Rp16.936 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu, mengukir kenaikan 0,12 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Tidak hanya dari eksternal, Perry Warjiyo juga mengidentifikasi sejumlah pemicu pelemahan rupiah yang berasal dari dalam negeri. Salah satunya adalah tingginya permintaan valuta asing (valas) dari korporasi-korporasi besar domestik seperti Pertamina, PLN, dan Danantara, yang secara langsung berkontribusi pada arus keluar modal. 
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh persepsi publik terhadap kondisi fiskal Indonesia serta dinamika seputar proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Menanggapi kekhawatiran ini, Perry menegaskan bahwa proses pencalonan tersebut telah berlangsung sesuai dengan undang-undang tata kelola yang berlaku dan sama sekali tidak akan mengganggu independensi Bank Indonesia. Ia menekankan komitmen BI untuk terus menjalankan tugas dan wewenangnya dengan profesionalisme tinggi dan tata kelola yang kuat.
Perry juga menekankan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah bukanlah fenomena tunggal yang hanya dialami Indonesia, melainkan tren global yang turut menimpa banyak negara lain. Merespons kondisi ini, Bank Indonesia menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi secara agresif dan terukur demi menjaga stabilitas rupiah. 
Untuk itu, BI akan secara konsisten menerapkan langkah-langkah stabilisasi, baik melalui instrumen non-deliverable forward (NDF), domestik non-deliverable forward (DNDF), maupun intervensi langsung di pasar spot domestik. Di tengah tekanan, Perry optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan menunjukkan tren penguatan, didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang kokoh, seperti imbal hasil yang menarik, tingkat inflasi yang terkendali, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang cerah.
Keyakinan Gubernur BI ini diperkuat oleh ketersediaan cadangan devisa negara yang sangat memadai. “Cadangan devisa kami saat ini cukup besar dan lebih dari memadai untuk melakukan intervensi. Kami akan terus menggunakannya tanpa ragu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Perry. Dengan strategi stabilisasi yang diperkuat dan fundamental ekonomi Indonesia yang solid, Perry Warjiyo meyakini bahwa rupiah akan segera kembali stabil dan menunjukkan tren penguatan dalam waktu dekat.