
Goldman Sachs, salah satu bank investasi global terkemuka, telah merevisi naik proyeksi harga emas, menargetkan level US$5.400 per ons troi pada akhir tahun 2026. Angka ini setara dengan sekitar Rp91,27 juta per ons troi, berdasarkan kurs JISDOR Rp16.902 per dolar AS. Proyeksi terbaru ini menunjukkan kenaikan signifikan dari estimasi sebelumnya yang berada di level US$4.900 per ons troi, yang dalam laporan sebelumnya disetarakan dengan Rp182,82 juta.
Optimisme ini tidak terlepas dari performa cemerlang logam mulia ini belakangan. Emas, yang dikenal luas sebagai aset safe haven, telah menunjukkan kenaikan impresif lebih dari 11% sepanjang tahun ini. Lonjakan harga tersebut merupakan kelanjutan dari reli luar biasa yang terjadi pada tahun lalu, di mana harga emas berhasil meroket hingga 64%, menegaskan posisinya sebagai instrumen investasi yang menarik di tengah gejolak pasar.
Menurut analisis Goldman Sachs, peningkatan proyeksi harga emas ini utamanya didorong oleh gejolak ekonomi global yang secara langsung memengaruhi keputusan investasi. Bank investasi tersebut mencatat adanya tren pembeli diversifikasi dari sektor swasta yang aktif mengakumulasi emas. Perilaku ini berfungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan global yang terus berkembang, sebuah faktor krusial yang mendorong kenaikan prediksi harga mereka, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters.
Selain itu, Goldman Sachs juga memprediksi bahwa kepemilikan emas oleh para investor tidak akan dilepas atau dijual sepanjang tahun 2026. Hal ini secara efektif akan menopang dan mendorong proyeksi harga emas untuk periode tersebut. Peran bank sentral pun tak luput dari perhatian; mereka memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan mencapai rata-rata 60 ton pada tahun 2026, didorong oleh kecenderungan bank sentral di negara-negara berkembang untuk terus melakukan diversifikasi cadangan emas mereka.
Namun demikian, ada faktor yang berpotensi menekan harga emas di masa mendatang. Goldman Sachs mengisyaratkan bahwa jika terjadi penurunan risiko terkait arah kebijakan moneter global dalam jangka panjang, hal itu dapat memicu likuidasi lindung nilai makro. Kondisi ini pada gilirannya berpotensi menurunkan daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai, terutama jika sentimen pasar beralih ke aset yang lebih berisiko.
Sentimen serupa juga datang dari institusi keuangan lainnya. Commerzbank, misalnya, pada pekan lalu turut menaikkan perkiraan harga emasnya menjadi US$4.900 per ons troi, yang disetarakan dengan Rp182,82 juta pada akhir tahun ini. Keputusan ini didasari oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah berlanjutnya ketidakpastian global, menggarisbawahi tren yang sama dalam lanskap investasi saat ini.