Prabowo Bicara Pangan & Iklim di PBB: Strategi Politik Canggih?

Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (23/9), menyorot isu krusial ketahanan pangan. Badan Komunikasi Pemerintah (BKP) menjelaskan strategi di balik pemilihan tema ini sebagai pesan geopolitik dan peradaban yang sarat makna.

Advertisements

Tenaga Ahli Utama BKP, Hamdan Hamedan, menjelaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi peradaban besar, mengutip pemikiran Will dan Ariel Durant. Tanpa jaminan pangan yang cukup, pembangunan akan rapuh dan rentan. Hal ini semakin relevan mengingat tantangan demografi Indonesia dengan penambahan penduduk sekitar 3 juta jiwa setiap tahunnya. Dengan berkurangnya lahan pertanian, kebutuhan pangan domestik diproyeksikan akan meningkat drastis.

Dalam diskusi Katadata Policy Dialogue bertajuk “Presiden Prabowo di Panggung PBB: Apa Pentingnya?”, Rabu (24/9), Hamdan memberikan analogi: “Indonesia setiap tahun pertambahan penduduknya 3 juta jiwa. Berarti setiap tahun, Indonesia harus menyiapkan makanan untuk sumber daya manusianya sebesar jumlah populasi Qatar.” Situasi geopolitik yang bergejolak, seperti perang di Ukraina yang menyebabkan lonjakan harga gandum dan kedelai, semakin memperkuat urgensi isu ini. Dampaknya terasa global mengingat populasi dunia telah mencapai 8 miliar jiwa.

Hamdan menekankan perlunya proaktif, bukan reaktif. Pidato Prabowo, menurutnya, menunjukkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan produktivitas pangan dalam negeri. “Jadi backbone dari sebuah peradaban itu kita mulai dulu, amankan diri kita sendiri dengan food security,” tegas Hamdan. Ketahanan pangan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, namun juga untuk mewujudkan kemandirian pangan dan bahkan berpotensi menjadikan Indonesia sebagai eksportir, membantu negara lain dan memperkuat perannya sebagai pemain global dalam mengatasi krisis pangan.

Advertisements

Selain ketahanan pangan, Prabowo juga menyoroti ancaman perubahan iklim, menggunakan contoh konkret dampaknya di Indonesia. Kenaikan permukaan air laut di Jakarta yang mencapai 5 sentimeter per tahun menjadi bukti nyata yang memerlukan solusi segera. Pembangunan giant sea wall atau tanggul raksasa untuk melindungi kawasan pesisir dari banjir rob dan kenaikan muka air laut menjadi salah satu solusi strategis yang diusulkan, dengan target penyelesaian dalam 10-20 tahun ke depan.

Baca juga:

  • Kadin Uraikan Empat PR Ekonomi untuk Manfaatkan Memontum Pidato Prabowo di PBB
  • Rating Presiden Prabowo di Dunia Dianggap Naik Usai Pidato di PBB
  • Pidato Prabowo di PBB Dianggap Bisa Jadi Magnet Investasi

Ringkasan

Dalam pidato di PBB, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi peradaban, mengingat pertumbuhan penduduk Indonesia yang pesat dan tantangan geopolitik global seperti perang Ukraina. Hal ini dijelaskan sebagai strategi geopolitik yang cerdas, karena mengamankan pangan dalam negeri merupakan prioritas utama untuk pembangunan berkelanjutan dan potensi ekspor di masa depan.

Selain ketahanan pangan, Prabowo juga menyoroti dampak perubahan iklim, khususnya kenaikan permukaan air laut di Jakarta. Sebagai solusi, pembangunan tanggul raksasa diusulkan untuk melindungi kawasan pesisir. Pidato tersebut menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengatasi isu pangan dan iklim secara proaktif, bukan reaktif, dan memperkuat peran Indonesia di kancah internasional.

Advertisements