Mengukur minat IPO hingga rights issue saat pasar saham gonjang-ganjing

Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia, baik melalui penawaran umum saham perdana (IPO) maupun penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue, diproyeksikan akan melambat signifikan. Penurunan ini disebabkan oleh gejolak dan sentimen negatif yang melanda pasar modal belakangan ini.

Advertisements

Pandangan ini diperkuat oleh Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas. Ia menyoroti bahwa outlook negatif yang diberikan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s terhadap Indonesia akan secara signifikan mempengaruhi aktivitas penghimpunan dana di pasar modal. Menurut Nico, kondisi pasar saat ini kurang kondusif bagi perusahaan yang berencana melantai di bursa melalui IPO.

Selain IPO, penerbitan obligasi juga tidak luput dari dampak outlook negatif ini. Nico menjelaskan bahwa sentimen tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi akibat meningkatnya risiko gagal bayar. Konsekuensinya, bunga obligasi juga akan turut merangkak naik, menciptakan beban yang lebih berat bagi korporasi. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan alternatif sumber pendanaan lainnya demi memperoleh modal segar.

Senada dengan pandangan tersebut, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memprediksi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menghadapi tantangan signifikan untuk kembali menembus level 9.000. Budi menggarisbawahi dampak penurunan outlook oleh beberapa lembaga pemeringkat, termasuk yang terbaru dari Moody’s. Menurutnya, hal ini secara langsung meningkatkan persepsi risiko di mata investor global terhadap pasar modal Indonesia, yang pada gilirannya akan menaikkan biaya pendanaan (cost of fund).

Advertisements

Peningkatan risiko dan biaya pendanaan ini akan membuat penghimpunan dana di pasar modal menjadi lebih mahal. Budi menambahkan bahwa kenaikan discount rate akan berimbas pada penurunan harga saham, memperparah tekanan pada IHSG dan semakin menyulitkan indeks tersebut untuk mencapai kembali level 9.000.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) turut menggambarkan tekanan yang sedang berlangsung. Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), IHSG ditutup melemah 0,31% atau 25,61 poin, berada pada posisi 8.265,35. Meskipun sempat dibuka di level 8.317,24 dan mencapai puncak harian 8.334,02, indeks komposit akhirnya terkoreksi. Penurunan ini diiringi oleh pergerakan 384 saham yang melemah, berbanding dengan 294 saham yang menguat, dan 144 saham yang stagnan. Adapun total kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp15.026 triliun.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements