
Rencana penghapusan program langganan layanan bagi pengemudi ojek online (ojol) disambut dengan antusiasme tinggi oleh para driver. Kebijakan ini dinilai sebagai angin segar karena skema langganan selama ini dianggap memberatkan, di mana pengemudi harus membayar biaya tambahan demi mendapatkan pesanan, namun tetap dibenturkan dengan tarif layanan yang murah.
Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengungkapkan bahwa pihaknya sejak lama mendesak agar program berbayar, seperti layanan hemat dan prioritas order, dievaluasi hingga dihentikan sepenuhnya. Menurut Igun, berbagai skema tersebut justru menambah beban operasional yang nyata bagi para pengemudi di lapangan.
Igun memaparkan, dengan kombinasi penghapusan program langganan serta implementasi potongan komisi aplikator maksimal 8%, pendapatan bersih pengemudi berpotensi melonjak signifikan. Garda Indonesia memperkirakan kenaikan pendapatan tersebut berada di kisaran 20% hingga 35% karena berkurangnya berbagai biaya operasional tambahan yang selama ini harus ditanggung pengemudi setiap harinya.
Lebih lanjut, Igun menjelaskan bahwa rata-rata pengemudi harus menyisihkan dana sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari hanya untuk mengikuti program langganan agar tetap kompetitif mendapatkan pesanan. Jika diakumulasikan secara mingguan hingga bulanan, nominal tersebut tentu menjadi beban ekonomi yang cukup berat bagi mayoritas mitra pengemudi.
Meski mengakui bahwa penghapusan subsidi ini kemungkinan akan berdampak pada penyesuaian tarif bagi konsumen, Garda Indonesia tetap optimis. Igun menilai kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi online tidak akan surut, mengingat ojol telah menjadi bagian integral dari mobilitas harian, baik di perkotaan maupun daerah penyangga.
Keluhan serupa disampaikan oleh Yoga, seorang pengemudi Gojek. Ia menyebut program GoRide Hemat—yang sering dijuluki pengemudi sebagai Gocek Gacor—kerap memaksa driver melayani order jarak jauh dengan tarif yang sangat rendah. Selain itu, pengemudi Grab bernama Ari juga berharap kebijakan baru ini bisa menciptakan keadilan dalam sistem pembagian order tanpa perlu dibebani biaya langganan lagi. Sementara itu, pengemudi lain, Ingga, berharap langkah ini menjadi awal perubahan yang lebih adil bagi seluruh ekosistem ojol, termasuk layanan pesan-antar makanan seperti ShopeeFood.
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang diumumkan pada peringatan May Day, 1 Mei 2026, mengenai batas maksimal potongan komisi aplikator sebesar 8%. Menanggapi hal tersebut, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk menyatakan kesiapannya untuk mematuhi Perpres Nomor 27 Tahun 2026. Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, menyampaikan bahwa perusahaan akan menghentikan skema langganan GoRide Hemat demi menjaga keseimbangan dan kesejahteraan mitra pengemudi.
Senada dengan Gojek, Grab Indonesia juga memutuskan untuk menutup program langganan Akses Hemat bagi pengemudi GrabBike. CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menegaskan bahwa penutupan program ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak. Kendati program langganan bagi pengemudi dihapus, Grab memastikan bahwa layanan GrabBike Hemat bagi konsumen akan tetap tersedia dengan penyesuaian biaya yang terukur guna menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.
Ringkasan
Penghapusan program langganan berbayar bagi pengemudi ojek online (ojol) disambut positif karena dinilai mengurangi beban operasional harian yang mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Kebijakan ini, yang juga dibarengi dengan pembatasan potongan komisi aplikator maksimal 8%, diprediksi mampu meningkatkan pendapatan bersih pengemudi hingga 35%. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah demi meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi.
Perusahaan aplikator seperti Gojek dan Grab telah menyatakan kesiapannya untuk menghentikan skema langganan seperti GoRide Hemat dan Akses Hemat. Meskipun penghapusan subsidi ini berpotensi memengaruhi penyesuaian tarif bagi konsumen, pihak asosiasi pengemudi dan aplikator optimis bahwa layanan transportasi online akan tetap menjadi kebutuhan esensial masyarakat. Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang lebih adil dan berkelanjutan bagi seluruh pihak yang terlibat.