
Babaumma – , JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) diproyeksikan akan mempertahankan prospek pertumbuhan solid hingga tahun 2026. Optimisme ini muncul meskipun terjadi penyesuaian pada target harga saham BBCA seiring dengan dinamika risiko pasar yang tengah berlangsung.
Dalam riset terbarunya, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, tetap mempertahankan peringkat ‘Beli’ untuk BBCA. Namun, mereka merevisi target harga saham perseroan dari Rp11.400 menjadi Rp10.900 per saham. Penyesuaian ini didasarkan pada revisi naik estimasi rata-rata biaya ekuitas (Cost of Equity/CoE) menjadi 7,0%.
“Meskipun sentimen negatif terkait country risk dan arus modal keluar asing masih membayangi, kami melihat potensi penurunan valuasi saat ini sudah terbatas,” jelas Victor dan Naura dalam riset yang dikutip Minggu (26/4/2026), menunjukkan resiliensi BBCA di tengah gejolak pasar.
: IHSG Ditutup Ambles 3,38% ke 7.129, 10 Saham Big Caps BBCA, BREN Cs Kompak Loyo
Hingga kuartal I/2026, BBCA, emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, membukukan laba bersih sebesar Rp14,6 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan 4% secara tahunan (year on year/YoY) dan sejalan dengan ekspektasi pasar, yakni sekitar 24% dari estimasi laba penuh tahun 2026.
Victor dan Naura menyoroti bahwa meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BBCA menyusut hingga level 5,7%, kinerja laba perseroan tetap kuat berkat dukungan dari fee-based income yang solid dan efisiensi beban operasional yang tercatat turun 9% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ). Manajemen BCA juga mengindikasikan adanya meredanya tekanan pada imbal hasil korporasi serta menyoroti potensi penyesuaian naik suku bunga kredit atau repricing loans di masa mendatang.
Dari sisi penyaluran kredit, BBCA tetap optimis dan mempertahankan panduan pertumbuhan di kisaran 8%—10% hingga akhir tahun. Optimisme ini didorong oleh perbaikan signifikan pada kualitas aset di segmen korporasi dan komersial, yang berhasil mengompensasi perlambatan di segmen ritel dan UMKM. Sebagai bukti kesehatan aset, rasio non-performing loan (NPL) dan loan at risk (LaR) secara keseluruhan tercatat mengalami penurunan masing-masing 5% dan 11% YoY, menandakan manajemen risiko yang efektif.
Secara taktis, Victor dan Naura memberikan pandangan positif terhadap saham BBCA untuk periode tiga bulan ke depan. Meskipun pasar modal domestik masih dibayangi sentimen risiko negara (country risk) dan arus modal keluar asing (foreign outflow), valuasi BBCA saat ini dinilai sudah sangat atraktif, menawarkan peluang bagi investor.
“Kami melihat potensi penurunan harga saham saat ini sudah terbatas karena valuasi sudah berada di bawah -3SD dari standar deviasi historisnya. Ini memberikan ruang bagi investor untuk melakukan akumulasi,” pungkas mereka, menyiratkan momen yang tepat untuk investasi.
Selain prospek pertumbuhan yang kokoh, daya tarik BBCA di mata investor semakin diperkuat oleh rencana pembagian dividen interim tahun ini. Pembagian dividen direncanakan akan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pada bulan Juni, September, dan Desember 2026, menambah nilai bagi para pemegang saham.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.