Menjelang Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan refleksi diri sebagai bagian dari persiapan batin yang mendalam. Salah satu aspek krusial yang patut disoroti adalah kualitas relasi persahabatan. Dalam pandangan Islam, persahabatan jauh lebih dari sekadar ikatan sosial; ia merupakan fondasi yang dapat membentuk nilai, kebiasaan, hingga kualitas keimanan seseorang.
Islam memandang persahabatan sebagai hubungan yang kokoh, dibangun atas dasar kepercayaan, kesetiaan, dan kesamaan nilai-nilai luhur. Al-Quran dan Sunah secara tegas menempatkan lingkungan pertemanan sebagai faktor penentu arah hidup, baik secara spiritual maupun sosial. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya memilih sahabat yang tepat dalam meniti perjalanan hidup seorang Muslim.
Sosok teladan utama dalam menjalin persahabatan adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pemimpin umat, tetapi juga sebagai sahabat sejati bagi orang-orang di sekitarnya. Riwayat mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW membangun hubungan yang dilandasi ketulusan, empati mendalam, dan perhatian penuh. Dalam banyak kesempatan, beliau terbukti mampu menguatkan para sahabat di masa-masa sulit, membela mereka, bahkan menjaga ikatan persahabatan tersebut jauh setelah wafatnya para sahabat.
Kualitas persahabatan dalam Islam juga ditegaskan melalui firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah Az-Zukhruf ayat 67, yang berbunyi, “al-akhillâ’u yauma’idzim ba‘dluhum liba‘dlin ‘aduwwun illal-muttaqîn”. Ayat ini memiliki arti: “Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” Penafsiran ayat ini, sebagaimana dikutip dari Quran.nu.or.id, menjelaskan bahwa di hari kiamat kelak, sebagian teman karib akan menjadi musuh bagi yang lain, sebab persahabatan mereka terjalin atas dasar kezaliman, bukan kebaikan atau kemaslahatan.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang bertakwa. Persahabatan mereka tidak akan berubah menjadi permusuhan karena terikat oleh ketaatan kepada Allah SWT. Pesan mulia ini secara jelas menekankan bahwa kualitas relasi sosial, terutama persahabatan, akan turut menentukan nilai dan dampaknya bagi kehidupan jangka panjang, baik di dunia maupun akhirat.
Pandangan serupa juga diungkapkan oleh ulama besar seperti Imam al-Nawawi. Beliau menyoroti pengaruh pertemanan dengan mengibaratkan sahabat yang baik seperti penjual minyak wangi. Kehadirannya senantiasa memberikan manfaat, meskipun terkadang kita tidak menyadarinya secara langsung. Pengaruh positif ini bisa terwujud melalui nasihat bijak, teladan perilaku yang baik, hingga kebiasaan sehari-hari yang inspiratif.
Salah satu contoh persahabatan yang kerap dijadikan rujukan dalam sejarah Islam adalah hubungan antara Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ikatan keduanya dibangun atas dasar iman yang kuat, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan kesamaan misi dakwah, bukan semata-mata kepentingan duniawi. Hubungan istimewa ini menjadi cerminan bagaimana relasi personal yang tulus dapat selaras dengan perjuangan kolektif yang mulia.
Al-Quran Surah Al-Kahf ayat 28 semakin memperkuat pesan ini, “washbir nafsaka ma‘alladzîna yad‘ûna rabbahum bil-ghadâti wal-‘asyiyyi yurîdûna waj-hahû wa lâ ta‘du ‘ainâka ‘an-hum, turîdu zînatal-ḫayâtid-dun-yâ, wa lâ tuthi‘ man aghfalnâ qalbahû ‘an dzikrinâ wattaba‘a hawâhu wa kâna amruhû furuthâ”. Artinya: “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.”
Ayat ini menegaskan urgensi untuk senantiasa berada di lingkungan orang-orang yang berzikir, merendahkan diri, dan fokus pada kebaikan. Dalam praktiknya, Rasulullah SAW juga menjalin kedekatan dengan Ashab al-Suffah, yakni kelompok sahabat dari kalangan sederhana yang konsisten dalam ibadah. Relasi ini membuktikan bahwa persahabatan dapat menjadi ruang penguatan iman yang efektif, tanpa memandang latar belakang sosial seseorang.
Para ulama juga memberikan penafsiran mendalam mengenai peran persahabatan. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menafsirkan bahwa persahabatan sangat berperan dalam membentuk pandangan keagamaan dan cara berpikir seseorang. Di sisi lain, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyoroti pendekatan Nabi Muhammad SAW yang penuh kelembutan dan humor sebagai faktor krusial yang mampu menguatkan ikatan dengan para sahabatnya.
Dalam konteks kehidupan modern, persahabatan seringkali terbentuk berdasarkan kesamaan minat, kenyamanan, atau kebutuhan praktis. Namun, menjelang Ramadan, penting bagi kita untuk memandang relasi ini sebagai sebuah ruang evaluasi. Sejauh mana pertemanan kita berkontribusi pada pertumbuhan nilai-nilai positif dan pembentukan kebiasaan yang lebih baik dalam diri kita?
Tidak hanya itu, sejumlah riwayat juga mencatat anjuran Nabi Muhammad SAW untuk menjaga ikatan persahabatan, bahkan setelah kematian, melalui silaturahmi dan doa antar-keluarga. Praktik ini menegaskan bahwa persahabatan dipandang sebagai relasi jangka panjang yang melampaui kepentingan sesaat atau usia di dunia.
Dengan demikian, refleksi Ramadan atas lingkungan pertemanan menjadi salah satu cara esensial untuk mempersiapkan diri. Bukan hanya secara individual, melainkan juga untuk membangun relasi sosial yang lebih sehat, bermakna, dan membawa keberkahan, selaras dengan nilai persahabatan Islam yang diajarkan.
Guna menyimak beragam refleksi, kisah, dan liputan seputar Ramadan dari berbagai sudut pandang, Anda dapat mengakses rangkaian konten di laman Ramadan Baik Bersama Katadata.