Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Pertanian, Zulkifli Hasan, menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong investasi hijau dan pengembangan ekonomi sirkular, terutama dalam sektor pangan dan pengelolaan sampah plastik. Pernyataan ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam agenda Sustainable Development Investment Mobilization (SDIM) dan Global Plastic Action Partnership (GPAP) di World Economic Forum (WEF) di New York, Amerika Serikat.
“Indonesia terus berupaya memperkuat ekosistem investasi yang mendukung ketahanan pangan dan pengurangan limbah plastik. Forum ini menjadi momentum penting bagi perluasan kolaborasi dan pengenalan inisiatif konkret yang telah kita laksanakan,” ujar Zulkifli Hasan, seperti dikutip dari keterangan resmi pada Kamis (25/9).
Dalam pidatonya, Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, menyoroti sejumlah pencapaian Indonesia, termasuk pengembangan ekonomi hijau, transisi energi bersih, serta transformasi sistem pangan yang inklusif dan tangguh. Kehadirannya di forum tersebut dilakukan di sela-sela tugas mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. Agenda SDIM dan GPAP yang diinisiasi WEF dipandang sebagai forum penting bagi pemangku kepentingan global untuk menyatukan visi dan aksi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia tengah menggarap proyek pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy) melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Proyek ambisius ini akan dibiayai melalui penerbitan Patriot Bonds atau Obligasi Patriotik oleh Danantara, yang ditargetkan mampu menghimpun US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.
Rosan Roeslani, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, mengungkapkan bahwa proses tender proyek waste-to-energy akan segera dilaksanakan di beberapa daerah yang telah siap, termasuk Jakarta, Bandung, Bali, Semarang, Surabaya, dan Makassar. “Dan daerah-daerah lain yang menjadi prioritas dan siap beroperasi akan segera ditender secara terbuka dan transparan,” tegas Rosan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (4/9).
Program bertajuk “Patriot Bonds: A Love Letter for Indonesia’s Future” akan melibatkan sejumlah konglomerat Indonesia. BPI Danantara menyebutkan, instrumen ini akan diterbitkan melalui skema private placement senilai puluhan triliun rupiah kepada para pebisnis terkemuka. Diperkirakan, para konglomerat tersebut akan masing-masing menginvestasikan sekitar Rp 3 triliun.
Ringkasan
Indonesia, melalui Menteri Zulkifli Hasan, berkomitmen mendorong investasi hijau dan ekonomi sirkular, khususnya di sektor pangan dan pengelolaan sampah plastik dalam forum World Economic Forum (WEF) di New York. Komitmen ini ditunjukkan dengan penyampaian sejumlah pencapaian Indonesia dalam pengembangan ekonomi hijau, transisi energi bersih, dan transformasi sistem pangan.
Salah satu proyek unggulan adalah pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy) oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), yang akan dibiayai melalui Patriot Bonds senilai US$ 3,1 miliar. Proyek ini akan segera dilelang di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan lainnya, dengan melibatkan konglomerat Indonesia melalui skema private placement.