Rupiah Terpuruk, LPEM UI Desak BI Naikkan Suku Bunga 25 Bps

Jakarta, IDN Times – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kini berada dalam fase yang semakin mengkhawatirkan. Merespons kondisi tersebut, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mendesak Bank Indonesia (BI) untuk segera mengambil langkah konkret dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada Mei 2026.

Advertisements

Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menegaskan bahwa langkah ini sangat krusial untuk meredam depresiasi rupiah yang terus berlanjut di tengah gempuran tekanan pasar yang intens.

“BI sebaiknya menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang,” ujar Riefky, Selasa (19/5/2026). Menurutnya, optimalisasi instrumen suku bunga mutlak diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar serta mencegah terkikisnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Rupiah Melemah 2,69 Persen dalam Sebulan

Advertisements

Data LPEM FEB UI mencatat depresiasi rupiah yang cukup tajam selama satu bulan terakhir. Nilai tukar rupiah tercatat melemah 2,69 persen secara bulanan (month to month) dan terkoreksi sekitar 7 persen secara tahunan (year on year).

Riefky menjelaskan bahwa meskipun pelemahan ini dipengaruhi oleh faktor eksternal yang turut menekan mata uang negara berkembang lainnya, tekanan dari faktor domestik justru memberikan dampak yang lebih signifikan. Ia menyoroti beberapa persoalan dalam negeri yang memicu kekhawatiran pelaku pasar, mulai dari rendahnya rasio pajak, implementasi program populis yang membebani fiskal, hingga potensi risiko kewajiban kontinjensi (contingent liability) dari Danantara.

“Lebih lanjut, tingginya ketidakpastian kebijakan, adanya indikasi dominasi negara di berbagai sektor ekonomi, dan tergerusnya independensi bank sentral memicu kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi Indonesia, sebagaimana disampaikan berbagai lembaga pemeringkat global,” ungkapnya.

BI Dinilai Sudah Agresif Melakukan Intervensi

Sejatinya, BI telah berupaya keras menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen moneter, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF). Sepanjang tahun 2026, outstanding SRBI bahkan meningkat sekitar Rp214 triliun guna menyerap aliran valuta asing dari pasar.

Tidak hanya itu, rerata tertimbang kupon SRBI tercatat mencapai 6,4 persen per 13 Mei 2026, yang berarti naik 51 basis poin dibanding bulan April dan melonjak 150 basis poin sejak awal tahun. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik. Namun, Riefky menilai bahwa kebijakan intervensi tersebut belum cukup untuk menahan laju pelemahan rupiah sendirian.

“Menimbang berbagai kebijakan intervensi tersebut, pelemahan rupiah saat ini tampaknya sulit dikendalikan hanya dengan mengandalkan instrumen moneter,” jelasnya.

Cadangan Devisa Susut Lebih dari 10 Miliar Dolar AS

Upaya stabilisasi rupiah pun memakan biaya besar terhadap cadangan devisa Indonesia. Pada April 2026, posisi cadangan devisa tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, turun 1,95 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif, BI tercatat telah menggelontorkan lebih dari 10 miliar dolar AS dalam kurun waktu empat bulan terakhir demi mempertahankan stabilitas mata uang Garuda.

Mengingat intervensi yang dilakukan belum memberikan efektivitas maksimal dan tekanan pasar masih terus membayangi, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi langkah mitigasi yang dinilai paling mendesak untuk dilakukan saat ini.

Ringkasan

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mendesak Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang. Langkah ini dianggap krusial untuk menahan depresiasi rupiah yang telah melemah 2,69 persen dalam sebulan terakhir, serta menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan pasar yang intens.

Meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi melalui instrumen moneter dan penggunaan cadangan devisa lebih dari 10 miliar dolar AS dalam empat bulan terakhir, langkah tersebut dinilai belum cukup efektif. Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal, ketidakpastian kebijakan domestik, dan risiko independensi bank sentral. Oleh karena itu, kenaikan suku bunga dipandang sebagai mitigasi paling mendesak untuk memulihkan kepercayaan investor.

Advertisements