Daftar saham LQ45 belum penuhi free float 15%, BREN, SCMA, hingga UNVR

Jakarta – Enam saham yang termasuk dalam jajaran indeks bergengsi LQ45 saat ini masih belum memenuhi ambang batas free float sebesar 15%. Kondisi ini sontak memicu pertanyaan di kalangan investor: seberapa menarikkah saham-saham ini untuk dipertimbangkan dalam portofolio investasi?

Advertisements

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, daya tarik saham-saham LQ45 dengan proporsi free float di bawah 15% sangat bergantung pada perspektif dan profil risiko masing-masing investor.

“Secara fundamental,” jelas Liza pada Jumat (20/2/2026), “beberapa saham ini didukung oleh bisnis yang kuat dan kapitalisasi pasar yang besar. Namun, free float yang rendah mengindikasikan likuiditas publik yang terbatas. Akibatnya, pergerakan harga saham-saham ini cenderung lebih rentan terhadap sentimen pasar dan aktivitas distribusi.”

Lebih lanjut, Liza menyoroti adanya risiko struktural yang dihadapi saham-saham dengan porsi publik sempit, terutama dalam konteks tekanan dari MSCI yang mendorong standar minimum free float 15%. Hal ini berdampak signifikan pada bobot saham dalam indeks dan persepsi investor institusi global terhadap saham tersebut.

Advertisements

Saham-saham dengan karakteristik ini, menurut Liza, kerap kali tampak ‘tertahan’ kenaikannya di tengah momentum pasar yang positif. Namun, ketika sentimen berbalik arah, potensi koreksinya bisa jauh lebih tajam karena ruang distribusi yang terbatas. “Risiko teknikalnya terbilang lebih tinggi dibandingkan dengan saham-saham bluechip old-school di LQ45 yang memiliki free float lebar dan likuiditas tinggi, yang secara historis lebih stabil di tengah gejolak pasar,” tambahnya.

Liza menegaskan bahwa saham dengan free float rendah tidak serta merta kehilangan daya tariknya. Saham-saham ini justru sangat cocok bagi investor yang memiliki toleransi tinggi terhadap volatilitas pasar. Sebaliknya, bagi investor yang cenderung konservatif atau institusi besar, saham dengan likuiditas melimpah dan struktur kepemilikan yang sehat akan memberikan kenyamanan dan keamanan investasi yang lebih baik.

Mengulas prospek ke depan, Liza memperkirakan bahwa peluang penguatan indeks LQ45 secara umum masih terbuka lebar. Optimisme ini terutama akan terealisasi jika arus dana asing kembali mengalir masuk ke pasar modal Indonesia dan isu free float mendapatkan solusi kebijakan yang definitif. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan tersebut kemungkinan besar tidak akan terjadi secara merata. Indeks LQ45 diprediksi akan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang likuid dan memiliki fundamental yang kuat, alih-alih saham dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi.

“Sebagai kesimpulan,” papar Liza, “di tengah kondisi pasar saat ini, kualitas likuiditas dan struktur kepemilikan saham menjadi faktor yang krusial, setara dengan kinerja fundamental. Kedua aspek inilah yang akan menjadi penentu utama antara saham yang mampu mempertahankan kenaikan secara berkelanjutan dengan saham yang hanya bergerak karena dorongan sentimen jangka pendek.”

Adapun, beberapa nama besar dalam indeks LQ45 yang hingga kini masih mencatatkan free float di bawah 15% meliputi BREN dengan 12,29%, NCKL sebesar 10,44%, ADMR dengan 11,97%, UNVR di angka 14,05%, PGEO dengan 10,9%, dan SCMA yang memiliki free float 14,93%.

Advertisements