Insinerator dominasi program WTE global, apa saja keunggulannya?

Jakarta – Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang kian kompleks secara global, program pengolahan sampah menjadi energi (Waste-to-Energy/WtE) muncul sebagai solusi strategis. Menariknya, dominasi teknologi insinerator dalam program WtE terlihat jelas, baik di negara maju maupun berkembang.

Advertisements

Data terbaru yang dihimpun dari Program PBB untuk Lingkungan (UNEP), Bank Dunia, dan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan skala program WtE global yang impresif. Sepanjang tahun 2023, total Sampah Padat Perkotaan (MSW) yang berhasil diolah dalam skema WtE secara global mencapai antara 270 juta hingga 310 juta ton, menandakan upaya besar dalam mengatasi persoalan sampah.

Dari volume tersebut, mayoritas signifikan, yakni sekitar 220 juta hingga 230 juta ton sampah, diolah melalui metode pembakaran via insinerator. Penggunaan metode ini mencatatkan angka yang sangat tinggi, mencapai 79% di negara maju dan 78% di negara berkembang. Beberapa negara yang menjadi pionir dan pengguna aktif teknologi ini antara lain Jerman, Denmark, Inggris, Spanyol, Prancis, Belanda, Australia, Korea Selatan, Jepang, China, Amerika Serikat, hingga Thailand, menunjukkan penerimaan luas terhadap solusi ini.

Meski insinerasi mendominasi, berbagai metode pengolahan sampah WtE lainnya turut berperan penting. Teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), misalnya, menggarap sekitar 20 juta hingga 30 juta ton sampah (dengan porsi 9% di negara maju dan 5% di negara berkembang). Sementara itu, teknologi Advanced Thermal, termasuk Gasifikasi, bertanggung jawab atas pengolahan 5 juta hingga 10 juta ton sampah (5% di negara maju, namun kurang dari 1% di negara berkembang).

Advertisements

Lalu, teknologi Anaerobic Digestion juga berkontribusi dalam mengolah 5 juta hingga 10 juta ton sampah (5% di negara maju dan sekitar 3% di negara berkembang). Di luar empat metode utama ini, teknologi WtE lainnya secara kolektif mengolah 20 juta hingga 30 juta ton sampah (2% di negara maju dan 13% di negara berkembang), menunjukkan keragaman inovasi dalam manajemen limbah.

Baca juga:

  • Berpengalaman Kelola Sampah, Simak Profil Perusahaan Peserta Tender WtE
  • PSEL Solusi Darurat Sampah, Tenggara Strategics Sebut Bukan Soal Balik Modal

Pertanyaan krusial pun muncul: Mengapa insinerator menjadi pilihan paling banyak digunakan dan mendominasi lanskap WtE global? Berdasarkan data dari Algo Research dan Kementerian Lingkungan Hidup, insinerator menawarkan sejumlah kemudahan yang membuatnya unggul, terutama jika dibandingkan dengan metode populer lainnya seperti gasifikasi.

Dalam hal keuntungan utamanya, insinerasi terbilang lebih sederhana dalam operasionalnya dan memiliki kapabilitas untuk mengolah sampah campuran yang belum terpilah dengan baik, sebuah kondisi yang sering dijumpai di banyak wilayah perkotaan. Di sisi lain, gasifikasi unggul dalam menghasilkan energi potensial yang lebih besar dan emisi yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih bersih dari segi lingkungan.

Mengenai kawasan penggunanya, insinerator sangat cocok diterapkan di perkotaan padat yang memiliki volume sampah campuran dan belum menerapkan pemilahan sejak awal. Sebaliknya, gasifikasi lebih sesuai untuk negara atau wilayah yang sudah memiliki sistem pemisahan sampah berdasarkan jenisnya atau fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) yang memadai.

Namun, kedua teknologi ini juga memiliki tantangannya masing-masing. Insinerator cenderung memiliki efisiensi yang lebih rendah serta menghasilkan lebih banyak abu dan emisi yang memerlukan penanganan khusus. Di sisi lain, gasifikasi membutuhkan fasilitas RDF yang konsisten, kering, dan terpilah dengan baik, serta memerlukan sistem pembersihan gas buang yang canggih untuk mengoptimalkan kinerjanya.

Advertisements