Kemenkeu sulap kawasan kumuh jadi rumah layak huni, Wawali Solo berharap penataan di Sangkrah tuntas

Ringkasan Berita:

  • Pemerintah menargetkan penyelesaian pembangunan total 56 unit rumah layak huni di Kelurahan Sangkrah pada tahun 2026.
  • Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyatakan penuntasan proyek di Sangkrah akan menandai berakhirnya penataan kawasan kumuh di seluruh area Semanggi.
  • Diharapkan, terbangunnya rumah layak huni ini juga diikuti dengan peningkatan pola pikir dan kualitas hidup para penerima manfaat.

Babaumma SOLO – Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, mengungkapkan harapannya agar penataan kawasan kumuh di Semanggi, khususnya di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, dapat segera tuntas. Penegasan ini disampaikannya langsung di lokasi pembangunan Rumah Layak Huni (RLH) di Sangkrah.

Advertisements

Pembangunan rumah layak huni ini merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang dijadwalkan rampung pada tahun 2025. Total 56 unit rumah ditargetkan selesai dibangun di Kelurahan Sangkrah pada tahun 2026. Dalam proyek ambisius ini, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF, yang merupakan Special Mission Vehicle (SMV) Kemenkeu, turut berkontribusi melalui Joint Program TJSL SMV Kemenkeu. Mereka mengalokasikan bantuan sebesar Rp4,48 miliar untuk 56 unit rumah bagi 56 kepala keluarga di kawasan kumuh Semanggi, segmen Losari-Demangan, Sangkrah, Surakarta. Komitmen pemerintah terhadap proyek ini juga terlihat dengan kunjungan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, ke lokasi pada Kamis (12/2/2026).

Kepada awak media, Astrid Widayani menyampaikan bahwa penyelesaian proyek di Sangkrah merupakan kunci penuntasan penataan kawasan kumuh di seluruh area Semanggi. “Di sektor Losari-Demangan, ini adalah titik krusial yang menjadi kepingan terakhir misi Kota Surakarta dalam penataan kawasan kumuh di wilayah Semanggi,” jelasnya saat berada di lokasi, Kamis. Ia menambahkan, “Jika penataan di kawasan Sangkrah ini tuntas, maka wajah kumuh di kawasan Semanggi secara keseluruhan akan berhasil dihapuskan.”

Lebih lanjut, Wakil Wali Kota Solo tersebut memaparkan harapan akan adanya tambahan dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk penataan kawasan Semanggi. Kawasan Semanggi sendiri meliputi empat kelurahan, yaitu Semanggi, Mojo, Sangkrah, dan Pasar Kliwon. “Di tahun 2026, kami berharap akan ada realisasi khususnya untuk memenuhi kekurangan dari total 56 unit rumah melalui CSR dari PT SMF,” ujarnya. Selain itu, Astrid juga mengharapkan adanya tambahan bantuan CSR dari Bank Jateng untuk pembangunan sekitar 3 unit rumah.

Advertisements

Astrid menekankan bahwa penataan kawasan tidak hanya berhenti pada aspek fisik semata. Ia berharap pembangunan rumah layak huni juga akan diikuti dengan peningkatan kualitas hidup dan pola pikir para penerima manfaat. “Penataan kawasan ini tidak boleh berhenti dari fisik saja, tapi rumah sudah kita bangun harus diikuti dengan pola hidup dan pola pikir yang lebih baik,” tegasnya. “Kami ingin kawasan ini tumbuh juga secara sosial dan budaya,” imbuh Wakil Wali Kota Solo, menggarisbawahi pentingnya pembangunan holistik.

Rencana SMF

Direktur Utama PT SMF (Persero), Ananta Wiyogo, menjelaskan rencana pihaknya setelah seluruh rumah layak huni di Sangkrah selesai dibangun. Ananta menyatakan bahwa SMF saat ini berfokus untuk menuntaskan sisa pembangunan rumah layak huni di Surakarta agar seluruh target terpenuhi. Dalam kesempatan yang sama, Ananta juga menguraikan latar belakang terbentuknya Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kementerian Keuangan. “Program TJSL sebenarnya diinisiasi tahun 2018 atas permintaan dari saran Menteri Keuangan pada waktu itu, Bu Sri Mulyani,” ungkapnya.

Menurut Ananta, Pemerintah Kota Surakarta menunjukkan proaktivitas luar biasa dalam kerja sama penataan kawasan kumuh. Hal ini, imbuhnya, menjadi faktor kunci yang membuat pihaknya tidak menghadapi kendala berarti selama proses pembangunan rumah layak huni di Surakarta. “Selama ini yang paling ideal kerja sama kita dengan Pemda atau Pemkot dari Solo,” kata Ananta. “Karena mereka proaktif kepada kita, kita lihat daerahnya, tanahnya disediakan free and clear, jadi tidak ada masalah lagi. Kami membangunnya juga dengan adem karena tidak ada masalah.” Ananta juga mengungkapkan kepuasannya terhadap hasil proyek ini. “Kalau kita lihat hasilnya seperti ini ‘kan bagus. Ini (rumah layak huni di Sangkrah) adalah contoh rumah layak tinggal yang sudah ada di Kota Solo,” tambah Direktur Utama PT SMF (Persero).

Permukiman Kumuh di Kawasan Semanggi

Permukiman kumuh di Kawasan Semanggi, yang kini masuk segmen ke-IV yaitu Segmen Losari-Demangan, Kelurahan Sangkrah, merupakan segmen terakhir dalam upaya penanganan kawasan kumuh di Kota Surakarta. Setiap unit rumah dibangun dengan ukuran 4×5 meter dan terdiri dari dua lantai. Desain site plan disesuaikan dengan kondisi lahan, ada yang dibangun secara kopel (berhimpitan saling membelakangi), serta ada pula yang berdiri sendiri dan berderet.

Program ini adalah wujud keberlanjutan dan komitmen kuat pemerintah dalam mendukung program nasional untuk menekan backlog kelayakan dan kepemilikan rumah, serta upaya penghapusan kemiskinan ekstrem. Di saat yang sama, proyek ini juga secara spesifik mendukung penuntasan kawasan kumuh terakhir di Kawasan Semanggi, Kota Surakarta. Dengan penataan yang komprehensif di permukiman kumuh Segmen Losari-Demangan, diharapkan tercipta sebuah permukiman yang tidak hanya layak huni, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi warganya.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Advertisements