Alasan rupiah masih tersungkur saat IHSG cetak rekor, ramalan Purbaya salah?

Nilai tukar rupiah kembali tertekan, nyaris menembus level psikologis 17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (20/1). Kondisi ini terjadi di tengah kegemilangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus mencetak rekor tertinggi baru atau all time high (ATH), sebuah situasi yang berbeda dari prediksi awal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah signifikan 47 poin di level 16.997 per dolar AS. Meskipun sempat bergerak menguat tipis dari level pembukaan ke 16.969 per dolar AS, namun hingga siang ini rupiah masih mencatatkan pelemahan 0,08% dibandingkan penutupan kemarin. Rupiah sendiri bukan satu-satunya mata uang di Asia yang merasakan tekanan terhadap dolar AS hari ini. Mata uang lain seperti won Korea Selatan melemah 0,24%, dolar Taiwan 0,25%, peso Filipina 0,04%, dan rupee India 0,12%. Sebaliknya, yen Jepang justru menguat 0,04%, yuan Cina 0,05%, ringgit Malaysia 0,02%, dan baht Thailand 0,35%.

Meskipun kurs rupiah masih lesu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap menunjukkan performa cemerlang. Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG kembali mencetak rekor tertinggi atau ATH intraday di level 9.174, sebelum akhirnya ditutup di level 9.155 atau menguat 0,24%. IHSG juga telah berhasil menembus level 9.100 untuk pertama kalinya pada penutupan perdagangan kemarin. Namun, kontras dengan optimisme pasar saham, kurs rupiah pada perdagangan kemarin justru ditutup melemah 0,4% ke level 16.955 per dolar AS.

Mengapa rupiah masih tertekan saat IHSG terbang tinggi?

Advertisements

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyatakan optimismenya terhadap kurs rupiah. Ia meyakini bahwa rupiah akan segera menguat, didorong oleh masuknya investor asing seiring dengan kinerja indeks yang mencetak rekor tertinggi. “IHSG All Time High, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga. Enggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu. Jadi, ini tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat, karena suplai dolar akan bertambah,” ujar Purbaya di Gedung DPR, Senin (19/1). Menurut Purbaya, pergerakan rupiah sangat bergantung pada fundamental ekonomi suatu negara, dan dalam konteks Indonesia, kinerja ekonomi diyakini bergerak resilien, yang salah satunya tercermin dari bursa saham.

Namun faktanya, data Bursa Efek Indonesia justru mencatat bahwa investor asing melakukan transaksi jual bersih atau net sell mencapai Rp 703 miliar pada perdagangan kemarin. Meski demikian, sepanjang tahun ini, investor asing masih mencatatkan beli bersih atau net buy yang cukup besar, mencapai Rp 6,59 triliun. Menariknya, sejak era pandemi Covid-19 pada tahun 2020, transaksi pasar modal di Indonesia mulai didominasi oleh investor domestik. Tahun lalu, kontribusi transaksi investor domestik mencapai 64% dari rata-rata transaksi harian di pasar modal, dan sepanjang awal tahun ini, angka tersebut bahkan meningkat menjadi 72% dari total transaksi harian.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjandra, berpendapat bahwa penguatan dolar terhadap rupiah justru dapat memunculkan persepsi bahwa harga saham di Indonesia menjadi relatif murah. Hal ini, menurut Ariston, berpotensi mendorong permintaan asing terhadap portofolio saham di dalam negeri, yang pada gilirannya dapat memicu kembali masuknya arus modal.

Efek Trump hingga Isu Thomas Djiwandono Masuk BI

Meski demikian, pergerakan kurs rupiah sejatinya dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah sentimen negatif dari eksternal. Pengamat pasar mata uang dan aset digital, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah saat ini, antara lain, dipicu oleh ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland. Selain itu, faktor eksternal lainnya seperti perkembangan pemanggilan Gubernur The Fed Jerome Powell oleh Kejaksaan Agung, spekulasi suku bunga The Fed, serta data terbaru Amerika Serikat mengenai ketenagakerjaan, turut memberikan tekanan pada rupiah. “Pelemahan rupiah memang karena banyak permasalahan yang sudah komplikasi, baik eksternal maupun internal,” ujar Ibrahim, Selasa (20/1).

Dari sisi internal, Ibrahim menambahkan bahwa pelaku pasar mengkhawatirkan kondisi defisit fiskal yang mendekati 3% terhadap PDB pada akhir tahun lalu. Investor khawatir tekanan terhadap penerimaan pajak masih akan berlanjut, berpotensi membuat defisit fiskal melebar. Sementara itu, terkait pencalonan Thomas Djiwandono sebagai calon deputi Bank Indonesia (BI), Ibrahim menilai hal tersebut memberikan pengaruh pada pelemahan rupiah, meski dampaknya tidak terlalu signifikan.

Namun, pandangan berbeda disampaikan Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana. Fikri menjelaskan bahwa masuknya nama Thomas Djiwandono dalam radar calon Deputi Gubernur BI justru menekan rupiah karena adanya kekhawatiran mengenai potensi gangguan terhadap independensi Bank Indonesia.

Menanggapi dugaan tersebut, Purbaya menampik bahwa melemahnya rupiah diakibatkan oleh wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dugaan tersebut muncul karena kekhawatiran akan gangguan terhadap independensi BI, mengingat salah seorang dewan gubernurnya diisi oleh mantan pejabat pemerintahan yang juga keponakan dari Presiden Prabowo. “Enggak ada yang aneh. Kalau independensi, enggak ada hubungannya, kecuali nanti pada waktu mengambil keputusan ada intervensi langsung dari pemerintah. Selama ini kan enggak ada, jadi BI independen,” kata Purbaya menegaskan.

Baca juga:

  • Asing Net Sell Rp 703 M saat IHSG Tembus 9.100, Ramai Lepas BBCA dan GOTO
  • Dolar AS Nyaris Tembus Rp 17.000, Ini Ramalan Purbaya soal Rupiah

Advertisements