
Babaumma – , JAKARTA – Indonesia kini berada di tengah pusaran perebutan dominasi energi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi geopolitik ini secara signifikan memengaruhi persepsi investor asing terhadap saham-saham emiten energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, termasuk nama-nama besar seperti BREN, TOBA, hingga OASA.
Di bawah kepemimpinan Trump, AS terlihat kembali menggalakkan penggunaan energi fosil minyak bumi. Sebaliknya, China dengan agresif menggarap sektor energi terbarukan. Kedua negara adidaya ini memiliki kerja sama strategis yang mendalam dengan Indonesia di sektor energi, menciptakan dinamika yang kompleks bagi investasi EBT di Tanah Air.
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menegaskan bahwa sentimen investor asing terhadap sektor EBT di Indonesia memang tidak dapat dilepaskan dari fluktuasi geopolitik AS-China. “Masuknya komitmen investasi jumbo dari China jelas memberi sinyal dominasi yang lebih kuat dibandingkan janji JETP yang kini tergerus setelah AS di bawah Trump mundur dari komitmen US$2 miliar mereka,” ungkap Miftahul kepada Bisnis, Jumat (26/9/2025).
Melihat rekam jejak kerja sama dengan kedua negara, pada tahun 2023, sembilan perusahaan asal China telah meneken perjanjian senilai lebih dari US$54 miliar dengan PLN untuk proyek-proyek energi bersih. Kunjungan Presiden Prabowo ke Beijing pada tahun 2024 semakin memperkuat komitmen ini dengan tambahan investasi senilai US$10 miliar. Jumlah total ini jauh melampaui komitmen yang didapatkan Indonesia dari inisiatif Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai US$20 miliar yang ditandatangani pada tahun 2022. Kerja sama JETP ini melibatkan Indonesia dengan sejumlah negara maju mitra, termasuk AS yang sebelumnya berjanji untuk berkontribusi sebesar US$2 miliar. Namun, pada awal tahun ini, AS yang dipimpin Trump menarik diri dari JETP, meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan inisiatif tersebut.
Perkembangan geopolitik tersebut, menurut Miftahul, membuat sebagian investor asing memandang adanya risiko ketergantungan di masa depan. Akibatnya, arus modal asing atau capital inflow ke saham EBT tertentu seperti BREN, TOBA, dan PGEO cenderung tertahan. “Net sell asing yang terjadi pada ketiga emiten itu sepanjang tahun 2025 bisa dibilang refleksi adanya kehati-hatian tersebut, meskipun dari sisi fundamental sektor EBT Indonesia masih punya potensi jangka panjang yang menarik,” jelasnya.
Berdasarkan data penutupan pasar Jumat (26/9/2025), PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN), milik Prajogo Pangestu, menorehkan net sell asing year to date sebesar Rp193,14 miliar. Sementara itu, saham PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) membukukan net sell asing sebesar Rp17,16 miliar, dan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mencatat net sell asing Rp324,08 miliar.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa emiten EBT lainnya. PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) justru mencatatkan net buy asing year to date Rp6,90 miliar, dan saham PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA) meraih net buy asing sebesar Rp231,26 miliar.
“Ke depannya, kami kira eskalasi rivalitas AS-China bisa jadi faktor yang lebih kuat menggerakkan modal asing. Artinya, sekalipun emiten seperti ARKO atau OASA mencatat net buy asing karena story-nya lebih segmented, arah besar arus modal, kami kira tetap akan sangat ditentukan oleh persepsi risiko geopolitik,” tegas Miftahul, menggarisbawahi bahwa dinamika global akan terus menjadi penentu utama pergerakan investasi EBT.
Meski demikian, Miftahul juga melihat bahwa eskalasi perang dominasi energi antara AS dan China turut membuka peluang baru. Peluang ini akan terwujud jika Indonesia mampu menyeimbangkan kerja sama dengan kedua blok di sektor EBT. Bila Presiden Prabowo berhasil menjalankan strategi penyeimbangan ini, Indonesia berpotensi kembali menjadi magnet investasi, mengingat kebutuhan investasi energi bersih yang sangat tinggi hingga tahun 2030 mendatang.
Pemerintah memperkirakan bahwa kebutuhan investasi energi bersih Indonesia akan mencapai US$97 miliar hingga 2030. Arus investasi asing dinilai sangat krusial mengingat sektor tenaga surya dan angin di Indonesia masih tergolong kecil, baru menyumbang 0,24% dari total energi nasional. Angka ini jauh di bawah Filipina yang mencapai 3,8% atau Vietnam yang telah mencapai 13%.
“Dari sisi saham, kami melihat BREN dan PGEO masih prospektif untuk jangka panjang berkat portofolio proyek yang solid, meskipun dalam jangka pendek volatilitasnya masih akan tinggi mengikuti tensi global. Untuk BREN, rekomendasi kami adalah hold dengan target harga Rp9.400, sedangkan PGEO dapat dipertimbangkan trading buy dengan target Rp1.415,” pungkas Miftahul, memberikan gambaran spesifik bagi para investor di pasar modal.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Artikel ini membahas pengaruh persaingan energi antara AS dan China terhadap investasi di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia. Investor asing menimbang risiko geopolitik ini, terlihat dari net sell pada saham-saham seperti BREN, TOBA, dan PGEO. Meskipun demikian, beberapa emiten EBT seperti ARKO dan OASA justru mencatat net buy asing karena fokus yang lebih tersegmentasi.
Eskalasi rivalitas AS-China dapat membuka peluang baru jika Indonesia mampu menyeimbangkan kerja sama dengan kedua negara. Indonesia membutuhkan investasi energi bersih yang besar hingga 2030, mencapai US$97 miliar. Analis merekomendasikan hold untuk BREN dengan target harga Rp9.400 dan trading buy untuk PGEO dengan target Rp1.415.