
Presiden Prabowo Subianto resmi mengumumkan pembentukan badan baru yang difokuskan untuk mengelola ekspor sumber daya alam Indonesia. Pengumuman ini disampaikan Presiden dalam pidato mengenai kerangka ekonomi makro dan APBN di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (20/5).
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa lembaga tersebut bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang telah resmi dibentuk pada 19 Mei 2026. Menurut Rosan, langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkuat transparansi dalam setiap transaksi ekspor komoditas sumber daya alam nasional.
Pembentukan DSI merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo kepada Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN). Fokus utamanya adalah membenahi tata kelola perdagangan komoditas sumber daya alam agar lebih terbuka, akuntabel, dan efisien. “Kami ingin menekankan bahwa langkah ini lebih ditujukan untuk meningkatkan transparansi transaksi,” ujar Rosan di Jakarta.
Pemerintah menilai bahwa praktik under invoicing dan transfer pricing pada komoditas ekspor telah berlangsung selama bertahun-tahun. Berdasarkan data pemerintah dan lembaga internasional, fenomena ini berdampak negatif terhadap penerimaan negara, baik dari sektor perpajakan, royalti, maupun devisa. Selain itu, praktik tersebut juga memengaruhi validitas data perdagangan nasional yang selama ini menjadi perhatian serius pemerintah.
Untuk menakhodai lembaga ini, Danantara telah menunjuk sosok berpengalaman. Berdasarkan penelusuran, badan yang akan menjadi fasilitator utama dalam kontrak dagang ekspor-impor, mulai dari sektor sawit hingga mineral dan batu bara (minerba) ini, akan efektif beroperasi pada 1 Juni 2026. Luke Thomas Mahony resmi menjabat sebagai Direktur, sementara Harold Jonathan Dharma Tj ditunjuk sebagai Komisaris PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Luke Thomas Mahony sendiri merupakan sosok yang memiliki jejak karier panjang di industri pertambangan. Ia sebelumnya menjabat sebagai Direktur dan Chief Strategy and Technical Officer di PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebelum mengundurkan diri pada 25 Juli 2025. Warga negara Australia yang berdomisili di Jakarta ini memiliki latar belakang pendidikan mumpuni, yakni sarjana Mining Engineering dari University of New South Wales (UNSW) serta tiga gelar master di bidang Keuangan, Teknik Pertambangan, dan Geomekanika.
Sebelum bergabung dengan Vale, Luke pernah menduduki posisi strategis di perusahaan global seperti Global Head of Technology & Innovation dan Global Head of Geology di perusahaan pertambangan internasional. Ia juga berpengalaman sebagai General Manager dan Technical Executive di BHP Billiton, serta pernah berkarier di Xstrata Coal dan Baulderstone Hornibrook.
Berdasarkan SK pengesahan AHU-0039765.AH.01.01.Tahun 2026, PT Danantara Sumberdaya Indonesia terdaftar dengan klasifikasi KBLI 64200 yang mencakup aktivitas perusahaan holding. Sebagai perusahaan induk, DSI akan mengelola dan menguasai aset anak perusahaan tanpa terlibat langsung dalam operasional harian. Kegiatan usahanya meliputi jasa penasihat dan perunding dalam merancang merger serta akuisisi perusahaan.
Dalam struktur permodalannya, PT Danantara Investment Management menggenggam saham Seri A senilai Rp 24,75 juta, sementara PT Danantara Mitra Sinergi memiliki saham Seri B senilai Rp 250 ribu. Total modal dasar perusahaan ditetapkan sebesar Rp 100 juta yang terbagi dalam saham Seri A dan Seri B.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menegaskan bahwa DSI akan menjalankan peran vital dalam memperkuat sistem pelaporan perdagangan dan memastikan transaksi dilakukan sesuai harga pasar. Implementasi kebijakan ini akan dilakukan secara bertahap melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait.
Mengusung pendekatan one platform, multiple benefit, inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem perdagangan nasional. “Ini adalah sumber daya Indonesia untuk dunia yang membawa kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” pungkas Pandu di Wisma Danantara, Jakarta.
Ringkasan
Presiden Prabowo Subianto resmi membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mengelola ekspor komoditas nasional agar lebih transparan, akuntabel, dan efisien. Langkah strategis ini bertujuan meminimalisir praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini merugikan penerimaan negara dari sektor pajak, royalti, serta devisa. Badan ini akan mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 sebagai fasilitator utama kontrak dagang, mulai dari sektor sawit hingga mineral dan batu bara.
Untuk memimpin DSI, Danantara menunjuk Luke Thomas Mahony sebagai Direktur dan Harold Jonathan Dharma Tj sebagai Komisaris. Luke merupakan mantan petinggi PT Vale Indonesia Tbk yang memiliki pengalaman luas di industri pertambangan global serta latar belakang pendidikan teknik dan keuangan yang mumpuni. Melalui pendekatan satu platform, DSI diharapkan mampu memperkuat ekosistem perdagangan nasional demi kemakmuran rakyat Indonesia.