
Babaumma – – Pasar saham Indonesia belakangan ini mengalami guncangan signifikan, dipicu oleh sorotan tajam dari lembaga keuangan global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s. Untuk mengembalikan stabilitas dan vitalitas, pemerintah Indonesia dituntut untuk segera mengimplementasikan serangkaian langkah strategis. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk memulihkan kembali kepercayaan investor, khususnya para investor global, yang esensial bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Menurut pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R. Haidar Alwi, perhatian yang diberikan oleh MSCI dan Moody’s terhadap Indonesia bukanlah sekadar masalah angka semata, melainkan inti dari persoalan kepercayaan. Ia menjelaskan bahwa pasar global beroperasi berdasarkan ekspektasi, yang terbentuk dari persepsi terhadap stabilitas kebijakan, kredibilitas institusi, serta konsistensi arah ekonomi jangka panjang suatu negara. Tanpa fondasi ini, ekspektasi positif akan sulit terbangun.
Oleh karena itu, R. Haidar Alwi, yang juga menjabat sebagai wakil ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menguraikan beberapa strategi kunci yang dapat ditempuh untuk mengembalikan keyakinan investor terhadap pasar saham Indonesia. Ia menegaskan, pemulihan kepercayaan investor global tidak cukup hanya dengan penolakan atau klarifikasi sesaat. Sebaliknya, diperlukan serangkaian tindakan konkret yang secara meyakinkan menunjukkan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada jalur kebijakan yang dapat diprediksi dan diandalkan.
“Langkah pertama yang paling fundamental adalah memperkuat kepastian arah fiskal,” tegas Haidar. Para investor global sangat membutuhkan gambaran yang transparan dan jelas mengenai bagaimana pemerintah akan mengelola defisit, pembiayaan utang, dan prioritas belanja negara dalam beberapa tahun ke depan. Kejelasan ini menjadi krusial untuk mengambil keputusan investasi.
Haidar menambahkan, keberadaan roadmap fiskal jangka menengah memiliki peran penting untuk mengirimkan sinyal kuat bahwa ekspansi belanja negara tetap dalam koridor yang terukur dan terkendali. Dengan arah fiskal yang terang dan pasti, risiko persepsi terhadap stabilitas makroekonomi akan secara signifikan menurun. Dampaknya, biaya risiko yang seringkali dibebankan oleh investor pada aset-aset Indonesia dapat mereda, menjadikan pasar lebih atraktif.
Kendati demikian, stabilitas kebijakan tidak akan mencapai efektivitas maksimal tanpa didukung oleh konsistensi komunikasi. Dalam banyak kasus, Haidar mengamati bahwa reaksi negatif pasar justru seringkali muncul bukan karena perubahan kebijakan itu sendiri, melainkan karena perbedaan pesan yang disampaikan oleh para pejabat ekonomi. Pada titik inilah, langkah kedua, yakni konsolidasi narasi ekonomi pemerintah, menjadi sangat dibutuhkan.
“Investor global membaca setiap pernyataan publik sebagai sinyal kebijakan,” ujarnya. Oleh karena itu, konsolidasi narasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap informasi terkait pasar modal, kebijakan fiskal, maupun program-program strategis disampaikan secara teknokratis, berbasis data yang valid, dan bebas dari sentimen emosional. Pasar cenderung memberikan respons positif kepada pemerintah yang terlihat tenang, terukur, dan profesional dalam menghadapi berbagai tekanan.
Langkah ketiga yang tak kalah krusial adalah penguatan kredibilitas institusi ekonomi. Kepercayaan investor sangat ditentukan oleh integritas dan kredibilitas institusi-institusi ekonomi negara. Bank sentral yang independen, otoritas fiskal yang disiplin, serta regulator pasar yang transparan merupakan pilar utama yang membentuk persepsi risiko suatu negara di mata investor global.
“Penguatan peran teknokrat dalam komunikasi ekonomi akan membantu menggeser perhatian pasar dari dinamika politik jangka pendek menuju fundamental ekonomi yang lebih stabil,” jelasnya. Selain itu, transparansi data fiskal dan informasi pembiayaan proyek-proyek besar sangat vital. Hal ini memastikan bahwa investor memiliki akses informasi yang memadai untuk melakukan penilaian risiko secara objektif dan akurat.
Selanjutnya, langkah keempat berfokus pada pendekatan langsung kepada investor global. Haidar Alwi menekankan bahwa upaya pemulihan kepercayaan tidak bisa hanya terbatas pada lingkup domestik. Para investor global perlu diyakinkan secara langsung melalui program engagement yang aktif dan berkelanjutan, membangun jembatan komunikasi yang kokoh.
Bersamaan dengan itu, penting untuk memastikan percepatan reformasi struktural, manajemen risiko politik dan persepsi pasar yang cermat, serta implementasi strategi komunikasi yang efektif untuk membalikkan momentum negatif. Haidar Alwi menegaskan bahwa memulihkan kepercayaan investor global bukanlah proses yang instan, melainkan membutuhkan dedikasi dan konsistensi dalam jangka panjang.
“Strategi yang paling efektif justru bukan dengan menyangkal sorotan dari lembaga internasional, melainkan meresponsnya secara rasional dan terbuka,” papar Haidar. Mengakui setiap catatan sebagai bagian dari evaluasi, diiringi dengan demonstrasi langkah-langkah korektif yang terukur, akan mengirimkan sinyal kuat. Ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam fase penyesuaian yang proaktif, bukan dalam kondisi krisis yang tak terkendali.