Langkah signifikan dipastikan oleh Danantara Indonesia: tidak akan ada aksi Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dari entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang tahun 2026. Alih-alih demikian, proses go public ini diperkirakan baru akan bergulir pada tahun 2027.
Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk memprioritaskan penyelesaian 41 rencana kerja strategis yang fundamental. Rencana tersebut mencakup agenda besar seperti merger, restrukturisasi, hingga penataan aset, sebelum akhirnya entitas BUMN siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Kami berharap, pada tahun 2027, proses IPO terhadap perusahaan-perusahaan kami dapat dimulai,” ujar Dony di Jakarta, pada Selasa (10/2/2026), menegaskan komitmen mereka.
Sebelum sebuah BUMN dapat diputuskan untuk go public, Dony merinci bahwa setiap entitas harus melewati empat tahapan evaluasi yang ketat. Dimulai dengan tinjauan mendalam terhadap fundamental bisnis, proses ini dilanjutkan dengan konsolidasi bisnis yang bisa berupa merger atau restrukturisasi internal. Tahap berikutnya melibatkan penulisan ulang model bisnis, sebelum puncaknya memasuki fase penciptaan nilai atau value creation. “Maka dari itu, untuk tahun ini, memang belum ada IPO yang akan kami laksanakan,” tambah Dony, yang juga mengemban amanah sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN.
Dalam konteks tahapan konsolidasi ini, Dony mengungkapkan adanya perampingan struktural besar-besaran yang akan dilakukan di tubuh sejumlah BUMN raksasa. Contohnya adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) yang akan menjalani efisiensi signifikan. Tak ketinggalan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga akan melakukan streamlining drastis, mengurangi jumlah anak perusahaannya dari 66 menjadi hanya belasan entitas saja, sebuah langkah untuk meningkatkan fokus dan efisiensi operasional.
Menariknya, absennya perusahaan ‘pelat merah’ dari daftar antrean IPO pada tahun 2026 justru tidak dipandang akan menggerus kredibilitas pasar modal domestik. Sebaliknya, kondisi ini justru diinterpretasikan sebagai momentum krusial bagi sektor swasta dan kelompok konglomerasi untuk tampil memimpin dan menunjukkan kemandiriannya di pasar.
Menurut Abida Massi Armand, seorang analis dari BRI Danareksa Sekuritas, meskipun kehadiran BUMN dalam IPO kerap mendongkrak kapitalisasi pasar, ketiadaan mereka tahun ini justru menggeser narasi pasar ke arah yang lebih sehat dan berkesinambungan. Ia menambahkan, fokus para investor kini beralih pada kualitas fundamental perusahaan swasta, khususnya di sektor infrastruktur dan pertambangan. “Bursa kini memprioritaskan emiten swasta yang secara historis terbukti mampu mencatatkan pertumbuhan laba dan dividen yang sangat kompetitif, bahkan melebihi entitas publik,” jelas Abida.
Abida menilai, absennya perusahaan milik negara dari gelaran IPO besar tahun ini seharusnya dilihat sebagai periode konsolidasi strategis. Ini memberikan kesempatan bagi pemerintah dan manajemen BUMN untuk lebih fokus pada peningkatan efisiensi internal serta penataan kembali struktur keuangan mereka, mempersiapkan diri sepenuhnya sebelum benar-benar melantai di bursa pada masa mendatang. “Kredibilitas IPO secara keseluruhan tetap terjaga berkat penguatan regulasi perlindungan investor oleh OJK, serta dukungan dari emiten swasta yang memiliki fundamental kokoh dan transparansi tinggi,” pungkas Abida, memberikan gambaran optimis.