
JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) secara resmi telah mengungkapkan nama-nama pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial owner (UBO) dari perseroan, sebuah informasi krusial bagi transparansi korporasi.
Dalam keterbukaan informasi yang ditayangkan di Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 12 Februari 2026, manajemen BUMI membeberkan bahwa pemilik manfaat tingkat perorangan saat ini adalah Nirwan Dermawan Bakrie, adik bungsu dari Aburizal Bakrie, yang bertindak melalui kelompok usaha Bakrie, serta Anthony Salim dari kelompok usaha Salim. Kendati demikian, laporan tersebut tidak merincikan mekanisme atau “kendaraan” yang digunakan kedua konglomerat ini dalam menguasai salah satu raksasa tambang batu bara di Indonesia, pun demikian dengan komposisi kepemilikan saham mereka secara spesifik.
Adapun informasi yang telah terungkap jelas dari laporan bulanan registrasi pemegang efek per Januari 2026 menunjukkan beberapa pemegang saham dengan kepemilikan 5% atau lebih dari saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Mach Energy (Hong Kong) Limited tercatat memegang mayoritas dengan 170 miliar saham atau setara 45,78%, diikuti oleh UBS Switzerland AG-Client Assets dengan 18,94 miliar saham atau 5,10%.
Sementara itu, beberapa entitas lain juga memiliki porsi signifikan. Cris Development Limited menggenggam 18,06 miliar saham (4,86%), Treasure Global Investments Limited memiliki 11,80 miliar saham (3,18%), dan BSBC-Fund SVS A/C Chengdong Investment Corp-Self memegang 10,44 miliar saham (2,81%).
Yang menarik, jumlah kepemilikan saham oleh masyarakat yang berada di bawah ambang batas 5% mengalami peningkatan signifikan. Porsi ini melonjak dari 130,99 miliar saham (35,27%) pada bulan sebelumnya menjadi 182,38 miliar saham atau 49,11% per akhir Januari 2026. Di sisi lain, kepemilikan saham selain pemegang saham pengendali dan pemegang saham utama pada Januari 2026 terpantau stabil, yakni tetap di angka 200,06 miliar saham atau 53,87%.
Dalam pemberitahuan resmi perusahaan, detail mengenai “kendaraan” Anthony Salim dalam kepemilikan BUMI akhirnya terungkap. Ia berinvestasi melalui Mach Energy (Hong Kong) Limited (MEL) dan Treasure Global Investments Limited (TGIL).
Berdasarkan catatan Bisnis, kepemilikan saham BUMI oleh Salim melalui Mach Energy tidak mengalami perubahan sejak akhir Oktober 2024, tetap di 170 miliar saham atau setara dengan 45,78%. Namun, kepemilikan melalui Treasure Global menunjukkan penurunan, dari 30 miliar saham atau 8,08% per akhir Oktober 2024. Saat ini rincian kepemilikan Treasure Global tersebut tidak disebutkan.
Mach Energy (Hong Kong) Limited (MEL) sendiri merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Hong Kong. Struktur kepemilikan saham MEL terdiri atas PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) yang menguasai 42,5% saham di bawah kendali kelompok usaha Bakrie, Clover Wide Limited yang memiliki 15% saham dan dikendalikan oleh Agoes Projosasmito, serta 42,5% saham lainnya dimiliki oleh Mach Energy Pte.Ltd yang berpusat di Singapura.
Adapun Treasure Global Investments Limited (TGIL), yang juga berbasis di Hong Kong, memiliki dua pemegang saham utama: PT Aswana Pinasthika Investasi dengan kepemilikan 16,15% di bawah kendali Agoes Projosasmito, sementara sisa kepemilikan adalah milik Anthoni Salim.
BUMN China Terus Pangkas Kepemilikan di BUMI
Dalam perkembangan terpisah, entitas BUMN China, Chengdong Investment Corporation, secara konsisten mengurangi porsi kepemilikannya di BUMI. Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Januari 2026, kepemilikan Chengdong kini tersisa 2,81% dari total saham beredar.
Angka ini menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan posisi per 30 Desember 2025, ketika anak perusahaan China Investment Corporation tersebut masih menguasai 21,39 miliar saham atau 5,76%. Dengan demikian, selama Januari 2026 saja, Chengdong diperkirakan telah melepas sekitar 10,94 miliar saham BUMI.
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa porsi kepemilikan Chengdong ini telah menyusut drastis dari puncaknya saat konversi utang menjadi saham pada akhir 2022. Kala itu, Chengdong mengonversi surat utang mandatory convertible bond (MCB) pada harga Rp80 per saham, yang menyebabkan kepemilikannya melonjak menjadi 39,65 miliar saham atau 10,68% dari sebelumnya 14,8 miliar saham atau 4,32%.
Melalui serangkaian aksi penjualan ini, Chengdong diperkirakan telah mengantongi triliunan rupiah dari divestasi yang dilakukan, hingga kini kepemilikannya berada di bawah ambang batas 5%.
Di pasar sekunder, pergerakan saham BUMI pada perdagangan Kamis (12/2/2026) dibuka di level Rp280 per saham, setelah sehari sebelumnya ditutup pada harga Rp272. Hingga pukul 10.22 WIB, harga saham bergerak fluktuatif dalam rentang Rp266—Rp282, dan terakhir tercatat di posisi Rp272 per lembar.
Pada level tersebut, saham BUMI tercatat menguat 162 poin atau 147,27% dalam enam bulan terakhir, dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp100,26 triliun. Namun, secara year to date 2026, saham ini masih menunjukkan pelemahan sebesar 148 poin atau 35,24%. Meski demikian, dalam rentang satu tahun terakhir, BUMI tetap mencatat kenaikan signifikan sebesar 173 poin atau 174,75%.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia, saham BUMI pertama kali berhasil meninggalkan level Rp100-an pada 13 November 2025, ketika harganya melonjak menjadi Rp224 dari Rp192 pada penutupan sehari sebelumnya. Sejak menembus level tersebut, pergerakan harga saham BUMI cenderung meningkat dan sempat bertahan di atas Rp300 per lembar sejak 10 Desember 2025, sebelum kembali menunjukkan volatilitas pada awal 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.